Berawal
dari sebuah dialektika yang tidak pernah kuketahui, saya ditempatkan di ladang
imam state sime darby yang terletak di tawau, sabah malaysia Sekolah humana no.
118 mengajar anak buruh yang ditinggal orang tuanya, seorang anak yang
kurang mendapatkan perhatian, kasih
sayang dan seorang anak indonesia yang tidak tahu pendidikan itu apa dan untuk
apa, yang tidak tahu kampung halamannya, tapi saat ini mereka lapar dan haus
dengan itu semua.
Bernaung
dalam payung sekolah Humana adalah solusi untuk pendidikan mereka, identitas
negara adalah wajar jika tidak kita dapatkan disekolah ini, seragamnya bukanlah
putih merah tapi kuning hijau, walaupun demikian, jika engkau bertanya dimana
asalmu, mereka tetap menjawab bahwa mereka adalah anak indonesia dan bisa
engkau dapatkan dari dalam hatinya yang masih merah putih, gedung sekolah dari
dinding papan yang tersusun tak begitu rapi, kipas angin bantuan dari pihak
estate yang telah berusia senja, pintu dengan warna merah jambu yang berwarna
kusam penuh dengan debu, mengapa tidak, kendaraan state yang mengangkut kelapa
sawit melintas didepan sekolah yang tidak memiliki pagar, keluar masuk padahal
baru sebulan dicat,. Gedung sekolah ada 4 ruangan, 3 ruangan untuk proses
kegiatan pembelajaran dan satu ruangan untuk guru, 2 toilet, yang satu untuk
guru dan satunya lagi untuk murid, yang airnya tidak pernah berhenti karena
kran yang rusak, bukan lagi kloset yang tersumbat, Disini aku memiliki 2 sesi
waktu untuk bersenang-senang bersama mereka , dimana Awal pertemuan itu terjadi
pada pukul 07.30 untuk sesi pagi bagi
siswa tadika I (taman kanak-kanak), tadika II, dan darjah I (sekolah dasar
kelas I) sampai pada pukul 11.00 dan untuk pertemuan pada sesi kedua bagi darjah II, III,untuk darjah IV dan VI
ditempatkan dalam satu ruangan saja.
Jumlah
siswa keseluruhan yang mampu ditampung adalah 246 orang sampai bulan maret
2012, sekolah Humana no 118 ladang imam bombalai pada tahun ini hanya menampung
anak-anak usia sekolah untuk anak buruh yang bekerja di Sime Darby saja,
padahal masih banyak anak yang membutuhkan wadah untuk pendidikan disabah
malaysia ini.
***
Kabut
yang masih samar dan angkuh, menghiasi dinginnya embun yang perlahan menjadi
tiada, bias bias cahaya mentari menyelusup dalam setiap celah dedaunan, buruh
buruh ladang kelapa sawit yang sibuk dengan aktivitas kesehariannya, anak anak
sekolah yang sejak pukul 05.00 pagi buta yang duduk di pondok kecil menunggu
jemputannya, kendaraan ladang juga mulai sibuk dengan suara nyanyian dengan
nada yang tak beraturan, berurai deras sampai di telinga, sebuah aktivitas yang
baru dan pemandangan hidup yang akan menjadi rutinitas, tapi pandangan itu
berhenti, seorang gadis kecil yang kira kira usianya masih 4 tahun, rambutnya
lurus di urai hingga sebahu, dengan pita rambut berwarna pink, kulitnya kuning
langsat, duduk di pondok kecil sambil mengayungkan sepatunya yang berwarna
kemerahan walaupun dasarnya adalah putih, itu karena tanah disini yang terlalu
gersang, dan jika hujan akan menjadi lumpur, gadis kecil itu sepertinya masih
tingkat TK, ditinggal orang tuanya didepan sekolah yang belum terbuka karena
harus bekerja.
“sudah lama datang sayang yah.??”
Sapa seorang guru yang baru saja akan memulai aktivitas mengajarnya hari ini,
bertubuh sedang dengan kemeja biru lengan panjang yang dilipat hingga siku,
rambut lurus dan tertata tak begitu rapi, dia Cuma tersenyum, sambil sekali
sekali melirik ke arah guru itu dan mengigit bibir kecilnya, “nama kamu siapa
sayang??” dengan suara pelan dan menunduk menutup mata yang tersipu malu,
“Ros.. hmmm” jawabnya singkat sekali tapi senyumnya masih melebar, lucu dan
menggemaskan wajah anak itu, dia langsung berdiri dan berlari ke temannya yang
baru saja datang, dan siap untuk bermain
sebelm bel masuk belajar dibunyikan,
Tidak
lama berselang matahari semakin menampakkan dirinya, disela sela dedaunan
sawit, bias merah itu terasa hangat, apalagi rumput hijau yang ada dibelakang
sekolah yang masih enggan melepas butir butir embun yang jatuh diujung
dedaunan, jam pertama pelajaran telah dimulai, guru masuk kelas, dan hari ini
ditadika 1 setingkat taman kanak kanak O kecil, “selamat pagi anak anak, apa kabar
semuanya sayang” “pagi... cikguuuu..” dengan keras dan kompak siswa siswa kecil
itu menjawab, karena pertama kali mengajar guru itu memprkenalkan dirinya,
mulai nama, umur dan semua tentang dirinya hingga sampai statusnya yang belum
menikah, walau sebenarnya anak anak TK itu tidak pernah bertanya dan bahkan
tidak mau tau tentang statusnya “hari ini kita akan belajar memperkenalkan diri
sayang yah”
Satu
persatu anak anak kecil yang penuh dengan semangat belajar itu memperkenalkan
diri, tibalah giliran gadis kecil yang datang di pagi buta itu, dia sangat
pemalu, karena sejak tadi belum bicara apapun, “nama kamu siapa sayang??” gadis
kecil itu masih tersenyum, dan suaranya tiba tiba keluar dengan lirih dan
perlahan, “nama saya rosyana.” Suaranya lebih besar dari sebelumnya dan lebih
percaya diri, dia merasa memiliki suasananya sekarang,. “tinggal di bombalai“
dia semakin semangat, memprkenalkan dirinya sambil memegang dan memutar mutar
kaki bajunya, “umur kamu berapa sayang??”gadis itu diam sejenak “eehhmm dulu 6
cikgu tapi sekarang sudah 4” gurunya terdiam mendengar jawaban murid kecilnya
sambil tersenyum, “kenapa bisa sayang??” gadis kecil itu mulai lagi bercerita,
dan menjawab pertanyaan guru barunya itu, “kata mama semakin lama kita hidup
maka umur kita semakin berkurang cikgu” guru baru itu Cuma mengangguk dan
tersenyum mendengar jawaban muridnya.. “owwhh gitu, ehmm ok, silahkan turun
sayang ya..”
Gadis kecil itu tiba tiba diam dan
seakan menyimpan kata yang ingin disampaikan, karena melihat ada yang aneh,
gurunya kembali memanggilnya, “kamu kenapa sayang..??” anak itu menatap
gurunya, dengan suara pelan tapi sangat jelas, “cikgu lanji (piktor), panggil
sayang terus..” sambil tersenyum gurunya mendekati gadis kecilnya yang mulai
risih itu, dipegang kedua tangannya, “guru itu mesti sayang muridnya, dan murid
itu sayang gurunya..” owhh begitu, aku sangka seperti yang kk’ku sering cakap
sama boy nya (pacar)..hehhe” dia kembali ketempat duduknya sambil tertawa
sendiri karena temannya yang lain sudah sibuk dengan makanan bekal mereka, yang
dari tadi menunggu aba aba saatnya istirahat... kita tidak bisa pungkiri
kebiasaan kebiasaan itu membuat kita menjadi orang yang lugu dan tidak tau apa
apa, gadis kecil di pondok kecil itu
tidak akan pernah menyadari bahwa kata dan senyumnya telah memberikan sentuhan
pertama yang indah, sapaan dengan kata yang penuh kelembutan, menjadikan
semuanya lebih dekat, menghangatkan setiap dekapan, semangat dan senyumannya
saat itu telah menitipkan secawan inspirasi dan seikat ilmu baru untuk guru
baru.
***
panas
terik matahari seakan mengubah cara pandang kita hari ini berbeda, ketika butir
butir keringat yang jatuh membasahi kelopak mata, siluet warna cahaya itu
seakan membuat daya pandang menjadi rabun, debu debu masih menari di atas jalan
yang masih tak beraspal, menambah kusamnya suasana siang itu, tapi sosok anak
kecil yang berjalan beriringan saling dorong dan menarik baju, siang itu kedua anak kembar, dengan satu sosok yang
sama, Anak kembar yang dikenal selalu kompak, sama dan identik satu dengan yang
lain,apa lagi duduk dikelas yang sama, dan duduk dalam satu bangku, mereka
selalu bersama, hingga sulit untuk dibedakan, membedakan mereka butuh
ketelitian, mengumpulkan sederetan ingatan tetang dirinya, namanya rosyam dan ramsyah,
mereka duduk di darjah 4, di indonesia setara dengan kelas empat, sampai
sekarang saya tidak bisa membedakannya dengan langsung, aku butuh waktu sekian
menit untuk bisa memutuskan yang mana ade’ dan yang mana abang. sepenggal
senyumnya yang terselip di bibir bibir merekapun seakan utuh jika disatukan,
potongan rambut dan tatanannya yang seakan berdiri sejajar dan simetris ketika
mereka berdampingan.
Pernah
sekali aku bertanya pada mereka, yang membuat kalian berbeda itu apa,
"fasion rambutnya, dan muka, cikgu,” “mank kenapa dengan muka kalian”,
“kalau ade’ banyak jerawatnya, kalau aku tidak ada”. Jawab abang dengan senyum
khasnya. Walaupun mereka kembar ternyata sering juga bertengkar, abang memiliki
karakter lebih aktif dalam berkomunikasi, senang dengan ilmu matematika dan
sains tapi dalam hal kreatifitas dia tidak mampu, sedangkan ade' lebih pendiam
dan sangat tidak suka dengan ilmu matematika, tapi senang dengan ilmu seni,
seperti melukis, dan menyanyi, pernah saat ada pelajaran matematika ade' hanya
menulis angka angka yang tidak jelas, kemudian dihiasi dengan kaligrafi
kaligrafi di sisi sisinya, pernah juga dia hanya menggambar coretan coretan
yang menjadi kertas itu menjadi rimbun, padahal sebelum kertas cakaran itu
dibagi, sudah di instruksikan bahwa kertas itu bukan untuk melukis. lain lagi
dengan abang, saat disuruh melukis, lebih panjang tulisan judulnya daripada isi
gambarnya, katanya supaya lebih berisi, sebuah sketsa yang selalu menjadi
rutinitas mereka berdua saling mengisi, saling memenuhi satu dengan yang
lain.
setiap
pagi sebelum masuk kelas murid murid biasanya bermain di lapangan belakang
sekolah, saling kejar, dengan suara dan senyuman semangat yang tidak pernah
mati, mereka masih berlari, hingga kerikil kerikil kecil seakan tanpa sayarat
selalu siap menahan laju anak itu, walau darah segar itu mengalir, dia tetap
bangun dan kembali bermain tidak peduli yang terjadi, sebagian lagi anak
bermain bola, permainan yang disenangi di dunia, entah serunya dimana, enaknya
dimana, letak pemandangan indahnya
terletak dibagian sisi mana dalam permainan bola ini, satu bola yang
diperebutkan puluhan orang dilapangan, hingga seakan anak yang baru berdiri
saja sudah doyan nendang bola,
mereka si kembarpun sama
sudah menikmati permainan bola ini memang sedari kecil, pernah suatu ketika
waktu mereka main bola, dan satu team, yang dimana dalam permainan bola itu
dikenal dengan kerja sama team, saling mengumpan, membagi, dan membagi ruang
kepada kawan, dalam hal menyerang dan bertahan, tapi abang yang dikenal dengan
kocekan dan banyak skill seperti ronaldo, apa lagi gayanya yang coll yang
selalu diminati sama perempuan, sebelum bermain bola selalu memperhatikan
penampilannya, jersey, sepatu, dan yang paling penting menurutnya adalah
tatanan rambut yang di usahakan tidak rusak, saat mengiring bolapun sangat hati
hati membagi bola walau posisinya adalah striker, sama dengan ade'nya, tapi
saat itu abang tidak pernah mau membagi bola kepada ade’nya, beberapa peluang
terjadi, ade’ berlari kencang dari
belakang siap menerima operan tapi abang malah melakukan sooting jarak jauh,
ade’ yang geram dengan cara main abang mendatanginya, “kenapa kamu dari tadi
tidak mau membagi bola sama saya?” “kamu itu kalau dibagi bola 2
kemungkinannya, bola dikakimu selalu saja direbut sama lawan, kalaupun bisa
melewati lawan pasti salah oper,” sejak itu ad’ berlatih bola dengan lebih
rajin, dan saat melawan team abang dia berhasil menang dengan skor satu kosong.
ade sangat bahagia, dan abangpun memberikan selamat kepada adiknya itu. dalam
sebuah ikatan terkadang memberikan sebuah lukisan tersendiri dalam kehidupan
mereka, dengan warna yang berbeda, cita dan cinta merekapun berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar