Assalamualaikum..

Semoga keberadaan blog ini membawa manfaat untuk semua pihak. Jangan pernah lelah untuk mengukir prestasi, jangan pernah lelah untuk bermanfaat untuk sekitar, serta tetap sabar, syukur, dan ikhlas. Aamiin.

Rabu, 07 September 2016

Sekelumit Cerita Bombalai Bu Yeli dan Pa Hendra

Berawal dari sebuah dialektika yang tidak pernah kuketahui, saya ditempatkan di ladang imam state sime darby yang terletak di tawau, sabah malaysia Sekolah humana no. 118 mengajar anak buruh yang ditinggal orang tuanya, seorang anak yang kurang  mendapatkan perhatian, kasih sayang dan seorang anak indonesia yang tidak tahu pendidikan itu apa dan untuk apa, yang tidak tahu kampung halamannya, tapi saat ini mereka lapar dan haus dengan itu semua.
Bernaung dalam payung sekolah Humana adalah solusi untuk pendidikan mereka, identitas negara adalah wajar jika tidak kita dapatkan disekolah ini, seragamnya bukanlah putih merah tapi kuning hijau, walaupun demikian, jika engkau bertanya dimana asalmu, mereka tetap menjawab bahwa mereka adalah anak indonesia dan bisa engkau dapatkan dari dalam hatinya yang masih merah putih, gedung sekolah dari dinding papan yang tersusun tak begitu rapi, kipas angin bantuan dari pihak estate yang telah berusia senja, pintu dengan warna merah jambu yang berwarna kusam penuh dengan debu, mengapa tidak, kendaraan state yang mengangkut kelapa sawit melintas didepan sekolah yang tidak memiliki pagar, keluar masuk padahal baru sebulan dicat,. Gedung sekolah ada 4 ruangan, 3 ruangan untuk proses kegiatan pembelajaran dan satu ruangan untuk guru, 2 toilet, yang satu untuk guru dan satunya lagi untuk murid, yang airnya tidak pernah berhenti karena kran yang rusak, bukan lagi kloset yang tersumbat, Disini aku memiliki 2 sesi waktu untuk bersenang-senang bersama mereka , dimana Awal pertemuan itu terjadi pada pukul 07.30  untuk sesi pagi bagi siswa tadika I (taman kanak-kanak), tadika II, dan darjah I (sekolah dasar kelas I) sampai pada pukul 11.00 dan untuk pertemuan pada sesi kedua  bagi darjah II, III,untuk darjah IV dan VI ditempatkan dalam satu ruangan saja.
Jumlah siswa keseluruhan yang mampu ditampung adalah 246 orang sampai bulan maret 2012, sekolah Humana no 118 ladang imam bombalai pada tahun ini hanya menampung anak-anak usia sekolah untuk anak buruh yang bekerja di Sime Darby saja, padahal masih banyak anak yang membutuhkan wadah untuk pendidikan disabah malaysia ini.
                                                            ***
Kabut yang masih samar dan angkuh, menghiasi dinginnya embun yang perlahan menjadi tiada, bias bias cahaya mentari menyelusup dalam setiap celah dedaunan, buruh buruh ladang kelapa sawit yang sibuk dengan aktivitas kesehariannya, anak anak sekolah yang sejak pukul 05.00 pagi buta yang duduk di pondok kecil menunggu jemputannya, kendaraan ladang juga mulai sibuk dengan suara nyanyian dengan nada yang tak beraturan, berurai deras sampai di telinga, sebuah aktivitas yang baru dan pemandangan hidup yang akan menjadi rutinitas, tapi pandangan itu berhenti, seorang gadis kecil yang kira kira usianya masih 4 tahun, rambutnya lurus di urai hingga sebahu, dengan pita rambut berwarna pink, kulitnya kuning langsat, duduk di pondok kecil sambil mengayungkan sepatunya yang berwarna kemerahan walaupun dasarnya adalah putih, itu karena tanah disini yang terlalu gersang, dan jika hujan akan menjadi lumpur, gadis kecil itu sepertinya masih tingkat TK, ditinggal orang tuanya didepan sekolah yang belum terbuka karena harus bekerja.
            “sudah lama datang sayang yah.??” Sapa seorang guru yang baru saja akan memulai aktivitas mengajarnya hari ini, bertubuh sedang dengan kemeja biru lengan panjang yang dilipat hingga siku, rambut lurus dan tertata tak begitu rapi, dia Cuma tersenyum, sambil sekali sekali melirik ke arah guru itu dan mengigit bibir kecilnya, “nama kamu siapa sayang??” dengan suara pelan dan menunduk menutup mata yang tersipu malu, “Ros.. hmmm” jawabnya singkat sekali tapi senyumnya masih melebar, lucu dan menggemaskan wajah anak itu, dia langsung berdiri dan berlari ke temannya yang baru saja datang,  dan siap untuk bermain sebelm bel masuk belajar dibunyikan,
Tidak lama berselang matahari semakin menampakkan dirinya, disela sela dedaunan sawit, bias merah itu terasa hangat, apalagi rumput hijau yang ada dibelakang sekolah yang masih enggan melepas butir butir embun yang jatuh diujung dedaunan, jam pertama pelajaran telah dimulai, guru masuk kelas, dan hari ini ditadika 1 setingkat taman kanak kanak O kecil, “selamat pagi anak anak, apa kabar semuanya sayang” “pagi... cikguuuu..” dengan keras dan kompak siswa siswa kecil itu menjawab, karena pertama kali mengajar guru itu memprkenalkan dirinya, mulai nama, umur dan semua tentang dirinya hingga sampai statusnya yang belum menikah, walau sebenarnya anak anak TK itu tidak pernah bertanya dan bahkan tidak mau tau tentang statusnya “hari ini kita akan belajar memperkenalkan diri sayang yah”
Satu persatu anak anak kecil yang penuh dengan semangat belajar itu memperkenalkan diri, tibalah giliran gadis kecil yang datang di pagi buta itu, dia sangat pemalu, karena sejak tadi belum bicara apapun, “nama kamu siapa sayang??” gadis kecil itu masih tersenyum, dan suaranya tiba tiba keluar dengan lirih dan perlahan, “nama saya rosyana.” Suaranya lebih besar dari sebelumnya dan lebih percaya diri, dia merasa memiliki suasananya sekarang,. “tinggal di bombalai“ dia semakin semangat, memprkenalkan dirinya sambil memegang dan memutar mutar kaki bajunya, “umur kamu berapa sayang??”gadis itu diam sejenak “eehhmm dulu 6 cikgu tapi sekarang sudah 4” gurunya terdiam mendengar jawaban murid kecilnya sambil tersenyum, “kenapa bisa sayang??” gadis kecil itu mulai lagi bercerita, dan menjawab pertanyaan guru barunya itu, “kata mama semakin lama kita hidup maka umur kita semakin berkurang cikgu” guru baru itu Cuma mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban muridnya.. “owwhh gitu, ehmm ok, silahkan turun sayang ya..”
            Gadis kecil itu tiba tiba diam dan seakan menyimpan kata yang ingin disampaikan, karena melihat ada yang aneh, gurunya kembali memanggilnya, “kamu kenapa sayang..??” anak itu menatap gurunya, dengan suara pelan tapi sangat jelas, “cikgu lanji (piktor), panggil sayang terus..” sambil tersenyum gurunya mendekati gadis kecilnya yang mulai risih itu, dipegang kedua tangannya, “guru itu mesti sayang muridnya, dan murid itu sayang gurunya..” owhh begitu, aku sangka seperti yang kk’ku sering cakap sama boy nya (pacar)..hehhe” dia kembali ketempat duduknya sambil tertawa sendiri karena temannya yang lain sudah sibuk dengan makanan bekal mereka, yang dari tadi menunggu aba aba saatnya istirahat... kita tidak bisa pungkiri kebiasaan kebiasaan itu membuat kita menjadi orang yang lugu dan tidak tau apa apa,  gadis kecil di pondok kecil itu tidak akan pernah menyadari bahwa kata dan senyumnya telah memberikan sentuhan pertama yang indah, sapaan dengan kata yang penuh kelembutan, menjadikan semuanya lebih dekat, menghangatkan setiap dekapan, semangat dan senyumannya saat itu telah menitipkan secawan inspirasi dan seikat ilmu baru untuk guru baru.

                                                                        ***
panas terik matahari seakan mengubah cara pandang kita hari ini berbeda, ketika butir butir keringat yang jatuh membasahi kelopak mata, siluet warna cahaya itu seakan membuat daya pandang menjadi rabun, debu debu masih menari di atas jalan yang masih tak beraspal, menambah kusamnya suasana siang itu, tapi sosok anak kecil yang berjalan beriringan saling dorong dan menarik baju, siang itu  kedua anak kembar, dengan satu sosok yang sama, Anak kembar yang dikenal selalu kompak, sama dan identik satu dengan yang lain,apa lagi duduk dikelas yang sama, dan duduk dalam satu bangku, mereka selalu bersama, hingga sulit untuk dibedakan, membedakan mereka butuh ketelitian, mengumpulkan sederetan ingatan tetang dirinya, namanya rosyam dan ramsyah, mereka duduk di darjah 4, di indonesia setara dengan kelas empat, sampai sekarang saya tidak bisa membedakannya dengan langsung, aku butuh waktu sekian menit untuk bisa memutuskan yang mana ade’ dan yang mana abang. sepenggal senyumnya yang terselip di bibir bibir merekapun seakan utuh jika disatukan, potongan rambut dan tatanannya yang seakan berdiri sejajar dan simetris ketika mereka berdampingan.
Pernah sekali aku bertanya pada mereka, yang membuat kalian berbeda itu apa, "fasion rambutnya, dan muka, cikgu,” “mank kenapa dengan muka kalian”, “kalau ade’ banyak jerawatnya, kalau aku tidak ada”. Jawab abang dengan senyum khasnya. Walaupun mereka kembar ternyata sering juga bertengkar, abang memiliki karakter lebih aktif dalam berkomunikasi, senang dengan ilmu matematika dan sains tapi dalam hal kreatifitas dia tidak mampu, sedangkan ade' lebih pendiam dan sangat tidak suka dengan ilmu matematika, tapi senang dengan ilmu seni, seperti melukis, dan menyanyi, pernah saat ada pelajaran matematika ade' hanya menulis angka angka yang tidak jelas, kemudian dihiasi dengan kaligrafi kaligrafi di sisi sisinya, pernah juga dia hanya menggambar coretan coretan yang menjadi kertas itu menjadi rimbun, padahal sebelum kertas cakaran itu dibagi, sudah di instruksikan bahwa kertas itu bukan untuk melukis. lain lagi dengan abang, saat disuruh melukis, lebih panjang tulisan judulnya daripada isi gambarnya, katanya supaya lebih berisi, sebuah sketsa yang selalu menjadi rutinitas mereka berdua saling mengisi, saling memenuhi satu dengan yang lain. 
setiap pagi sebelum masuk kelas murid murid biasanya bermain di lapangan belakang sekolah, saling kejar, dengan suara dan senyuman semangat yang tidak pernah mati, mereka masih berlari, hingga kerikil kerikil kecil seakan tanpa sayarat selalu siap menahan laju anak itu, walau darah segar itu mengalir, dia tetap bangun dan kembali bermain tidak peduli yang terjadi, sebagian lagi anak bermain bola, permainan yang disenangi di dunia, entah serunya dimana, enaknya dimana, letak pemandangan indahnya  terletak dibagian sisi mana dalam permainan bola ini, satu bola yang diperebutkan puluhan orang dilapangan, hingga seakan anak yang baru berdiri saja sudah doyan nendang bola,
mereka si kembarpun sama sudah menikmati permainan bola ini memang sedari kecil, pernah suatu ketika waktu mereka main bola, dan satu team, yang dimana dalam permainan bola itu dikenal dengan kerja sama team, saling mengumpan, membagi, dan membagi ruang kepada kawan, dalam hal menyerang dan bertahan, tapi abang yang dikenal dengan kocekan dan banyak skill seperti ronaldo, apa lagi gayanya yang coll yang selalu diminati sama perempuan, sebelum bermain bola selalu memperhatikan penampilannya, jersey, sepatu, dan yang paling penting menurutnya adalah tatanan rambut yang di usahakan tidak rusak, saat mengiring bolapun sangat hati hati membagi bola walau posisinya adalah striker, sama dengan ade'nya, tapi saat itu abang tidak pernah mau membagi bola kepada ade’nya, beberapa peluang terjadi,  ade’ berlari kencang dari belakang siap menerima operan tapi abang malah melakukan sooting jarak jauh, ade’ yang geram dengan cara main abang mendatanginya, “kenapa kamu dari tadi tidak mau membagi bola sama saya?” “kamu itu kalau dibagi bola 2 kemungkinannya, bola dikakimu selalu saja direbut sama lawan, kalaupun bisa melewati lawan pasti salah oper,” sejak itu ad’ berlatih bola dengan lebih rajin, dan saat melawan team abang dia berhasil menang dengan skor satu kosong. ade sangat bahagia, dan abangpun memberikan selamat kepada adiknya itu. dalam sebuah ikatan terkadang memberikan sebuah lukisan tersendiri dalam kehidupan mereka, dengan warna yang berbeda, cita dan cinta merekapun berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar