Assalamualaikum..

Semoga keberadaan blog ini membawa manfaat untuk semua pihak. Jangan pernah lelah untuk mengukir prestasi, jangan pernah lelah untuk bermanfaat untuk sekitar, serta tetap sabar, syukur, dan ikhlas. Aamiin.

Rabu, 07 September 2016

CLC Bombalai, Tawau, Sabah, Malaysia

Community Learning Center (CLC) Bombalai baru berdiri sendiri sejak bulan juni 2013. Sebelumnya Bombalai merupakan Tempat Kegiatan Belajar (TKB) atau sub-CLC Merotai. Karena CLC yang baru berdiri, maka wajar jika sekolah kami belum begitu lengkap dari sarana dan prasarana.
            Bangunan sekolah CLC Bombalai sebenarnya bangunan lama yang saat ini masih ditempati oleh Sekolah Humana. Dari pihak company Humana akan dibangunkan sebuah bangunan sekolah baru, yang lengkap dengan fasilitasnya. Akan tetapi pembangunan bangunan baru tersebut sangat lama, dan seperti tidak selesai-selesai. Sehingga dampaknya CLC Bombalai seperti seolah-olah tidak memiliki bangunan sekolah tempat belajar. Tapi kami tidak putus asa, kami tetap masih terus belajar, langit sebagai atap kami, dan tanah sebagai lantai kami. Kami terus belajar dimanapun dan kapanpun kami bisa, dibawah pohon, dirumah, dipelataran sekolah, di pondok, dan bahkan di lingkungan sekitar.
            Perbedaan CLC dengan Sekolah Humana terletak pada tingkatannya. Sekolah Humana Setara dengan TK dan SD, sedangkan CLC Bombalai setara dengan SMP. Selain itu, kurikulum Sekolah Humana menggunakan kurikulum Malaysia, sedangkan kurikulum CLC menggunakan kurikulum Indonesia. Keuangan CLC ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia. Siswa CLC tidak dipungut bayaran sedikitpun. Semua fasilitas yang diberikan di CLC gratis diberikan pemerintah Indonesia untuk siswa-siswi berkewarganegaraan Indonesia.
            Jika di Indonesia, CLC setara dengan SMP Terbuka. Secara teori memang pelaksanaan pembelajaran CLC tidak full day seperti SMP Reguler pada umumnya. Akan tetapi kami selalu mengusahakan agar pelaksanaan pembelajaran terus dilaksanakan mendekati pelaksanaan pembelajaran secara regular, mengingat daya tangkap dan tingkat pemahaman siswa di Sabah masih kurang.
            Banyak pengetahuan dasar siswa dalam setiap keilmuan masih sangat dirasakan jauh dari standar. Sehingga kami terus bekerja sama dengan semua guru, agar siswa-siswi kami dapat setara dengan siswa-siswi pada umumnya yang ada di Indonesia.
            Pendaftaran di CLC dimulai dengan pelaksanaan paket A (Ujian Kesetaraan). Siswa yang sudah lulus paket A, bisa langsung mendaftar sebagai siswa di CLC dengan melengkapi  beberapa persyaratan seperti pengisian formulir, pas foto, dan sebagainya.
            Akan tetapi terkadang hasil ujian paket A tersebut sangat lama, bahkan lebih dari setahun, ijazahnya masih ada. Selain itu, terkadang beberapa siswa yang sudah lulus paket A, harus bekerja, sehingga kami mengalami kesulitan untuk menemui dan mengajak kembali untuk belajar di sekolah.
            Kegiatan CLC tidak hanya mengenai belajar dan mengajar, akan tetapi banyak kegiatan ekstrakurikuler, dan pelaksanaan perlombaan CLC se-Sabah Malaysia. Setiap tahun siswa-siswi terbaik pilihan setiap CLC akan bertanding, baik untuk cabang olahraga, keilmuan (cerdas-cermat), softskill, seni dan lain sebagainya.
            Setelah 3 tahun menjalani kegiatan pembelajaran di CLC, siswa-siswi pun akan mengikuti Ujian Nasional (UN). Alhamdulilah 98% murid kami lulus dalam UN Tahun 2013. Walaupun masih ada yang belum lulus, pemerintah masih memberikan fasilitas untuk mengikuti Ujian Paket B (Ujian Kesetaraan).
            Siswa-siswi yang sudah lulus UN SMP pun kami bantu untuk mendaftar ke Sekolah Menengah Pertama (SMA/SMK). Sekitar 18 orang siswa kami sudah melanjutkan sekolah di SMK Mutiara Bangsa di Sebatik.
            Letak pulau sebatik memang sangat strategis untuk kami gunakan sebagai tempat siswa melanjutkan sekolah. Anak-anak TKI yang sudah tidak bisa melanjutkan sekolah di Sekolah Kerajaan (SK) Malaysia memang cukup cocok jika kami lanjutkan di SMK Mutiara Bangsa yang lokasinya relatif dekat dan terjangkau.
            Melintas batas dua Negara bukan merupakan hal yang mudah, terutama bagi warga Negara yang tidak memiliki dokumen. Siswa CLC lahir dari orang tua yang sebagian besar tidak memiliki dokumen (paspor). Orang tua mereka tidak memiliki paspor, menikah tanpa ada surat nikah, dan anak-anak pun lahir tanpa surat lahir, sehingga anak-anak pun sama seperti orang tuanya tidak memiliki paspor.
            Hal tersebut tidak mengurungkan niat kami untuk dapat memberikan layanan pendidikan, kami terus berusaha agar siswa-siswi tersebut dapat terus bersekolah dan melanjutkan sekolah walaupun tanpa ada dokumen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar