|
|
|
|
|
|
|
|
Siswa – Siswi Humana 118
Pusat Bimbingan Humana 118 Bombalai Sime Darby secara geografis
terletak disebelah utara kampung Burut, sebelah barat berbatasan dengan kampung
Pitas, sebelah selatan berbatasan dengan kampug Indah, dan sebelah timur
berbatasan dengan kampung Table. Sekolah Humana yang didirikan di Bombalai
memang sangat strategis, mewadahi banyak perkampungan disekitarnya adapun
nama-nama perkampungan yang ada disekitar sekolah Humana adalah
kampung Indah, kampung Mutiara, kampung Sungai Imam, kampung Mawar, kampung
Pitas, kampung Beruang, kampung Tawar, kampung Table, dan kampung Arongan
hingga kampung Jambatan Putih, dan ada juga perkampungan yang tidak tercatat
dalam administrasi distrik tawau, seperti kampung Jembatan I, Jembatan II, dan
Pangkalan. Perkampungan
ini dibuat oleh masyarakat pendatang yang lahannya berasal dari hutan bakau
dipinggir sungai yang tidak ada
pemiliknya.
***
|
|
|
|
|
|
|
|
Kampung Jembatan I dan
II
Kampung Jembatan I dan Jembatan
II adalah dua nama kampung yang ada di Bombalai. Kampung tersebut dinamakan
kampung Jembatan karena memang mereka tinggal di atas Jembatan, Jembatan sungai
yang airnya masih ada. Banyak TKI kita yang tinggal disana, termasuk
siswa-siswi Humana House 118 Bombalai. Mereka harus siap dan sabar ketika air
laut pasang. Mereka mandi dan mencuci di sungai itu. Pasokan air bersih untuk
minum datang setiap 1 bulan sekali. Itupun jika lancar, kadang jika pasokan air
bersih tidak ada, mereka akan minum air hujan yang ditadah, jika musim kemarau,
maka air sungai itu juga yang mereka minum. Memang jauh dari kebersihan dan
standar yang seharusnya. Rumah mereka berdempetan, berukuran kecil, tidak ada
ventilasi yang cukup, pengap. Dibawah rumah mereka merupakan sungai yang
ditumbuhi oleh pohon-pohon bakau tua dan mulai membusuk, karena bakau tersebut
mulai teracuni oleh detergen yang digunakan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mencuci
dan mandi, sehingga bakau tersebut hanya tinggal batang-batangnya saja yang
runcing, yang terus digenangi oleh air sungai.
Para
TKI kita memang akan terus bertahan hidup di kampung itu. Karena di kampung
itulah para TKI kita merasa aman dari checking
polisi yang memeriksa dokumen mereka, seperti paspor dan sebagainya. Kampung
itu cukup jauh dari kampung bombalai, tempat para TKI melepas lelah yang
relatif aman untuk ditinggali.
Jika
ada checking polisi di sekitar
lingkungan kami, para TKI akan berlari, kabur, supaya mereka tidak tertangkap.
Mereka tidak peduli sakitnya batang bakau yang harus mereka lewati, demi
mengamankan diri.
***
|
|
|
|
|
|
|
|
Kegiatan Humana 118 Bombalai
Kabut
yang masih samar dan angkuh, menghiasi dinginnya embun yang perlahan menjadi
tiada, bias-bias
cahaya mentari menyelusup dalam setiap celah dedaunan, buruh buruh ladang
kelapa sawit yang sibuk dengan aktivitas kesehariannya, anak anak sekolah yang
sejak pukul 05.00 pagi buta yang duduk di pondok kecil menunggu jemputannya,
kendaraan ladang juga mulai sibuk dengan suara nyanyian dengan nada yang tak
beraturan, berurai deras sampai di telinga, sebuah aktivitas yang baru dan
pemandangan hidup yang akan menjadi rutinitas. Orang
tua siswa sudah masuk bekerja sejak pukul 05.00 pagi hari, sehingga jam 05.30
sudah banyak siswa yang sampai di sekolah. Begitulah rutinitas sekolah Humana
yang dimulai sejak pagi hari dan berakhir sampai sore hari.
Pendidikan
merupakan hak setiap warga Negara, di pelosok sekalipun. Kami akan terus
berusaha memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak TKI yang ada di
setiap wilayah Sabah ini. Bernaung
dalam payung sekolah Humana adalah solusi untuk pendidikan mereka, identitas
negara adalah wajar jika tidak kita dapatkan disekolah ini, seragamnya bukanlah
putih merah tapi kuning hijau, walaupun demikian, jika engkau bertanya dimana
asalmu, mereka tetap menjawab bahwa mereka adalah anak Indonesia dan bisa
engkau dapatkan dari dalam hatinya yang masih merah putih, gedung sekolah dari
dinding papan yang tersusun tak begitu rapi, kipas angin bantuan dari pihak
estate yang telah berusia senja, pintu dengan warna merah jambu yang berwarna
kusam penuh dengan debu, mengapa tidak, kendaraan state yang mengangkut kelapa
sawit melintas didepan sekolah yang tidak memiliki pagar, keluar masuk padahal
baru sebulan dicat. Gedung sekolah ada 4 ruangan, 3 ruangan untuk proses
kegiatan pembelajaran dan 1
ruangan untuk guru, 2 toilet, yang satu untuk guru dan satunya lagi untuk
murid, yang airnya tidak pernah berhenti karena kran yang rusak, ditambah lagi kloset yang tersumbat dan
rusak sehingga menimbulkan aroma bau busuk di toilet itu. Disini saya memiliki 2 sesi waktu
untuk bersenang-senang bersama mereka, belajar
bersama, dimana awal pertemuan itu terjadi pada
pukul 07.30 untuk sesi pagi bagi siswa
tadika I (taman kanak-kanak), tadika II, dan darjah I (sekolah dasar kelas I)
sampai pada pukul 11.00 dan untuk pertemuan pada sesi kedua bagi darjah II, III,untuk darjah IV dan VI
ditempatkan dalam satu ruangan saja.
Jumlah
siswa keseluruhan yang mampu ditampung adalah 276 orang sampai bulan September 2013, sekolah Humana 118 Ladang
Imam
Bombalai pada tahun ini hanya menampung anak-anak usia sekolah untuk anak buruh
yang bekerja di Sime Darby saja, padahal masih banyak anak yang membutuhkan
wadah untuk pendidikan di Sabah
Malaysia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar