Assalamualaikum..

Semoga keberadaan blog ini membawa manfaat untuk semua pihak. Jangan pernah lelah untuk mengukir prestasi, jangan pernah lelah untuk bermanfaat untuk sekitar, serta tetap sabar, syukur, dan ikhlas. Aamiin.

Rabu, 07 September 2016

Humana House 118 Bombalai, Tawau, Sabah, Malaysia


Siswa – Siswi Humana 118

Pusat Bimbingan Humana 118 Bombalai Sime Darby secara geografis terletak disebelah utara kampung Burut, sebelah barat berbatasan dengan kampung Pitas, sebelah selatan berbatasan dengan kampug Indah, dan sebelah timur berbatasan dengan kampung Table. Sekolah Humana yang didirikan di Bombalai memang sangat strategis, mewadahi banyak perkampungan disekitarnya adapun nama-nama perkampungan yang ada disekitar sekolah Humana adalah kampung Indah, kampung Mutiara, kampung Sungai Imam, kampung Mawar, kampung Pitas, kampung Beruang, kampung Tawar, kampung Table, dan kampung Arongan hingga kampung Jambatan Putih, dan ada juga perkampungan yang tidak tercatat dalam administrasi distrik tawau, seperti kampung Jembatan I, Jembatan II, dan Pangkalan. Perkampungan ini dibuat oleh masyarakat pendatang yang lahannya berasal dari hutan bakau dipinggir sungai yang tidak ada pemiliknya.




***
Kampung Jembatan I dan II

Kampung Jembatan I dan Jembatan II adalah dua nama kampung yang ada di Bombalai. Kampung tersebut dinamakan kampung Jembatan karena memang mereka tinggal di atas Jembatan, Jembatan sungai yang airnya masih ada. Banyak TKI kita yang tinggal disana, termasuk siswa-siswi Humana House 118 Bombalai. Mereka harus siap dan sabar ketika air laut pasang. Mereka mandi dan mencuci di sungai itu. Pasokan air bersih untuk minum datang setiap 1 bulan sekali. Itupun jika lancar, kadang jika pasokan air bersih tidak ada, mereka akan minum air hujan yang ditadah, jika musim kemarau, maka air sungai itu juga yang mereka minum. Memang jauh dari kebersihan dan standar yang seharusnya. Rumah mereka berdempetan, berukuran kecil, tidak ada ventilasi yang cukup, pengap. Dibawah rumah mereka merupakan sungai yang ditumbuhi oleh pohon-pohon bakau tua dan mulai membusuk, karena bakau tersebut mulai teracuni oleh detergen yang digunakan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mencuci dan mandi, sehingga bakau tersebut hanya tinggal batang-batangnya saja yang runcing, yang terus digenangi oleh air sungai.
            Para TKI kita memang akan terus bertahan hidup di kampung itu. Karena di kampung itulah para TKI kita merasa aman dari checking polisi yang memeriksa dokumen mereka, seperti paspor dan sebagainya. Kampung itu cukup jauh dari kampung bombalai, tempat para TKI melepas lelah yang relatif aman untuk ditinggali.
            Jika ada checking polisi di sekitar lingkungan kami, para TKI akan berlari, kabur, supaya mereka tidak tertangkap. Mereka tidak peduli sakitnya batang bakau yang harus mereka lewati, demi mengamankan diri.

***
Kegiatan Humana 118 Bombalai

Kabut yang masih samar dan angkuh, menghiasi dinginnya embun yang perlahan menjadi tiada, bias-bias cahaya mentari menyelusup dalam setiap celah dedaunan, buruh buruh ladang kelapa sawit yang sibuk dengan aktivitas kesehariannya, anak anak sekolah yang sejak pukul 05.00 pagi buta yang duduk di pondok kecil menunggu jemputannya, kendaraan ladang juga mulai sibuk dengan suara nyanyian dengan nada yang tak beraturan, berurai deras sampai di telinga, sebuah aktivitas yang baru dan pemandangan hidup yang akan menjadi rutinitas. Orang tua siswa sudah masuk bekerja sejak pukul 05.00 pagi hari, sehingga jam 05.30 sudah banyak siswa yang sampai di sekolah. Begitulah rutinitas sekolah Humana yang dimulai sejak pagi hari dan berakhir sampai sore hari.
Pendidikan merupakan hak setiap warga Negara, di pelosok sekalipun. Kami akan terus berusaha memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak TKI yang ada di setiap wilayah Sabah ini. Bernaung dalam payung sekolah Humana adalah solusi untuk pendidikan mereka, identitas negara adalah wajar jika tidak kita dapatkan disekolah ini, seragamnya bukanlah putih merah tapi kuning hijau, walaupun demikian, jika engkau bertanya dimana asalmu, mereka tetap menjawab bahwa mereka adalah anak Indonesia dan bisa engkau dapatkan dari dalam hatinya yang masih merah putih, gedung sekolah dari dinding papan yang tersusun tak begitu rapi, kipas angin bantuan dari pihak estate yang telah berusia senja, pintu dengan warna merah jambu yang berwarna kusam penuh dengan debu, mengapa tidak, kendaraan state yang mengangkut kelapa sawit melintas didepan sekolah yang tidak memiliki pagar, keluar masuk padahal baru sebulan dicat. Gedung sekolah ada 4 ruangan, 3 ruangan untuk proses kegiatan pembelajaran dan 1 ruangan untuk guru, 2 toilet, yang satu untuk guru dan satunya lagi untuk murid, yang airnya tidak pernah berhenti karena kran yang rusak, ditambah lagi kloset yang tersumbat dan rusak sehingga menimbulkan aroma bau busuk di toilet itu. Disini saya memiliki 2 sesi waktu untuk bersenang-senang bersama mereka, belajar bersama, dimana awal pertemuan itu terjadi pada pukul 07.30  untuk sesi pagi bagi siswa tadika I (taman kanak-kanak), tadika II, dan darjah I (sekolah dasar kelas I) sampai pada pukul 11.00 dan untuk pertemuan pada sesi kedua  bagi darjah II, III,untuk darjah IV dan VI ditempatkan dalam satu ruangan saja.

Jumlah siswa keseluruhan yang mampu ditampung adalah 276 orang sampai bulan September 2013, sekolah Humana 118  Ladang Imam Bombalai pada tahun ini hanya menampung anak-anak usia sekolah untuk anak buruh yang bekerja di Sime Darby saja, padahal masih banyak anak yang membutuhkan wadah untuk pendidikan di Sabah Malaysia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar