Assalamualaikum..

Semoga keberadaan blog ini membawa manfaat untuk semua pihak. Jangan pernah lelah untuk mengukir prestasi, jangan pernah lelah untuk bermanfaat untuk sekitar, serta tetap sabar, syukur, dan ikhlas. Aamiin.

Rabu, 07 September 2016

Metode Penelitian Metakognitif

3.1 Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperiment atau eksperimen semu. Pengertian quasi eksperiment menurut Sugiyono (2009:114):
Metode ini tidak memiliki kelompok kontrol, sehingga tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Metode ini dikembangkan untuk mengatasi kesulitan dalam menentukan kelompok kontrol dalam penelitian.


3.2  Desain Penelitian
Desain penelitian dapat diartikan sebagai rencana dan struktur yang merupakan penjelasan secara rinci tentang keseluruhan rencana penelitian mulai dari perumusan masalah , tujuan, gambaran hubungan antar variabel, perumusan hipotesis sampai rancangan analisis data yang dituangkan secara tertulis. Desain penelitian sebagai strategi merupakan penjelasan secara rinci tentang apa yang akan dilakukan peneliti dalam pelaksanaan penelitian.
Dalam penelitian ini, penyusun menggunakan jenis desain pretest and posttest group. Suharsimi Arikunto (2010:124) mengemukakan bahwa:
Didalam desain ini observasi dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1) disebut pretest, dan observasi sesudah eksperimen (O2) disebut posttest. Perbedaan antara O1 dan O2 yakni O1-O2 diasumsikan merupakan efek dari treatment atau eksperimen.




Bentuk desain penelitian dapat dilihat sebagai berikut:

O1                     X                     O2

Keterangan:
O1        : Nilai Pretest (sebelum diberi diklat/perlakuan)
O2        : Nilai Posttest (setelah diberik diklat/perlakuan)
X         : Penerapan Pendekatan Metakognitif
                                                                                    (Sugiyono, 2009:111)

Dalam penelitian ini posisi peneliti sebagai observer, pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif dilaksanakan oleh Guru Pengajar akuntansi di SMA Negeri 1 Lembang. Hal tersebut disesuaikan berdasarkan kesepakatan dengan pihak sekolah.
PBM di kelas dilakukan melalui small group discussion. Small group discussion ini merupakan proses belajar dengan seting kelompok kecil yang terdiri dari empat atau lima orang. Menurut Erman Suherman  et.al (2001:103) small group discussion merupakan contoh pembelajaran pemecahan masalah melalui pendekatan metakognitif. Dalam pembelajaran kelompok kecil akan meningkatkan kesadaran berfikir siswa tentang proses berfikirnya, dan siswa bersama-sama dalam kelompok memecahkan masalah akuntansi dalam bahasan jurnal penyesuaian.
Metode yang digunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini yaitu statistik deskriptif. Nana Syaodih Sukmadinata (2005:73) berpendapat bahwa:
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul apa adanya tanpa maksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi.

3.3 Definisi Variabel
Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi. Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu persoalan dalam bentuk soal akuntansi yang tidak rutin pada bahasan jurnal penyesuaian melalui tahapan Polya, yakni memahami masalah, merencanakan alternatif penyelesaian masalah, melaksanakan penyelesaian masalah, dan memeriksa kembali hasil.

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Definisi dari populasi yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto (2010:173) adalah:
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Lembang yang terdiri dari empat kelas atau sebanyak 156 siswa.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (Suharsimi Arikunto, 2010:174). Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Nonprobability Sampling. Menurut Sugiyono (2009:119) :
Nonprobability Samping adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel meliputi sampling sistematis, kuota, aksidental, purposive, jenuh, dan snowball.

Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah teknik purposive sampel. Menurut Suharsimi Arikunto (2010:183) yang dimaksud dengan purposive sampel adalah:
Purposive sampel adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Teknik ini biasanya dilakukan karena beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh.

Pertimbangan penentuan sampel dalam penelitian ini adalah sampel yang digunakan harus dapat mengetahui bagaimana kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi, sehingga sampel yang diambil merupakan siswa yang mendapatkan mata pelajaran akuntansi, yakni salah satu kelas IPS di SMA Negeri 1 Lembang. Sedangkan pertimbangan untuk menentukan kelas XI IPS 2 merupakan hasil penentuan sampel yang disesuaikan dengan anjuran dari pihak sekolah, khususnya anjuran dari tenaga pendidik yang akan melaksanakan penerapan pendekatan metakognitif di kelas eksperimen dengan catatan tingkat kemampuan akademik dari ke empat kelas populasi relatif sama.

3.5 Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik tes. Menurut Suharsimi Arikunto (2008:53) “tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan”.
Teknik tes dalam penelitian ini berbentuk uraian, pemilihan soal dengan bentuk uraian ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi. Selain itu, dengan soal yang berbentuk uraian akan diketahui seberapa jauh siswa dapat memahami langkah-langkah penyelesaian masalah akuntansi secara baik. Instrumen tes ini digunakan pada saat pretest dan posttest dengan karakteristik setiap soal pada masing-masing tes adalah identik.

3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Instrumen

3.6.1 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Penilaian hasil pretest
Penilaian hasil pretest dilakukan dengan cara menghitung skor (sesuai dengan tabel alternatif pemberian skor Polya) dengan aspek penilaiannya dalam hal kemampuan siswa dalam memahami masalah, menyusun rencana, menyelesaikan atau proses, dan evaluasi atau memeriksa kembali.
2.      Penilaian hasil posttest
Penilaian hasil posttest dilakukan dengan cara menghitung skor (sesuai dengan tabel alternatif pemberian skor Polya) dengan aspek penilaiannya dalam hal kemampuan siswa dalam memahami masalah, menyusun rencana, menyelesaikan atau proses, dan evaluasi atau memeriksa kembali
Adapun untuk pemberian skor terhadap soal pemecahan masalah (pretest dan posttest) yang mengukur tahapan pemecahan masalah Polya, dengan menggunakan alternatif pemberian skor seperti terdapat dalam tabel di bawah ini:


Tabel 3.1
Alternatif Pemberian Skor Polya

Aspek yang dinilai
Skor
Keterangan
Memahami Masalah
0
Salah menginterpretasikan soal atau tidak ada jawaban sama sekali
1
Salah menginterpretasikan sebagian soal atau mengabaikan kondisi soal
2
Memahami masalah atau soal secara lengkap
Menyusun Rencana
0
Menggunakan strategi yang tidak relevan atau tidak ada strategi sama sekali
1
Menggunakan satu strategi yang kurang dapat dilaksanakan atau tidak dapat dilanjutkan
2
Menggunakan sebagian strategi yang benar tetapi mengarah pada jawaban yang salah atau tidak mencoba strategi lain
3
Menggunakan prosedur yang mengarah pada solusi yang benar
Menyelesaikan
Atau Proses
0
Tidak ada solusi sama sekali
1
Menggunakan beberapa prosedur yang mengarah ke solusi yang benar
2
Hasil salah atau sebagian salah, tetapi hanya karena salah perhitungan saja
3
Hasil dan prosedur benar
Evaluasi atau
Memeriksa kembali
0
Tidak ada pemeriksaan atau tidak ada keterangan apapun
1
Ada pemeriksaan tetapi tidak tuntas/tidak lengkap
2
Pemeriksaan dilaksanakan dengan lengkap untuk melihat kebenaran hasil dan proses
Total Maksimal
10


Sumber : Abdul Gani ( 2004: 33)

Sedangkan interpretasi Polya untuk menentukan derajat kemampuan siswa dalam penyelesaian masalah akuntansi siswa adalah sebagai berikut:
0 <  x < 2                       Sangat rendah
2 <  x < 4                       Rendah
4 < x <  7                       Sedang
7 < x <  9                       Tinggi
9 < x < 10                   Sangat tinggi            
 (Abdul Gani, 2004:33)

3. Menganalisis perbedaan sebelum dan sesudah penerapan pendekatan metakognitif.
Jenis data yang dihasilkan dari penelitian ini adalah data ordinal, karena skor tiga lebih tinggi tingkatannya dari skor dua, satu, dan nol (berdasarkan tabel 3.1 Alternatif Pemberian Skor). Siegel (1988:29) berpendapat bahwa:
Skala ordinal atau skala urutan sangat mungkin terjadi bahwa obyek-obyek lain dalam kategori lain dalam suatu skala tidak saja berbeda dari obyek-obyek lain dalam kategori lain dalam skala itu, tetapi juga bahwa obyek-obyek itu berada dalam suatu jenis “hubungan” tertentu dengan kategori-kategori tersebut. Hubungan yang biasanya terdapat antara lain adalah : lebih tinggi, lebih disukai, lebih sulit, lebih terganggu, lebih matang dan seterusnya.

Berhubung data hasil penelitian adalah data ordinal, maka statistik yang dipergunakan adalah statistik nonparametrik. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini akan menggunakan Tes Tanda. Siegel (1988:83) mengemukakan bahwa:
Tes tanda bermanfaat untuk penelitian di mana pengukuran kuantitatif tidak mungkin atau tidak dapat dijalankan, tetapi  masih mungkin menentukan tingkatan  bagi  anggota  setiap  pasangan  berdasarkan  hubungan  antar  keduanya.

Uji hipotesis tersebut untuk memperkuat apakah terdapat perbedaan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi sebelum dan sesudah penerapan pendekatan metakognitif.
Sampel penelitian ini adalah kelas XI IPS 2 sebanyak 38 siswa. Jika N (banyaknya sampel) lebih besar dari 25 maka termasuk dalam kategori sampel besar. Siegel (1988:89) mengemukakan bahwa “sampel-sampel besar, jika N lebih besar dari 25, dapat dipakai distribusi normal sebagai pendekatan distribusi binomial”. Yaitu dengan harga z diperoleh dari:
                                                 (Siegel, 1988:89)
Dimana:
z = Nilai z atau nilai baku
x = Mean
N = Jumlah yang terpengaruh
Pendekatan distribusi binomial akan menjadi pendekatan yang sangat baik jika diadakan koreksi kontinyuitas. Koreksi itu dihasilkan dengan mengurangi perbedaan antara banyak tambah yang diobservasi dengan banyak yang diharapkan yakni rata-rata di bawah H0, dengan 0,5. Berikut adalah rumus nilai baku dengan koreksi kontinyuitas:
                                          (Siegel, 1988:89)
Dimana:
x   = banyaknya   yang   diobservasi   (yang   memberikan   penambahan   atau
        peningkatan).
N  = jumlah yang terpengaruh
x+0,5 digunakan bila x<1 bilai="" dan="" digunakan="" x-0="" x="">1/2 N.
Adapun tahapan analisisnya adalah sebagai berikut (Siegel, 1988:86):
a. Menentukan H0 dan H1.
H0 merupakan hipotesis yang bersifat negatif, artinya tidak terdapat perbedaan sebelum dan sesudah pemberian perlakuan. Sedangkan H1 bersifat positif yang menunjukan terdapat perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan.

b. Tes Statistik
Setelah diperoleh hasil tes, selanjutnya  penyusunan tabel perbedaan hasil pretest dan posttest untuk setiap soal seperti tampak dibawah ini:
Tabel 3.2
Perbedaan Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Akuntansi
Sebelum dan Sesudah Penerapan Pendekatan Metakognitif

Kode Soal
Hasil Tes
Arah Perbedaan
Tanda
Pretest (A)
Posttest (B)



XA > / = / < XB

- / 0 / +

Sumber : Siegel, 1988:87, disesuaikan

       Setelah seluruh data dimasukan ke dalam tabel, maka akan diperoleh data kenaikan (tanda +), tetap (tanda 0), dan penurunan (tanda -). Kemudian akan direkap dalam jumlah arah perbedaan dan arah tetap atau tidak ada perbedaan dengan membuat tabel seperti berikut:
Tabel 3.3
Rekap Hasil Pretest dan Posttest

Hasil Pretest
Interpretasi
Pemecahan Masalah
Hasil Posttest
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
Sangat Rendah

x
x
x
X
Rendah
y

x
x
X
Sedang
y
y

x
X
Tinggi
y
y
y

X
Sangat Tinggi
y
y
y
y


Sumber : Siegel, 1988:91, disesuaikan
Notasi x dalam kolom diatas menunjukan jumlah sampel yang mengalami peningkatan atau penambahan kemampuan pemecahan masalah setelah dilaksanakannya pendekatan metakognitif, sedangkan untuk notasi y menunjukkan adanya penurunan kemampuan pemecahan masalah setelah adanya penerapan pendekatan metakognitif. Sedangkan untuk notasi N, adalah jumlah yang terpengaruh diperoleh dengan jalan menjumlahkan x dan y.
c.  Menentukan taraf nyata
Misalnya taraf nyata ditentukan sebesar 0,05, hal ini berarti bahwa 95% penelitian ini dapat dipercaya.
d.  Distribusi sampling.
Setelah diperoleh datanya, maka akan dihitung dengan menggunakan rumus dengan kontinyuitas berikut:
                                          (Siegel, 1988:89)
Dimana:
x   = banyaknya   yang   diobservasi   (yang    memberikan   penambahan  atau
        peningkatan).
N  = jumlah yang terpengaruh
x+0,5 digunakan bila x<1 bilai="" dan="" digunakan="" x-0="" x="">1/2 N.
a.       Daerah penolakan.
Daerah penolakan ini ditentukan berdasarkan taraf nyata dalam distribusi normal. Apabila letak z hasil perhitungan berada di luar wilayah penolakan, maka H0 diterima dan menolak H1, sedangkan jika letak z hasil perhitungan berada didalam wilayah penolakan ini berarti H0 ditolak dan menerima H1.
b.      Kesimpulan
Kesimpulan akhir diperoleh dari hasil analisis daerah penolakan, apakah perlakuan yang diberikan menimbulkan perbedaan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi atau tidak.
3.6.2 Teknik Pengujian Instrumen
Sebelum instrumen diujicobakan, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian instrumen. Adapun pengujian instrumen akan dilaksanakan pada siswa kelas lain yang tidak termasuk kedalam siswa yang akan mendapat perlakukan penerapan pendekatan metakognitif dengan tingkat kemampuan yang hampir sama dengan kelas eksperimen.
Adapun analisis terhadap item soal uji coba meliputi reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran. Khusus untuk pengujian instrumen, pemberian skor dilaksanakan dengan pemberian skor yang berlaku umum, sehingga data yang diperoleh merupakan data dalam skala rasio. Berikut merupakan analisis item soal uji coba tersebut:
1)   Reliabilitas tes
Reliabilitas digunakan untuk mengukur keajegan (ketetapan) soal, sehingga apabila dilakukan tes berkali-kali dapat memberikan hasil yang tetap (Suharsimi Arikunto, 2008: 86). Tolok ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas alat evaluasi dapat digunakan tolak ukur sebagai berikut:
                    Derajat reliabilitas sangat rendah
                     Derajat reliabilitas rendah
                     Derajat reliabilitas sedang
                     Derajat reliabilitas tinggi
                      Derajat reliabilitas sangat tinggi
    (Erman Suherman et al., 2001:139)

 
                                                           
Menurut Suharsimi Arikunto (2008:108) rumus yang digunakan untuk mencari koefisien reliabilitas soal bentuk uraian adalah dengan rumus Alpha sebagai berikut:
(Suharsimi Arikunto, 2008:109)
Dengan:           r11        = Reliabilitas yang dicari
            = Jumlah varians skor setiap item
        = Varians skor total            

2)      Daya Pembeda
Dalam   Erman Suherman et al.  (2001:159-161)  dijelaskan  bahwa    “daya pembeda sebuah butir soal adalah kemampuan butir soal itu untuk membedakan antara testi (siswa) yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah”. Derajat daya pembeda (DP) suatu butir soal dinyatakan dengan Indeks Diskriminasi yang bernilai dari -1,00 sampai dengan 1,00.  Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah:
                    
(Suharsimi Arikunto, 2008:213)
Dengan:
J  = Jumlah peserta tes
JA = Banyaknya peserta kelompok atas
JB  =  Banyaknya peserta kelompok bawah
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
 BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
PA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Adapun klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda yang banyak digunakan adalah:
0,00 – 0,20  = jelek
0,20 – 0,40  = cukup
0,40 – 0,70  = baik
0,70 – 1,00  = baik sekali
                               
(Suharsimi Arikunto 2008:218)
3)      Indeks Kesukaran
Derajat kesukaran suatu butir soal dinyatakan dengan bilangan yang disebut indeks kesukaran (Difficulty Index). Bilangan tersebut adalah bilangan real pada interval (kontinum)  0,00 sampai dengan 1,00. Soal dengan indeks kesukaran mendekati 0,00 berarti butir soal tersebut terlalu sukar, sebaliknya soal dengan indeks kesukaran 1,00 berarti soal tersebut terlalu  mudah. Rumus untuk menentukan  indeks kesukaran butir soal, yaitu:
                                                                                  
                                    (Suharsimi Arikunto:2008-208)

Dengan:
P  = Indeks kesukaran
B  = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
        Klasifikasi indeks kesukaran yang sering digunakan adalah:
         = Sukar
          = Sedang
           = Mudah

                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar