3.1 Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperiment atau eksperimen semu. Pengertian quasi eksperiment menurut Sugiyono
(2009:114):
Metode ini tidak memiliki kelompok kontrol, sehingga tidak dapat
berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi
pelaksanaan eksperimen. Metode ini dikembangkan untuk mengatasi kesulitan dalam
menentukan kelompok kontrol dalam penelitian.
3.2 Desain
Penelitian
Desain penelitian dapat diartikan sebagai rencana dan struktur yang
merupakan penjelasan secara rinci tentang keseluruhan rencana penelitian mulai
dari perumusan masalah , tujuan, gambaran hubungan antar variabel, perumusan
hipotesis sampai rancangan analisis data yang dituangkan secara tertulis. Desain penelitian
sebagai strategi merupakan penjelasan secara rinci tentang apa yang akan
dilakukan peneliti dalam pelaksanaan penelitian.
Dalam
penelitian ini, penyusun menggunakan jenis desain pretest and posttest group. Suharsimi Arikunto (2010:124)
mengemukakan bahwa:
Didalam desain
ini observasi dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah
eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1) disebut pretest, dan observasi sesudah
eksperimen (O2) disebut posttest.
Perbedaan antara O1 dan O2 yakni O1-O2 diasumsikan merupakan efek dari treatment atau eksperimen.
Bentuk
desain penelitian dapat dilihat sebagai berikut:
O1 X O2
Keterangan:
O1 :
Nilai Pretest (sebelum diberi diklat/perlakuan)
O2 :
Nilai Posttest (setelah diberik diklat/perlakuan)
X :
Penerapan Pendekatan Metakognitif
(Sugiyono,
2009:111)
Dalam penelitian ini posisi peneliti sebagai observer, pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
metakognitif dilaksanakan oleh Guru Pengajar akuntansi di SMA Negeri 1 Lembang.
Hal tersebut disesuaikan berdasarkan kesepakatan dengan pihak sekolah.
PBM di kelas dilakukan
melalui small group discussion. Small
group discussion ini merupakan proses belajar dengan seting kelompok kecil
yang terdiri dari empat atau lima orang. Menurut Erman Suherman et.al
(2001:103) small group discussion merupakan
contoh pembelajaran pemecahan masalah melalui pendekatan metakognitif. Dalam
pembelajaran kelompok kecil akan meningkatkan kesadaran berfikir siswa tentang
proses berfikirnya, dan siswa bersama-sama dalam kelompok memecahkan masalah
akuntansi dalam bahasan jurnal penyesuaian.
Metode yang digunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini yaitu
statistik deskriptif. Nana
Syaodih Sukmadinata (2005:73) berpendapat bahwa:
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk
menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang
telah terkumpul apa adanya
tanpa maksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi.
3.3 Definisi Variabel
Variabel dalam
penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi.
Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi dalam penelitian ini adalah
kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu persoalan dalam bentuk soal akuntansi
yang tidak rutin pada bahasan jurnal penyesuaian melalui tahapan Polya, yakni
memahami masalah, merencanakan alternatif penyelesaian masalah, melaksanakan
penyelesaian masalah, dan memeriksa kembali hasil.
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Definisi
dari populasi yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto (2010:173) adalah:
Populasi adalah
keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen
yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian
populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi
sensus.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA
Negeri 1 Lembang yang terdiri dari empat kelas atau sebanyak 156 siswa.
“Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang
diteliti” (Suharsimi Arikunto, 2010:174). Pengambilan sampel dalam
penelitian ini adalah Nonprobability
Sampling. Menurut Sugiyono (2009:119) :
Nonprobability Samping adalah teknik pengambilan sampel
yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel meliputi sampling sistematis,
kuota, aksidental, purposive, jenuh,
dan snowball.
Adapun teknik pengambilan
sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah teknik purposive sampel. Menurut Suharsimi Arikunto (2010:183) yang
dimaksud dengan purposive sampel
adalah:
Purposive sampel adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan
dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah
tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Teknik ini biasanya dilakukan
karena beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan
dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh.
Pertimbangan penentuan
sampel dalam penelitian ini adalah sampel yang digunakan harus dapat mengetahui
bagaimana kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi, sehingga sampel
yang diambil merupakan siswa yang mendapatkan mata pelajaran akuntansi, yakni
salah satu kelas IPS di SMA Negeri 1 Lembang. Sedangkan pertimbangan untuk
menentukan kelas XI IPS 2 merupakan hasil penentuan sampel yang disesuaikan
dengan anjuran dari pihak sekolah, khususnya anjuran dari tenaga pendidik yang
akan melaksanakan penerapan pendekatan metakognitif di kelas eksperimen dengan catatan
tingkat kemampuan akademik dari ke empat kelas populasi relatif sama.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik tes.
Menurut Suharsimi Arikunto (2008:53) “tes merupakan
alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam
suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan”.
Teknik tes dalam penelitian ini berbentuk uraian, pemilihan soal dengan
bentuk uraian ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan siswa dalam pemecahan
masalah akuntansi. Selain itu, dengan soal yang berbentuk uraian akan diketahui
seberapa jauh siswa dapat memahami langkah-langkah penyelesaian masalah
akuntansi secara baik. Instrumen tes ini digunakan pada saat pretest dan posttest dengan karakteristik setiap soal pada masing-masing tes
adalah identik.
3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Instrumen
3.6.1
Teknik Analisis Data
Teknik
analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Penilaian
hasil pretest
Penilaian hasil pretest dilakukan dengan cara menghitung
skor (sesuai dengan tabel alternatif pemberian skor Polya) dengan aspek
penilaiannya dalam hal kemampuan siswa dalam memahami masalah, menyusun
rencana, menyelesaikan atau proses, dan evaluasi atau memeriksa kembali.
2. Penilaian
hasil posttest
Penilaian hasil posttest dilakukan dengan cara menghitung skor (sesuai dengan tabel
alternatif pemberian skor Polya) dengan aspek penilaiannya dalam hal kemampuan
siswa dalam memahami masalah, menyusun rencana, menyelesaikan atau proses, dan
evaluasi atau memeriksa kembali
Adapun untuk pemberian skor terhadap soal
pemecahan masalah (pretest dan posttest) yang mengukur tahapan pemecahan
masalah Polya, dengan menggunakan alternatif pemberian skor seperti terdapat
dalam tabel di bawah ini:
Tabel 3.1
Alternatif Pemberian Skor Polya
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Keterangan
|
|
Memahami Masalah
|
0
|
Salah
menginterpretasikan soal atau tidak ada jawaban sama sekali
|
|
1
|
Salah
menginterpretasikan sebagian soal atau mengabaikan kondisi soal
|
|
|
2
|
Memahami masalah
atau soal secara lengkap
|
|
|
Menyusun Rencana
|
0
|
Menggunakan
strategi yang tidak relevan atau tidak ada strategi sama sekali
|
|
1
|
Menggunakan satu
strategi yang kurang dapat dilaksanakan atau tidak dapat dilanjutkan
|
|
|
2
|
Menggunakan sebagian
strategi yang benar tetapi mengarah pada jawaban yang salah atau tidak
mencoba strategi lain
|
|
|
3
|
Menggunakan
prosedur yang mengarah pada solusi yang benar
|
|
|
Menyelesaikan
Atau Proses
|
0
|
Tidak ada solusi
sama sekali
|
|
1
|
Menggunakan
beberapa prosedur yang mengarah ke solusi yang benar
|
|
|
2
|
Hasil salah atau
sebagian salah, tetapi hanya karena salah perhitungan saja
|
|
|
3
|
Hasil dan prosedur
benar
|
|
|
Evaluasi atau
Memeriksa kembali
|
0
|
Tidak ada
pemeriksaan atau tidak ada keterangan apapun
|
|
1
|
Ada pemeriksaan
tetapi tidak tuntas/tidak lengkap
|
|
|
2
|
Pemeriksaan
dilaksanakan dengan lengkap untuk melihat kebenaran hasil dan proses
|
|
|
Total Maksimal
|
10
|
|
Sumber : Abdul Gani ( 2004: 33)
Sedangkan
interpretasi Polya untuk menentukan derajat kemampuan siswa dalam penyelesaian
masalah akuntansi siswa adalah sebagai berikut:
0 < x < 2 Sangat
rendah
2 <
x < 4 Rendah
4 < x < 7 Sedang
7 < x < 9 Tinggi
9 < x < 10
Sangat tinggi
(Abdul Gani, 2004:33)
3. Menganalisis
perbedaan sebelum dan sesudah penerapan pendekatan metakognitif.
Jenis
data yang dihasilkan dari penelitian ini adalah data ordinal, karena skor tiga
lebih tinggi tingkatannya dari skor dua, satu, dan nol (berdasarkan tabel 3.1
Alternatif Pemberian Skor). Siegel (1988:29) berpendapat bahwa:
Skala ordinal
atau skala urutan sangat mungkin terjadi bahwa obyek-obyek lain dalam kategori
lain dalam suatu skala tidak saja berbeda dari obyek-obyek lain dalam kategori
lain dalam skala itu, tetapi juga bahwa obyek-obyek itu berada dalam suatu
jenis “hubungan” tertentu dengan kategori-kategori tersebut. Hubungan yang
biasanya terdapat antara lain adalah : lebih tinggi, lebih disukai, lebih
sulit, lebih terganggu, lebih matang dan seterusnya.
Berhubung
data hasil penelitian adalah data ordinal, maka statistik yang dipergunakan
adalah statistik nonparametrik. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
akan menggunakan Tes Tanda. Siegel (1988:83) mengemukakan bahwa:
Tes tanda
bermanfaat untuk penelitian di mana pengukuran kuantitatif tidak mungkin atau
tidak dapat dijalankan, tetapi masih
mungkin menentukan tingkatan bagi anggota setiap pasangan
berdasarkan hubungan antar
keduanya.
Uji
hipotesis tersebut untuk memperkuat apakah terdapat perbedaan kemampuan siswa
dalam pemecahan masalah akuntansi sebelum dan sesudah penerapan pendekatan
metakognitif.
Sampel
penelitian ini adalah kelas XI IPS 2 sebanyak 38 siswa. Jika N (banyaknya
sampel) lebih besar dari 25 maka termasuk dalam kategori sampel besar. Siegel
(1988:89) mengemukakan bahwa “sampel-sampel besar, jika N lebih besar dari 25,
dapat dipakai distribusi normal sebagai pendekatan distribusi binomial”. Yaitu
dengan harga z diperoleh dari:
Dimana:
z = Nilai z atau nilai
baku
x = Mean
N = Jumlah yang
terpengaruh
Pendekatan
distribusi binomial akan menjadi pendekatan yang sangat baik jika diadakan
koreksi kontinyuitas. Koreksi itu dihasilkan dengan mengurangi perbedaan antara
banyak tambah yang diobservasi dengan banyak yang diharapkan yakni rata-rata di
bawah H0, dengan 0,5. Berikut adalah rumus nilai baku dengan koreksi
kontinyuitas:
Dimana:
x = banyaknya
yang diobservasi
(yang memberikan
penambahan atau
peningkatan).
N = jumlah yang terpengaruh
x+0,5 digunakan bila
x<1 bilai="" dan="" digunakan="" x-0="" x="">1/2 N. 1>
Adapun
tahapan analisisnya adalah sebagai berikut (Siegel, 1988:86):
a.
Menentukan H0 dan H1.
H0
merupakan hipotesis yang bersifat negatif, artinya tidak terdapat perbedaan
sebelum dan sesudah pemberian perlakuan. Sedangkan H1 bersifat
positif yang menunjukan terdapat perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan.
b.
Tes Statistik
Setelah
diperoleh hasil tes, selanjutnya
penyusunan tabel perbedaan hasil pretest
dan posttest untuk setiap soal
seperti tampak dibawah ini:
Tabel
3.2
Perbedaan
Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Akuntansi
Sebelum
dan Sesudah Penerapan Pendekatan Metakognitif
|
Kode
Soal
|
Hasil
Tes
|
Arah
Perbedaan
|
Tanda
|
|
|
Pretest (A)
|
Posttest (B)
|
|||
|
|
|
|
XA
> / = / < XB
|
- /
0 / +
|
Sumber
: Siegel, 1988:87, disesuaikan
Setelah seluruh data dimasukan ke dalam
tabel, maka akan diperoleh data kenaikan (tanda +), tetap (tanda 0), dan
penurunan (tanda -). Kemudian akan direkap dalam jumlah arah perbedaan dan arah
tetap atau tidak ada perbedaan dengan membuat tabel seperti berikut:
Tabel
3.3
Rekap
Hasil Pretest dan Posttest
|
Hasil Pretest
|
Interpretasi
Pemecahan
Masalah
|
Hasil
Posttest
|
||||
|
Sangat
Rendah
|
Rendah
|
Sedang
|
Tinggi
|
Sangat
Tinggi
|
||
|
Sangat
Rendah
|
|
x
|
x
|
x
|
X
|
|
|
Rendah
|
y
|
|
x
|
x
|
X
|
|
|
Sedang
|
y
|
y
|
|
x
|
X
|
|
|
Tinggi
|
y
|
y
|
y
|
|
X
|
|
|
Sangat
Tinggi
|
y
|
y
|
y
|
y
|
|
|
Sumber : Siegel,
1988:91, disesuaikan
Notasi
x dalam kolom diatas menunjukan jumlah sampel yang mengalami peningkatan atau
penambahan kemampuan pemecahan masalah setelah dilaksanakannya pendekatan
metakognitif, sedangkan untuk notasi y menunjukkan adanya penurunan kemampuan
pemecahan masalah setelah adanya penerapan pendekatan metakognitif. Sedangkan
untuk notasi N, adalah jumlah yang terpengaruh diperoleh dengan jalan menjumlahkan
x dan y.
c. Menentukan taraf nyata
Misalnya
taraf nyata ditentukan sebesar 0,05, hal ini berarti bahwa 95% penelitian ini
dapat dipercaya.
d. Distribusi sampling.
Setelah
diperoleh datanya, maka akan dihitung dengan menggunakan rumus dengan kontinyuitas
berikut:
Dimana:
x = banyaknya
yang diobservasi
(yang memberikan penambahan atau
peningkatan).
N = jumlah yang terpengaruh
x+0,5 digunakan bila
x<1 bilai="" dan="" digunakan="" x-0="" x="">1/2 N. 1>
a. Daerah
penolakan.
Daerah
penolakan ini ditentukan berdasarkan taraf nyata dalam distribusi normal.
Apabila letak z hasil perhitungan berada di luar wilayah penolakan, maka H0
diterima dan menolak H1, sedangkan jika letak z hasil
perhitungan berada didalam wilayah penolakan ini berarti H0 ditolak
dan menerima H1.
b. Kesimpulan
Kesimpulan
akhir diperoleh dari hasil analisis daerah penolakan, apakah perlakuan yang
diberikan menimbulkan perbedaan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah
akuntansi atau tidak.
3.6.2 Teknik Pengujian Instrumen
Sebelum
instrumen diujicobakan, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian instrumen.
Adapun pengujian instrumen akan dilaksanakan pada siswa kelas lain yang tidak
termasuk kedalam siswa yang akan mendapat perlakukan penerapan pendekatan
metakognitif dengan tingkat kemampuan yang hampir sama dengan kelas eksperimen.
Adapun
analisis terhadap item soal uji coba meliputi reliabilitas, daya pembeda, dan
tingkat kesukaran. Khusus untuk pengujian instrumen, pemberian skor dilaksanakan
dengan pemberian skor yang berlaku umum, sehingga data yang diperoleh merupakan
data dalam skala rasio. Berikut merupakan analisis item soal uji coba tersebut:
1)
Reliabilitas tes
Reliabilitas digunakan untuk mengukur keajegan
(ketetapan) soal, sehingga apabila dilakukan tes berkali-kali dapat memberikan
hasil yang tetap (Suharsimi Arikunto,
2008: 86). Tolok
ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas alat evaluasi dapat
digunakan tolak ukur sebagai berikut:
|
Menurut Suharsimi Arikunto
(2008:108) rumus yang digunakan untuk mencari koefisien reliabilitas soal
bentuk uraian adalah dengan rumus Alpha sebagai berikut:

(Suharsimi
Arikunto, 2008:109)
Dengan: r11 = Reliabilitas yang dicari
2)
Daya Pembeda
Dalam Erman Suherman et al. (2001:159-161) dijelaskan bahwa “daya pembeda sebuah butir soal adalah kemampuan
butir soal itu untuk membedakan antara testi (siswa) yang berkemampuan tinggi
dengan siswa yang berkemampuan rendah”. Derajat daya pembeda (DP) suatu butir
soal dinyatakan dengan Indeks Diskriminasi yang bernilai dari -1,00 sampai
dengan 1,00. Rumus untuk menentukan daya
pembeda adalah:
(Suharsimi Arikunto, 2008:213)
Dengan:
J = Jumlah
peserta tes
JA = Banyaknya peserta kelompok atas
JB = Banyaknya peserta kelompok bawah
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang
menjawab soal itu dengan benar
BB
= Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
PA = Proporsi peserta kelompok atas yang
menjawab benar
PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang
menjawab benar
Adapun klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda yang banyak digunakan
adalah:
0,00 – 0,20 = jelek
0,20 – 0,40 = cukup
0,40 – 0,70 = baik
0,70 – 1,00 = baik sekali
(Suharsimi Arikunto 2008:218)
3)
Indeks Kesukaran
Derajat kesukaran suatu butir soal dinyatakan dengan bilangan yang
disebut indeks kesukaran (Difficulty
Index). Bilangan tersebut adalah bilangan real pada interval
(kontinum) 0,00 sampai dengan 1,00. Soal
dengan indeks kesukaran mendekati 0,00 berarti butir soal tersebut terlalu
sukar, sebaliknya soal dengan indeks kesukaran 1,00 berarti soal tersebut
terlalu mudah. Rumus untuk
menentukan indeks kesukaran butir soal,
yaitu:
(Suharsimi
Arikunto:2008-208)
Dengan:
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu
dengan betul
JS =
Jumlah seluruh siswa peserta tes
Klasifikasi indeks kesukaran yang
sering digunakan adalah:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar