Assalamualaikum..

Semoga keberadaan blog ini membawa manfaat untuk semua pihak. Jangan pernah lelah untuk mengukir prestasi, jangan pernah lelah untuk bermanfaat untuk sekitar, serta tetap sabar, syukur, dan ikhlas. Aamiin.

Rabu, 07 September 2016

Belajar dan Pendekatan Metakognitif

2.1 Belajar
2.1.1 Pengertian Belajar
Untuk memperoleh pengertian yang objektif tentang belajar terutama belajar di sekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi termasuk ahli psikologi pendidikan.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:2) “aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari dan sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya”.  
Di sisi lain pengertian belajar diungkapkan pula oleh Slameto (2010:2)  belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Adapun pengertian belajar menurut Gage (dalam Ratna W. Dahar, 1996: 11) adalah sebagai berikut:
Suatu proses dimana organisme berubah tingkah lakunya sebagai akibat pengalaman, hal ini membatasi berbagai perubahan prilaku yang disebabkan oleh proses belajar, jadi bukan perubahan prilaku akibat kematangan (maturity) atau karena proses fisiologis dan mekanis.
Disamping itu pengertian belajar menurut Bruner (dalam Ratna W. Dahar, 1996:101) adalah sebagai berikut:
Pengembangan kategori-kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean (coding) yang melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi informasi dan memuji relevansi serta ketetapan pengetahuan.

Cronbach (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 13) berpendapat bahwa ‘learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Howard L. Kingskey (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 13) mengatakan bahwa ‘learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training. Belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Geoch (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 13) merumuskan bahwa ‘learning is change is performance as a result of practice. Belajar merupakan perubahan prilaku sebagai hasil dari latihan.
Dari beberapa definisi belajar di atas, terlihat bahwa salah satu ciri dari belajar adalah adanya perubahan dalam diri suatu individu. Namun menurut Slameto (2010:3), perubahan sebagai ciri belajar adalah sebagai berikut:
Suatu perubahan yang disadari, bersifat kontinu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, perubahan bukan bersifat sementara, perubahan tersebut memiliki arah dan tujuan, serta perubahannya mencakup seluruh aspek tingkah laku.


Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan dari suatu individu yang disadari, bersifat kontinu dan fungsional, positif dan aktif, perubahannya bukan bersifat sementara, perubahan tersebut memiliki arah dan tujuan, serta perubahannya mencakup seluruh aspek tingkah laku.

2.1.2 Teori Belajar
 Secara global, Sardiman A. M (2011: 30-38) mengemukakan empat teori belajar, yaitu:
1.      Teori Ilmu Jiwa Daya
2.      Teori Ilmu Jiwa Gestalt
3.      Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
4.      Teori Konstruktivisme

            Adapun penjelasan dari teori-teori di atas adalah sebagai berikut :
1.      Teori Ilmu Jiwa Daya
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari bermacam-macam daya. Masing-masing daya dapat dilatih dalam rangka untuk memenuhi fungsinya. Untuk melatih suatu daya itu dapat digunakan berbagai cara atau bahan. Misalnya, untuk melatih daya ingat dalam belajar dengan menghafal kata-kata atau angka. Dalam hal ini, yang terpenting bukanlah penguasaan bahan atau materinya, melainkan hasil dari pembentukkan daya-daya itu. Kalau sudah demikian, maka seseorang yang belajar itu akan berhasil.
2.      Teori Ilmu Jiwa Gestalt
Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian/ unsur. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula pada suatu pengamatan yang menyeluruh. Tokoh penting yang merumuskan penerapan dari kegiatan pengamatan ke kegiatan belajar itu adalah Koffka. Dalam kegiatan pengamatan keterlibatan semua panca indra sangat diperlukan. Menurut teori ini mudah atau sukarnya suatu pemecahan masalah tergantung pada pengamatan. Menurut aliran teori ini juga, seseorang dikatakan belajar jika mendapatkan insight yang diperoleh jika seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi tertentu. Timbulnya insight itu sendiri tergantung pada kesanggupan, pengalaman, taraf kompleksitas dari suatu situasi, latihan, dan trial and error.
3.      Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
Ilmu Jiwa Asosiasi berpendapat bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Dari aliran ini, ada dua teori yang sangat terkenal, yakni:
a.       Teori Konektionisme
Menurut Thorndike, dasar dari belajar itu adalah asosiasi antara kesan panca indra (sense impresion) dengan impuls untuk bertindak (impuls to action). Asosiasi yang demikian dinamakan ”connecting”. Dengan kata lain, belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respons ini akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering dilatih. Sehingga hubungan antara stimulus dan respons itu akan menjadi terbiasa dan otomatis.
b.      Teori Conditioning
Teori Conditioning dikemukakan oleh Pavlov. Menurut teori ini, seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaan karena adanya sesuatu tanda. Misalnya, suatu anak sekolah mendengar lonceng, kemudian berkumpul dan masuk kelas untuk belajar.
4.      Teori Konstruktivisme
Menurut pandangan dan teori konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif dari si subjek belajar untuk merekonstruksi makna sesuatu entah itu teks, kegiatan dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Belajar merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya berkembang. Subjek belajar juga mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari. Salah satu tokoh teori ini adalah Bettencourt.
Oemar Hamalik (2005:35-42) meninjau beberapa aliran psikologi saja, dalam hubungannya dengan teori belajar, yakni:
1.      Teori Psikologi Klasik
2.      Teori Psikologi Daya
3.      Teori Mental State
4.      Teori Psikologi Behaviorisme
5.      Teori Psikologi Gestalt

       Adapun penjelasan dari teori-teori di atas adalah sebagai berikut :
1.      Teori Psikologi Klasik
Tokoh dari teori ini adalah Jhon Locke. Menurut teori ini, hakikat belajar adalah all learning is a process of developing or training of mind. Teori belajar ini melihat objek dengan menggunakan substansi dan sensasi. Teori ini mengembangkan kekuatan mencipta, ingatan, keinginan, dan fikiran, dengan melatihnya. Dengan kata lain pendidikan adalah suatu proses dari dalam atau inner development. Tujuan pendidikan adalah self-development atau self-cultivation atau self-realization.
2.      Teori Psikologi Daya
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, mengingat, berfikir, merasakan, kemauan dan sebagainya. Tiap daya mempunyai fungsinya sendiri-sendiri. Tiap orang mempunyai semua daya-daya itu, hanya berbeda kekuatannya saja. Agar daya-daya itu berkembang (terbentuk), maka daya-daya itu perlu dilatih, sehingga dapat berfungsi. Teori ini bersifat formal, karena mengutamakan pembentukan daya-daya.
3.      Teori Mental State
Teori ini berpangkal pada psikologi asosiasi yang dikembangkan oleh J.Herbart.  Menurut teori ini, belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat indera yang disampaikan dalam bentuk perangsang-perangsang dari luar. Pengalaman-pengalaman berasosiasi dan bereproduksi. Karena itu latihan memegang peranan penting. Lebih banyak latihan dan ulangan, maka akan lebih dan lebih lama pengalaman dan pengetahuan itu tinggal dalam kesadaran dan ingatan seseorang, dan sebaliknya kurang ulangan dan latihan maka pengalaman/pengetahuan akan cepat terlupakan.
4.      Teori Psikologi Behaviorisme
Skinner adalah salah satu tokoh yang mengemukakan teori ini. Dalam teori ini belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Dengan memberikan stimulus, maka anak akan mereaksi dengan respons. Hubungan stimulus-respons ini akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar. Dengan latihan-latihan maka hubungan-hubungan itu akan menjadi kuat. Inilah yang disebut S-R Bond Theory.
5.      Teori Psikologi Gestalt
Beberapa pokok pemikiran teori psikologi gestalt mengenai belajar:
a.       Timbulnya kelakuan adalah berkat interaksi antara individu dan lingkungan di mana faktor herediter (natural endowment) lebih berpengaruh.
b.      Bahwa individu berada dalam keseimbangan dinamis, adanya gangguan terhadap keseimbangan dinamis, adanya gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong timbulnya kelakuan.
c.       Mengutamakan segi pemahaman (insight).
d.      Menekankan kepada adanya situasi sekarang, dimana individu menemukannya dirinya.
e.       Yang utama dan pertama ialah keseluruhan, dan bagian-bagian hanya bermakna dalam keseluruhan.
Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008: 17-27), teori belajar ada lima, diantaranya:
1.      Teori Ilmu Jiwa Daya
2.      Teori Tanggapan
3.      Teori Ilmu Jiwa Gestalt
4.      Teori Gagne
5.      Teori Ilmu Jiwa Asosiasi

           Adapun penjelasan dari teori-teori di atas adalah sebagai berikut :
1.      Teori Ilmu Jiwa Daya
Ahli ilmu jiwa dan daya mengemukakan suatu teori bahwa jiwa manusia mempunyai daya-daya, yaitu berupa kekuatan yang tersedia. Manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal. Untuk itu, jika ingin berhasil dalam belajar, semua daya yang ada dalam diri harus dilatih.
2.      Teori Tanggapan
Menurut teori tanggapan, belajar adalah memasukkan tanggapan sebanyak-banyaknya, berulang-ulang, dan sejelas-jelasnya. Banyak tanggapan berarti dikatakan pandai, sedikit tanggapan berarti dikatakan kurang pandai. Jika sejumlah tanggapan diartikan sebagai kesan, maka belajar adalah memasukkan kesan ke dalam otak dan menjadikan orang pandai. Kesan di sini tentu berupa ilmu pengetahuan yang didapat setelah belajar.
3.      Teori Ilmu Jiwa Gestalt
Menurut teori Gestalt, dalam belajar yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respon atau tanggapan yang tepat, mengerti atau memperoleh insight, bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari.
4.      Teori Gagne
Gagne mengatakan bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi menjadi lima kategori yang disebut the domainds of learning, yaitu keterampilan motorik, informasi verbal, kemampuan intelektual, strategi kognitif, dan sikap.
5.      Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
Teori asosiasi berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Ada dua teori yang sangat terkenal, yaitu :
a.       Teori Konektionisme, dinyatakan oleh Thorndike bahwa dasar belajar tidak lain adalah asosiasi antara kesan panca indera dengan impuls untuk bertindak.
b.      Teori Conditioning, yang menyatakan bahwa setiap bentuk kelakuan terjadi karena adanya conditioning. Karena kondisinya diciptakan, maka sudah menjadi kebiasaan. Kondisi yang diciptakan itu merupakan syarat, memunculkan refleks bersyarat.
Adapun teori belajar yang melandasi pembelajaran dengan pendekatan metakognitif adalah:
1. Teori Belajar Piaget
Jean Piaget lahir pada tahun 1896 di Neuchatel (Egan, 1984:56). Piaget adalah seorang psikolog Swiss yang sebelum Perang Dunia kedua memulai pekerjaan pentingnya tentang bagaimana anak-anak berkembang dan belajar. Teori Piaget dikembangkan berdasarkan observasi terhadap anak.
Piaget (dalam Muijs, 2008:23)  menyatakan bahwa:
Salah satu pengaruh utama pada perkembangan kognitif anak adalah apa yang diistilahkannya maturation (maturasi, kematangan), terbentangnya perubahan biologis yang terpendekatan secara biologis pada saat  dilahirkan. Faktor yang kedua adalah activity (aktivitas). Semakin meningkatnya maturasi menyebabkan semakin meningkatnya kemampuan anak untuk menghadapi lingkungannya, dan untuk belajar dari tindakannya. Hasil belajar ini pada gilirannya akan menghasilkan perubahan pada proses berfikir anak. Faktor yang ketiga di dalam perkembangan adalah social transmission (transmisi sosial), belajar dari orang lain.  Pada   saat   menghadapi   lingkungannya,   anak   juga berinteraksi dengan orang lain dan dengan demikian mereka juga dapat belajar dari mereka dengan tingkat belajar yang berbeda tergantung tahap perkembangannya.

Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kematangan, sehingga diharapkan akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan kognitif anak. Selain itu, Piaget (dalam Erman Suherman, et al., 2001:38) berpendapat bahwa:
Pengetahuan seseorang itu berdasarkan proses penyerapan dan  menyusun kembali. Pembelajaran hendaknya melihat kemampuan siswa untuk mengatasi masalah. Perkembangan kognitif dalam teori ini lebih dari sekedar menambahkan fakta-fakta dan ide-ide baru ke simpanan informasi yang sudah ada.

Teori belajar Piaget sejalan dengan pembelajaran yang menerapkan pendekatan metakognitif. Menurut teori tersebut proses penyerapan dan menyusun kembali pengetahuan tersebut merupakan hal yang ditekankan pada pembelajaran, karena peran guru hanya sebagai fasilitator untuk mengembangkan kesadaran siswa tentang apa yang harus dilakukan ketika belajar sesuai dengan tingkat kematangannya.

2. Teori Belajar Konstruktivisme
  Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan seseorang dikonstruksi oleh orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi akibat adanya suatu pemahaman baru.
Di dalam konstruktivisme peranan guru bukan pemberi jawaban akhir atas pertanyaan siswa, melainkan mengarahkan mereka untuk membentuk (mengkonstruksi)  pengetahuan sehingga diperoleh jawabannya. Sedangkan dalam paradigma tradisional, guru mendominasi pembelajaran dan guru senantiasa menjawab dengan segera terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Werrington (dalam Erman Suherman et al., 2001:70):
Dalam kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika siswa memberikan  jawaban, guru  mencoba  untuk  tidak mengatakan jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akalnya.

Selain itu Muijs (2008:97) menyatakan bahwa :
Di dalam pendidikan, ide-ide konstruktivis diterjemahkan sebagai berarti bahwa semua pelajar benar-benar mengkonstruksikan pengetahuan untuk dirinya sendiri, dan bukan pengetahuan yang datang dari guru dan diserap oleh murid. Ini berarti bahwa setiap murid akan mempelajari sesuatu yang sedikit berbeda dengan pelajaran yang diberikan, dan bahwa sebagai guru  tidak dapat memastikan bahwa murid-murid  akan belajar. Bagi kebanyakan guru, ini akan tampak seperti ide yang bersifat commonsensical (pengetahuan umum), sesuatu yang sudah dilihat oleh semua guru di dalam pelajaran mereka.

Teori konstruktivisme ini sejalan dengan pembelajaran yang menerapkan pendekatan metakognitif. Dalam pembelajarannya guru membantu mengembangkan kesadaran tentang apa yang mereka ketahui dan bagaimana melakukannya, bukan sebagai pihak yang mendominasi pembelajaran, belajar merupakan proses menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya berkembang, serta siswa akan mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal. M. Uzer Usman (2010:16) menjelaskan dua faktor yang mempengaruhi  belajar yaitu :
1.      Faktor Internal
a.       Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk ini adalah panca indera.
b.      Faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh :
1)      Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial seperti kecerdasan dan bakat
2)      Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu, seperti sikap, kebiasaan, minat, motivasi, emosi dan penyesuaian diri
c.       Faktor kematangan fisik
2.      Faktor Eksternal
a.       Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan kelompok
b.      Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian
c.       Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar
d.      Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan
Disamping itu, menurut Muhibbin Syah (2010: 129) faktor-faktor yang mempengaruhi  belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
1.      Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa.
2.      Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3.      Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

Faktor-faktor di atas dalam banyak hal saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal), biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), sehingga akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi  belajar menurut Ngalim Purwanto (2010: 107) dapat digambarkan sebagai berikut :


                                                                           Alami
                       Lingkungan        
                                                                                             
  Luar                                          Sosial
                                                                              
                                                                             Kurikulum/Bahan Pelajaran                                    Guru/Pengajar
   Faktor                                 Instrumenal           Sarana dan fasilitas
                                                                             Administrasi/Manajemen
                                                Fisiologis         Kondisi fisik
                          Dalam                                    Kondisi panca indera     
                                                                            Bakat                                                                                                                               Minat          
                                                Psikologis            Kecerdasan
                                                                            Motivasi     
                                                                            Kemampuan kognitif                                                                                      Gambar 2.1
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Gambar di atas menjelaskan bahwa ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi  belajar. Adapun faktor-faktor itu dapat berasal dari dalam atau dari luar (internal/eksternal). Dari dalam diri siswa sendiri faktor-faktor yang dapat mempengaruhi  belajar adalah: faktor fisiologis (kondisi fisiologis/fisik, kondisi panca indera), psikologis (minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif). Sedangkan faktor dari luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan (alami dan sosial budaya) dan faktor instrumenal (kurikulum, guru/pengajar, sarana dan fasilitas serta administrasi/manajemen).
Pendapat lain diungkapkan oleh Slameto (2010:54)  mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi  belajar adalah:
1. Faktor - Faktor Intern
a.       Faktor jasmaniah seperti faktor kesehatan dan cacat tubuh
b.      Faktor psikologis seperti intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan
c.       Faktor kelelahan baik secara jasmani maupun rohani
2.  Faktor Ekstern
a.       Lingkungan keluarga
b.      Lingkungan sekolah
c.       Lingkungan masyarakat

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat diketahui bahwa pada dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa terdiri dari dua faktor utama, yakni faktor dalam diri siswa (faktor internal) seperti jasmaniah dan  psikologis serta faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal) seperti sosial, budaya, lingkungan fisik, dan spiritual.

2.2 Pendekatan Metakognitif
2.2.1 Pengertian Pendekatan Metakognitif
Metakognitif merupakan istilah yang dibuat oleh Flavell pada tahun 1976 yang menimbulkan banyak perdebatan dalam mendefinisikannya” (Arends, 2008:266). Arti metakognitif tidak selalu sama di dalam berbagai macam bidang penelitian. Ketidakkonsistenan ini muncul karena peneliti mendefinisikannya sesuai dengan bidang penelitiannya. Namun demikian, pengertian metakognitif yang dikemukakan oleh para peneliti pada umumnya memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri.
Istilah metakognitif merupakan kata sifat dari metakognisi. Livingston (dalam Arends, 2008: 266)  menyatakan bahwa metakognitif secara sederhana sering diartikan sebagai berpikir tentang berpikir”. Adapun menurut Muijs et al. (2008:191) menyatakan bahwa:


Istilah ini pada dasarnya mencakup pengetahuan tentang proses berfikir  sendiri, regulasi diri, dan memantau apa yang sedang  kerjakan, mengapa  mengerjakan itu, dan apa yang sedang  kerjakan dapat membantu (atau tidak dapat membantu) mengatasi masalah

  Di samping itu, Weinstein et al. (1988:150) mengemukakan bahwa “metacognitive is skills provide the basic sturucture for the development of  positive self –control”. Metakognitif merupakan kemampuan menyajikan struktur dasar untuk perkembangan kontrol/pengedalian diri yang positif.
  Di sisi lain Arends (2008:266) mendefinisikan metakognitif  sebagai “pengetahuan seseorang tentang proses-proses kognitifnya sendiri.”
Adapun pengertian metakognitif menurut Erman Suherman, et al. (2001:95) “metakognitif adalah suatu kata yang berkaitan dengan apa yang dia ketahui tentang dirinya sendiri sebagai individu yang belajar dan bagaimana dia mengontrol serta menyesuaikan prilakunya”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan metakognitif  adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa yang secara sadar mengatur proses berpikirnya sendiri dan membuat strategi-strategi untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan, sehingga kemampuan untuk melihat pada diri sendiri dapat  terkontrol secara optimal

2.2.2 Tujuan Pendekatan Metakognitif
Metakognitif adalah  salah satu elemen penting dalam  mengatasi masalah akuntansi.  Hal ini  diungkapkan oleh Schoenfeld (dalam Muijs et al., 2008:191):


Jelas bahwa metakognitif amat sangat penting bagi anak, bukan hanya untuk mengembangkan keterampilan mengatasi masalah mereka tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan berpikir secara umum. Metakognitif yang telah dikembangkan juga adalah membuat murid-murid menyadari kekuatan dan kelemahannya. Kurangnya metakognitif membuat anak-anak menggunakan strategi mengatasi masalah yang tidak efektif (benar tetapi lambat dan tidak efisien). Dengan demikian, agar dapat  belajar secara lebih efektif, proses metakognitif harus diungkapkan secara terbuka dan regulasi diri perlu dijadikan sebuah proses sadar (proses yang dilakukan dengan sengaja)

Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari penerapan pendekatan metakognitif dalam pembelajaran akuntansi di sekolah adalah sebagai berikut:
  1. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah akuntansi
  2. Mengembangkan keterampilan berfikir secara umum, seperti siswa menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya dalam proses pembelajaran.
  3. Menghasilkan pembelajaran yang efektif melalui penerapan pendekatan metakognitif dalam pembelajaran.


2.2.3 Kategori Pendekatan Metakognitif
Secara khusus Schoenfeld  (dalam Muin, 2005:34) menandai tiga kategori metakognitif dalam pembelajaran, yaitu :
1.   Keyakinan dan intuisi
Ide-ide apa yang dapat digunakan dalam mengerjakan dan bagaimana ide-ide tersebut dapat menentukan cara dalam proses penyelesaian masalah
2.   Pengetahuan mengenai proses berpikir seseorang
Ini berkaitan dengan seberapa besar akurat seseorang dapat menggambarkan mengenai pemikirannya. Pemecahan masalah yang baik menggunakan apa yang diketahui secara efisien
3.   Kesadaran diri atau pengaturan diri
Kesadaran atau pengaturan diri ini dapat dipikirkan menggunakan pendekatan pengelolaan yang meliputi aspek-aspek:
a)   Mengakses pemahaman terhadap masalah secara keseluruhan
b)   Merencananakan strategi penyelesaian
c)   Memonitor dan mengontrol cara-cara penyelesaian berjalan
d)  Mengalokasikan hasil, memutuskan apa yang harus dilakukan dan berapa lama masalah tersebut diselesaikan.

Siswa dapat menggunakan keyakinan dan intuisi yang dimilikinya untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Keyakinan dan intuisi tersebut akan menghasilkan ide-ide yang digunakan siswa untuk menyelesaikan masalah. Kategori lainnya adalah seberapa akurat seseorang dapat menggambarkan pemikirannya sendiri, seperti kesadaran diri apa yang sudah diketahuinya, apa yang belum diketahuinya, serta bagaimana strategi yang bisa digunakan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Setelah siswa mampu menggambarkan pemikirannya sendiri, siswa akan melakukan pengaturan terhadap dirinya sendiri. Apabila siswa dihadapkan kepada permasalahan, siswa mampu mengatur pemahamannya terhadap masalah secara keseluruhan, merencananakan strategi penyelesaian, memonitor dan mengontrol cara-cara penyelesaian berjalan, mengalokasikan hasil, memutuskan apa yang harus dilakukan dan berapa lama masalah tersebut diselesaikan.

2.2.4 Manfaat Pendekatan Metakognitif dalam Keberhasilan Belajar
Arends (2008:267)  berpendapat bahwa “metakognitif memberikan manfaat dalam keberhasilan pembelajaran”. Melalui pendekatan metakognitif siswa mengetahui kapan menggunakan pengetahuan tertentu dan kesadaran tentang kognisinya sendiri, sebagai contoh siswa mengetahui kapan perlu merangkum suatu bagian bacaan tertentu ketika membaca, serta mengetahui pemikiran atau pendapatnya sendiri tentang sebuah topik.
Hasil penelitian para ahli psikologi kognitif tentang perbedaan antara siswa yang kurang pandai dan lebih pandai menunjukkan bahwa kemampuan metakognitif adalah sangat penting. Disamping itu Arends (2008:268) menyatakan bahwa:
Kemampuan metakognitif siswa dapat diberdayakan melalui strategi-strategi pembelajaran di sekolah. Kemampuan metakognitif untuk memonitor hasil belajar siswa sendiri dengan menggunakan strategi tertentu, agar belajar dan mengingat dapat berkembang. Mengidentifikasi ide-ide penting dengan menggarisbawahi atau menemukan kata kunci pada bahan bacaan, kemudian merangkai menjadi satu kalimat dan menulis kembali pada jurnal belajar, meramalkan hasil, memutuskan bagaimana menggunakan waktu dan mengulang informasi.

Pendekatan metakognitif dapat dilakukan dengan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan terdahulu, memilih strategi berpikir secara sengaja, merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses berpikir. Pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan seseorang tentang pembelajaran diri sendiri atau kemampuan untuk menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan benar. Arends (2008:269) berpendapat bahwa:
Pembelajaran metakognitif bagi siswa adalah penting. Jika siswa telah memiliki metakognitif, siswa akan terampil dalam strategi metakognitif. Siswa yang terampil dalam strategi metakognitif akan lebih cepat menjadi anak mandiri.

Berdasarkan  pendapat di atas dapat diketahui manfaat metakognitif bagi guru dan siswa adalah menekankan pemantauan diri dan tanggung jawab guru dan siswa. Pemantauan diri merupakan keterampilan berpikir tinggi. Howard (dalam Arends, 2008:268)  menyatakan metakognitif diyakini memegang peranan penting pada banyak  tipe aktivitas kognitif termasuk pemahaman, komunikasi, perhatian (attention), ingatan (memory), dan pemecahan masalah.  Hal ini menunjukkan bahwa metakognitif memegang salah satu peranan kritis dan penting agar pembelajaran berhasil.  

2.3 Pemecahan Masalah
2.3.1 Pengertian Pemecahan Masalah
2.3.1.1 Masalah
Masalah pada umumnya dapat diartikan sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Masalah merupakan hal yang relatif. Suatu soal dapat dianggap masalah bagi seorang siswa, tetapi mungkin saja soal tersebut merupakan soal yang rutin bagi siswa lain.
Suatu soal dapat merupakan suatu masalah bagi siswa apabila siswa tersebut tidak memiliki suatu cara tertentu yang dapat dipergunakan sesegera mungkin untuk menentukan jawaban dari pertanyaan itu, tetapi siswa tersebut memiliki pengetahuan untuk menyelesaikannya. Artinya, suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi siswa, tetapi mungkin bukan merupakan suatu masalah bagi siswa yang lain. Pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa yang tidak bermakna bukan merupakan masalah bagi siswa tersebut. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang diajukan kepada siswa haruslah dapat diterima oleh siswa tersebut. Pertanyaan itu harus sesuai dengan struktur kognitif siswa.
Menurut Herman Hudojo (2001:163) syarat suatu soal menjadi masalah bagi siswa adalah sebagai berikut:
a.       Pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa haruslah dapat dimengerti oleh siswa tersebut, namun pertanyaan itu harus merupakan tantangan baginya untuk menjawabnya.
b.     Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang telah diketahui siswa.
Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa yang dimaksud masalah dalam penelitian ini adalah pertanyaan dalam mata pelajaran akuntansi yang prosedur penyelesaiannya tidak rutin, yakni dilaksanakannya evaluasi atau pemeriksaan kembali terhadap jawaban, namun soal tersebut dimengerti oleh siswa dan menjadi tantangan bagi siswa untuk menjawabnya.
                                                                                  
2.3.1.2 Pemecahan Masalah
Menurut Gagne (dalam Made Wena, 2010:52), yang dimaksud dengan kemampuan pemecahan masalah adalah:
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari itu, merupakan proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi.

Apabila siswa telah mendapatkan suatu kombinasi perangkat aturan yang terbukti dapat dioperasikan sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi, maka siswa tidak saja dapat memecahkan suatu masalah, melainkan juga telah berhasil menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang dimaksud adalah perangkat prosedur atau strategi yang memungkinkan siswa dapat meningkatkan kemandirian dalam berpikir.
Berdasarkan pendapat di atas pemecahan masalah merupakan suatu cara yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah, pada sisi lain masalah itu sendiri merupakan suatu persoalan yang tidak dikenalnya karena tidak bisa dijawab secara rutin, yakni dilaksanakannya evaluasi atau pemeriksaan kembali terhadap jawaban, namun siswa tersebut memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya terlepas apakah siswa berhasil menemukan jawabannya atau tidak. Pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu persoalan dalam bentuk soal akuntansi melalui tahapan Polya, yakni memahami masalah, merencanakan alternatif penyelesaian masalah, melaksanakan penyelesaian masalah, dan memeriksa kembali hasil.

2.3.2 Langkah-Langkah Pemecahan Masalah
Berbicara pemecahan masalah tidak bisa lepas dari tokoh utamanya yaitu George Polya. Menurut Polya dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu: (1) memahami masalah, (2) merencanakan pemecahannya, (3) menyelesaikan masalah sesuai rencana langkah kedua, dan (4) memeriksa kembali hasil yang diperoleh (Erman Suherman et al., 2001:84).
Kemudian Polya (dalam Jacob, 2000:4) membagi menjadi 4 langkah dalam pemecahan masalah, yaitu:
Langkah 1 : Memahami masalah (Understand the Problem)
1)      Apakah anda memahami semua kata-kata? (Do you understand the words)
2)      Dapatkah anda menyatakan kembali masalah itu dalam kata-kata anda sendiri? (Can You Restate the problem in your own word)
3)      Apakah anda mengetahui apa tujuannya? (Do you know what the goal is)
4)      Apakah anda cukup informasi? (Is there enough information)
5)      Apakah ada informasi asing ? (is there extraneous information)
6)      Apakah masalah ini serupa dengan masalah lain yang telah anda selesaikan? (Is this problem similar to another problem you have solved)
  Langkah 2: Melengkapi suatu rancangan (Device  a plan)
1)      Perkiraan dan tes (Guess and test)
2)      Menggunakan suatu variable (use a variable)
3)      Menggambarkan suatu gambar (draw a picture)
4)      Mencari suatu pola (look for pattern)
5)      Membuat suatu daftar ( make a list)
6)      Menyelesaikan suatu masalah yang sangat sederhana (solve a simple problem)


  Langkah 3: Melaksanakan rancangan
1)      Melaksanakan strategi atau strategi-strategi yang anda telah memilih sampai masalah itu diselesaikan atau sampai suatu pelajaran baru dari tindakan yang diajukan
2)      Berikan sejumlah waktu yang layak dari diri anda sendiri dalam menyelesaikan masalah. Jika anda belum berhasil, meminta petunjuk dari yang lainnya atau mengesampingkan masalah itu untuk sejenak
3)      Jangan marah atas acara permulaan. Seringkali, memulai lagi dari semula dan memulai lagi suatu strategi baru akan berperan kepada keberhasilan.
  Langkah 4 : Menelaah kembali (Look Back)
1)      Apakah solusi anda benar? Apakah jawaban anda memenuhi pertanyaan dari masalah itu
2)      Dapatkah anda melihat suatu solusi termudah?
3)      Dapatkah anda melihat bagaimana anda mengembangkan solusi anda kepada suatu kasus yang lebih umum?


2.3.3 Tujuan Kemampuan Pemecahan Masalah
Pada dasarnya pendekatan pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan tentang mengapa hal itu terjadi. Berpijak pada hal tersebut, kemampuan siswa dalam pemecahan masalah menjadi sangat penting.
Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan  aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari itu, yaitu merupakan proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi. Prinsip pemecahan masalah adalah melakukan operasi prosedural urutan tindakan, tahap demi tahap secara sistematis.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan pemecahan masalah dalam kegiatan pembelajaran adalah agar siswa mampu memberikan makna terhadap pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada struktur kognitifnya. Asimilasi adalah proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru ke dalam skemata yang telah terbentuk, sedangkan akomodasi adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung.

2.3.4 Pendekatan Metakognitif Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Akuntansi
Menurut Muijs et al. (2008:186) ada empat macam pendekatan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahan masalah yakni:
1.      Salah satu pendekatan yang populer adalah mengajarkan sejumlah keterampilan problem solving (mengatasi masalah) kepada murid. Pendekatan ini disebut pendekatan heuristik.
2.      Pendekatan metakognitif mulai dari premis bahwa kinerja siswa dapat ditingkatkan melalui pemahaman dan kesadaran yang lebih baik tentang proses berpikirnya sendiri. Mengajarkan self-awareness (kesadaran tentang diri sendiri) merupakan inti dari pendekatan ini.
3.      Sebagian pendidik percaya bahwa pembelajaran open-ended dan aktif, yang didorong oleh metode mengajar konstruktivis, sudah cukup untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi murid
4.      Berdasarkan teori Piaget, pendekatan berpikir formal yang dimaksudkan untuk membantu murid menjalani transisi antar-tahap perkembangan dengan lebih mudah

Dari empat pendekatan tersebut di atas, metakognitif merupakan salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi. dalam pendekatan metakognitif siswa memiliki pengetahuan tentang proses berfikirnya sendiri, regulasi diri dan memantau apa yang sedang dikerjakan, mengapa mengerjakan itu, dan apa yang sedang  kerjakan dapat membantu (atau tidak dapat membantu) mengatasi masalahnya. Apabila siswa memiliki pengetahuan tentang proses berfikirnya sendiri, diharapkan kinerja siswa dapat ditingkatkan. Seorang siswa yang memiliki kinerja yang baik, akan menghasilkan hasil yang baik pula. Hal ini menunjukan bahwa pendekatan metakognitif dapat diajukan sebagai salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi.

2.4 Materi Pelajaran Akuntansi
2.4.1 Pengertian Akuntansi
American Accounting Association (Ajang Mulyadi, 2002:2) mendefinisikan ‘akuntansi sebagai proses mengidentifikasi, mengukur dan mengkomunikasikan informasi ekonomi sebagai dasar pertimbangan dan pengambilan keputusan para pemakainya’. Definisi ini mengandung beberapa pengertian, yakni:
1.      Bahwa akuntansi merupakan proses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran dan pelaporan informasi ekonomi.
2.      Bahwa informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan.
Horngren, et al. (1996:3) mengemukakan pengertian akuntansi bahwa “akuntansi adalah suatu sistem yang mengukur aktivitas-aktivitas bisnis, memproses informasi tersebut ke dalam bentuk laporan-laporan dan mengkomunikasikan kepada para pengambil keputusan”
Kemudian menurut American Institute of Certified Public Accountants/AICPA (dalam Sofyan Syafri Harahap, 2007:5) bahwa pengertian ‘akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya’
Definisi menurut Accounting Principle Board/APB Statemen No.4 (dalam Sofyan Syafri Harahap, 2007:5)) adalah sebagai berikut:
Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi sebagai dasar memilih di antara beberapa alternatif.

Definisi akuntansi menurut America Accounting Association/AAA (dalam Lili M. Sadeli, 2009: 2) “the process of identifying, measuring, and communicating economic information to permit informed judgments and decisions by users of the information”. Proses mengidentifikasi, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi, untuk membuat pertimbangan dan mengambil keputusan yang tepat bagi informasi tersebut.
Di sisi lain Ely Suhayati et al. (2009: 2) mengungkapakan pengertian akuntansi sebagai berikut:
1. Akuntansi merupakan proses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran, dan pelaporan informasi ekonomi. (Bagian ini menjelaskan tentang kegiatan ekonomi)
2. Informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan. (Segi kegunaan dari akuntansi)

Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan pada dasarnya akuntansi merupakan kegiatan pelayanan jasa untuk menyediakan informasi bagi pemakainya, baik itu pemakai dari pihak internal organisasi maupun eksternal organisasi.

2.4.2 Siklus Akuntansi
  Skematik siklus akuntansi menurut Rahmat Moeslihat (2005:57) adalah sebagai berikut:
 















Gambar 2.2
Skematik Siklus Akuntansi



2.4.3 Karakteristik Pembelajaran Akuntansi
Karakteristik materi yang dipelajari dalam akuntansi menurut Umi Muawanah et al. (2008: 34)  adalah belajar informasi, konsep, dan keterampilan. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :
1.        Belajar Informasi
Belajar Informasi merupakan segala sesuatu yang berwujud pengertian-pengertian baru yang timbul sebagai hasil pemikiran meliputi definisi, ciri khusus, isi, dan sebagainya. Dalam pembelajaran akuntansi, informasi ini sifatnya lebih kepada teori tanpa terdapat demonstrasi (pengerjaan soal). Informasi yang disajikan mengenai teori akuntansi tentunya harus relevan, mudah dipahami, dapat diukur, dapat dipercaya kebenarannya, dan akurat.
2.      Belajar Konsep
Konsep merupakan abstraksi kesamaan yang berdasarkan fakta dan definisi. Dengan mengajarkan konsep maka dapat dikembangkan kemampuan kognitif dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Konsep dapat dikembangkan untuk ingatan, pemahaman, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang mengundang kemampuan berfikir tinggi. Dalam pembelajaran akuntansi, selain menjelaskan juga dituntut untuk mendemonstrasikan dengan memberikan contoh yang terkait dengan konsep tersebut.
3.      Belajar Keterampilan
     Dalam pembelajaran akuntansi, diperlukan keterampilan kognitif tingkat tinggi atau keterampilan intelektual. Menurut Bloom (dalam Indra, 2008:24):
Keterampilan intelektual merupakan kemampuan menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Selain itu, keterampilan intelektual juga merupakan pengaplikasian teori yang telah didapatkan dari ranah kognitif melalui materi yang disampaikan.

    Dalam pembelajaran akuntansi, pengembangan keterampilan intelektual merupakan kelanjutan dari proses pengajaran pengetahuan dan pemahaman. Keterampilan intelektual akan bertambah baik fungsinya apabila diikuti dengan latihan, dalam hal ini untuk pelajaran akuntansi adalah latihan studi kasus seperti pembuatan jurnal, posting, pembuatan laporan keuangan, dan sebagainya. Studi kasus dapat digunakan guru untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi yang biasanya memberikan berbagai tantangan.
Tantangan yang dikemukakan suatu kasus mengundang siswa untuk memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, dan pengalamannya dalam menghadapi berbagai masalah baru bagi dirinya. Artinya studi kasus  memiliki kemampuan untuk mengembangkan daya berfikir imajinatif pada diri siswa sehingga mereka mampu menciptakan kemampuan pemecahan masalah akuntansi.

2.4.4 Jurnal Penyesuaian
Akun yang menunjukkan keadaan yang sebenarnya dapat digunakan langsung untuk menyusun laporan keuangan, sedangkan yang belum menunjukkan keadaan yang sebenarnya harus disesuaikan terlebih dahulu. Buku/daftar yang digunakan untuk mencatat akun buku besar yang perlu disesuaikan agar menunjukkan keadaan yang sebenarnya dinamakan pos penyesuaian/jurnal penyesuaian (adjusting entries). Tujuan penyesuaian adalah untuk memisahkan antara biaya yang sudah menjadi beban pada suatu periode akuntansi dengan yang belum, selain itu antara pendapatan yang sudah menjadi hak dan yang belum menjadi hak. Hal ini sejalan dengan pendapat  Alam S (2004:117) bahwa “fungsi ayat jurnal penyesuaian adalah untuk mengubah sedemikian rupa nilai akun sehingga neraca saldo memperlihatkan saldo yang sebenarnya”. Akun yang biasanya memerlukan penyesuaian menurut Alam S (2004:117) antara lain:
a.       Beban yang masih harus dibayar/utang biaya (accrued expenses)
Dalam hal ini, perusahaan memiliki beban untuk periode yang berjalan, akan tetapi belum dibayarkan yang akan menimbulkan kewajiban bagi perusahaan tersebut.
b.      Perlengkapan/bahan habis pakai (supplies)
Pada akhir periode, perusahaan akan melakukan penyesuaian terhadap perlengkapan yang sudah menjadi beban dan berapa sisa perlengkapan yang belum terpakai.
c.       Pendapatan yang masih harus diterima/piutang pendapatan (accurued income)
Selama periode akuntansi, beberapa pendapatan akrual dicatat hanya ketika kas diterima. Jadi, pada akhir periode akuntansi, mungkin saja terdapat pendapatan yang telah dihasilkan namun belum dicatat. Dalam kasus semacam itu, jumlah pendapatan harus dicatat dengan mendebit akun aktiva dan mengkredit akun pendapatan.
d.      Penyusutan aktiva tetap (depreciation)
Sumber daya fisik yang dimiliki serta digunakan oleh bisnis dan bersifat permanen atau tahan lama disebut aktiva tetap. Dalam pengertian tertentu, aktiva tetap adalah jenis beban yang ditangguhkan dalam jangka panjang. Namun dengan berlalunya waktu, aktiva tetap kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan manfaat. Berkurangnya kemampuan untuk menghasilkan manfaat ini  disebut penyusutan (depreciation).
e.       Beban dibayar dimuka(prepaid expenses)
Merupakan aktiva yang akan menjadi beban pada periode mendatang.
f.       Pendapatan yang diterima dimuka (deferred revenue)
Pendapatan yang diterima dimuka merupakan pendapatan untuk beberapa jangka waktu yang sekaligus diterima diawal. Hal ini memerlukan penyesuaian di akhir periode akuntansi.
g.      Piutang tak tertagih
Perusahaan akan mengalokasikan cadangan untuk mengantisipasi piutang yang tidak bisa ditagih dari pelanggan.
h.      Pembetulan kesalahan
  
2.5 Kerangka Pemikiran
Pada dasarnya pendekatan pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan tentang mengapa hal itu terjadi. Berpijak pada permasalahan tersebut, maka pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diterapkan.
Idealnya aktivitas pembelajaran tidak hanya difokuskan pada upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan juga bagaimana menggunakan segenap pengetahuan yang diperoleh untuk menghadapi situasi baru atau memecahkan masalah-masalah khusus yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari.
Kenyataan di lapangan menunjukkan dalam melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM) di kelas, pemecahan masalah dalam pembelajaran akuntansi belum dijadikan sebagai kegiatan yang paling utama dalam pembelajaran, guru masih terbatas dalam memberikan latihan pengerjaan soal, sehingga kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi belum seutuhnya tergali secara optimal.
Proses penyelesaian masalah dikenal sebagai suatu proses pemecahan masalah. Pemecahan masalah secara sederhana, merupakan suatu proses penerimaan masalah sebagai tantangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pemecahan masalah akuntansi siswa dalam pembelajaran merupakan pendekatan dan tujuan yang harus dicapai. Pemecahan masalah sebagai pendekatan dalam pembelajaran  digunakan untuk menemukan dan memahami materi atau konsep, sedangkan sebagai tujuan dalam pembelajaran diharapkan agar siswa dapat: mengidentifikasi unsur yang diketahui, ditanyakan, serta kecakapan akuntansi; menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah; menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal; dan menyusun penyelesaiannya.
Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi dapat dibentuk melalui pendekatan metakognitif dalam aktifitas pembelajaran di kelas. Dalam sudut pandang lain, metakognitif merupakan keterampilan kompleks. Metakognitif dibutuhkan siswa untuk menguasai suatu jangkauan keterampilan khusus, kemudian mengumpulkan dan mengumpulkan kembali keterampilan-keterampilan ini ke dalam strategi belajar yang tepat terhadap suatu masalah khusus. Penerapan pendekatan metakognitif dalam pembelajaran akuntansi sangat membantu siswa dalam menyadarkan apa yang mereka pelajari sehingga proses belajarnya dapat terkontrol dengan baik dan efektif.
Guru dalam pembelajaran metakognitif di dalam kelas harus berusaha mengajari siswa untuk merencanakan, memantau, dan merevisi pekerjaan mereka sendiri termasuk tidak hanya membuat siswa sadar tentang apa yang  mereka tahu, tapi juga apa yang bisa mereka lakukan ketika mereka gagal untuk memahami. Dengan demikian, guru harus terfokus dalam mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkan soal serta rasa percaya diri siswa di dalam kemampuan memecahkan masalah akuntansi siswa.
Dalam kaitan pendekatan metakognitif dengan pemecahan masalah, pembelajaran dengan pendekatan metakognitif mengarahkan perhatian siswa untuk mempelajari, memahami masalah, bagaimana, dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah akuntansi, serta membimbing mereka untuk memilih strategi yang cocok untuk menyelesaikan soal-soal atau masalah akuntansi.
Penerapan pendekatan metakognitif dalam pembelajaran akuntansi merupakan salah satu upaya konkrit dalam meningkatkan kualitas pembelajaran akuntansi di sekolah. Dengan kualitas pembelajaran yang meningkat, kompetensi akuntansi yang disyaratkan oleh kurikulum tingkat satuan pendidikan diharapkan dapat selalu ditingkatkan, salah satunya adalah kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari bahasan di atas adalah pendekatan metakognitif merupakan salah satu upaya untuk mengatur proses kognitif siswa dalam kegiatan PBM. Melalui pendekatan metakognitif yang diterapkan oleh guru dalam PBM di kelas, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi. maka dari uraian tersebut, dapat digambarkan alur kerangka berpikir secara skematik yaitu sebagai berikut:
 





                                                                           






   










Gambar 2.3
Skematik Kerangka Pemikiran


2.6 Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

Terdapat perbedaan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi antara sebelum dan sesudah penerapan pendekatan metakognitif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar