2.1 Belajar
2.1.1 Pengertian
Belajar
Untuk
memperoleh pengertian yang objektif tentang belajar terutama belajar di
sekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Pengertian belajar
sudah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi termasuk ahli psikologi
pendidikan.
Menurut
pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:2)
“aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah
kesan dari apa yang telah dipelajari dan sebagai hasil dari interaksinya dengan
lingkungan sekitarnya”.
Di sisi lain
pengertian belajar diungkapkan pula oleh Slameto (2010:2) “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Adapun
pengertian belajar menurut Gage (dalam Ratna W. Dahar, 1996: 11) adalah sebagai berikut:
Suatu
proses dimana organisme berubah tingkah lakunya sebagai akibat pengalaman, hal
ini membatasi berbagai perubahan prilaku yang disebabkan oleh proses belajar,
jadi bukan perubahan prilaku akibat kematangan (maturity) atau karena
proses fisiologis dan mekanis.
Disamping
itu pengertian belajar menurut Bruner (dalam Ratna W. Dahar, 1996:101) adalah sebagai berikut:
Pengembangan
kategori-kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean (coding) yang
melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu memperoleh
informasi baru, transformasi informasi dan memuji relevansi serta ketetapan
pengetahuan.
Cronbach (dalam
Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 13) berpendapat bahwa ‘learning is shown by change in
behavior as a result of experience’. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Howard L. Kingskey (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 13) mengatakan bahwa ‘learning is
the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed
through practice or training’. Belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti
luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Geoch (dalam
Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 13) merumuskan bahwa ‘learning is change is performance as
a result of practice’. Belajar
merupakan perubahan prilaku sebagai hasil dari latihan.
Dari beberapa definisi belajar di atas, terlihat
bahwa salah satu ciri dari belajar adalah adanya perubahan dalam diri suatu
individu. Namun menurut Slameto (2010:3), perubahan sebagai ciri belajar adalah
sebagai berikut:
Suatu
perubahan yang disadari, bersifat kontinu dan fungsional, bersifat positif dan
aktif, perubahan bukan bersifat sementara, perubahan tersebut memiliki arah dan
tujuan, serta perubahannya mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan dari suatu individu yang
disadari, bersifat kontinu dan fungsional, positif dan aktif, perubahannya
bukan bersifat sementara, perubahan tersebut memiliki arah dan tujuan, serta
perubahannya mencakup seluruh aspek tingkah laku.
2.1.2 Teori Belajar
Secara global, Sardiman A. M (2011: 30-38)
mengemukakan empat teori belajar, yaitu:
1. Teori Ilmu Jiwa Daya
2. Teori Ilmu Jiwa Gestalt
3. Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
4. Teori Konstruktivisme
Adapun penjelasan dari teori-teori di atas adalah sebagai berikut :
1. Teori Ilmu Jiwa Daya
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari bermacam-macam daya. Masing-masing daya dapat dilatih dalam
rangka untuk memenuhi fungsinya. Untuk melatih suatu daya itu dapat digunakan
berbagai cara atau bahan. Misalnya, untuk melatih daya ingat dalam belajar
dengan menghafal kata-kata atau angka. Dalam hal ini, yang terpenting bukanlah
penguasaan bahan atau materinya, melainkan hasil dari pembentukkan daya-daya
itu. Kalau sudah demikian, maka seseorang yang belajar itu akan berhasil.
2. Teori Ilmu Jiwa Gestalt
Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian/
unsur. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula pada suatu pengamatan yang
menyeluruh. Tokoh penting yang merumuskan penerapan dari kegiatan pengamatan ke
kegiatan belajar itu adalah Koffka. Dalam kegiatan pengamatan keterlibatan
semua panca indra sangat diperlukan. Menurut teori ini mudah atau sukarnya
suatu pemecahan masalah tergantung pada pengamatan. Menurut aliran teori ini
juga, seseorang dikatakan belajar jika mendapatkan insight yang
diperoleh jika seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam
situasi tertentu. Timbulnya insight itu sendiri tergantung pada
kesanggupan, pengalaman, taraf kompleksitas dari suatu situasi, latihan, dan trial and error.
3. Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
Ilmu Jiwa Asosiasi berpendapat bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri
dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Dari aliran ini, ada dua
teori yang sangat terkenal, yakni:
a. Teori Konektionisme
Menurut Thorndike, dasar dari belajar itu adalah asosiasi antara kesan
panca indra (sense impresion) dengan impuls untuk bertindak (impuls
to action). Asosiasi yang demikian dinamakan ”connecting”. Dengan kata lain, belajar adalah pembentukan hubungan
antara stimulus dan respons, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respons ini akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering
dilatih. Sehingga hubungan antara stimulus
dan respons itu akan menjadi terbiasa
dan otomatis.
b.
Teori
Conditioning
Teori Conditioning dikemukakan
oleh Pavlov. Menurut teori ini, seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaan karena
adanya sesuatu tanda. Misalnya, suatu anak sekolah mendengar lonceng, kemudian
berkumpul dan masuk kelas untuk belajar.
4. Teori Konstruktivisme
Menurut pandangan dan teori konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif
dari si subjek belajar untuk merekonstruksi makna sesuatu entah itu teks,
kegiatan dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Belajar merupakan proses
mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya
dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya berkembang.
Subjek belajar juga mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari.
Salah satu tokoh teori ini adalah Bettencourt.
Oemar Hamalik (2005:35-42) meninjau beberapa aliran
psikologi saja, dalam hubungannya dengan teori belajar, yakni:
1.
Teori Psikologi Klasik
2.
Teori Psikologi Daya
3.
Teori Mental State
4.
Teori Psikologi Behaviorisme
5.
Teori Psikologi Gestalt
Adapun penjelasan dari teori-teori di
atas adalah sebagai berikut :
1. Teori
Psikologi Klasik
Tokoh
dari teori ini adalah Jhon Locke. Menurut teori ini, hakikat belajar
adalah all learning is a process of developing or training of mind. Teori belajar ini melihat objek dengan
menggunakan substansi dan sensasi. Teori ini mengembangkan kekuatan mencipta,
ingatan, keinginan, dan fikiran, dengan melatihnya. Dengan kata lain pendidikan
adalah suatu proses dari dalam atau inner development. Tujuan
pendidikan adalah self-development atau self-cultivation atau self-realization.
2. Teori
Psikologi Daya
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari
berbagai daya, mengingat, berfikir, merasakan, kemauan dan sebagainya. Tiap
daya mempunyai fungsinya sendiri-sendiri. Tiap orang mempunyai semua daya-daya
itu, hanya berbeda kekuatannya saja. Agar daya-daya itu berkembang (terbentuk),
maka daya-daya itu perlu dilatih, sehingga dapat berfungsi. Teori ini bersifat
formal, karena mengutamakan pembentukan daya-daya.
3. Teori
Mental State
Teori ini berpangkal pada psikologi asosiasi
yang dikembangkan oleh J.Herbart.
Menurut teori ini, belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat indera yang disampaikan dalam bentuk
perangsang-perangsang dari luar. Pengalaman-pengalaman
berasosiasi dan bereproduksi. Karena itu latihan memegang peranan penting.
Lebih banyak latihan dan ulangan, maka akan lebih dan lebih lama pengalaman dan
pengetahuan itu tinggal dalam kesadaran dan ingatan seseorang, dan sebaliknya
kurang ulangan dan latihan maka pengalaman/pengetahuan akan cepat terlupakan.
4. Teori
Psikologi Behaviorisme
Skinner
adalah salah satu tokoh yang mengemukakan teori ini. Dalam teori ini belajar
ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Dengan memberikan stimulus, maka anak akan mereaksi
dengan respons. Hubungan stimulus-respons
ini akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar. Dengan
latihan-latihan maka hubungan-hubungan itu akan menjadi kuat. Inilah
yang disebut S-R Bond Theory.
5. Teori
Psikologi Gestalt
Beberapa
pokok pemikiran teori psikologi gestalt mengenai belajar:
a. Timbulnya kelakuan adalah berkat interaksi antara individu
dan lingkungan di mana faktor herediter (natural endowment) lebih
berpengaruh.
b. Bahwa individu berada dalam keseimbangan dinamis, adanya
gangguan terhadap keseimbangan dinamis, adanya gangguan terhadap keseimbangan
itu akan mendorong timbulnya kelakuan.
c.
Mengutamakan segi
pemahaman (insight).
d. Menekankan kepada adanya situasi sekarang, dimana
individu menemukannya dirinya.
e.
Yang
utama dan pertama ialah keseluruhan, dan bagian-bagian hanya bermakna dalam
keseluruhan.
Sedangkan menurut Syaiful
Bahri Djamarah (2008: 17-27), teori belajar ada lima, diantaranya:
1. Teori Ilmu Jiwa Daya
2. Teori Tanggapan
3. Teori Ilmu Jiwa Gestalt
4. Teori Gagne
5. Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
Adapun penjelasan dari
teori-teori di atas adalah sebagai berikut :
1. Teori Ilmu Jiwa Daya
Ahli ilmu jiwa dan daya mengemukakan suatu teori bahwa jiwa manusia
mempunyai daya-daya, yaitu berupa kekuatan yang tersedia. Manusia hanya
memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya
dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal. Untuk itu, jika ingin berhasil
dalam belajar, semua daya yang ada dalam diri harus dilatih.
2. Teori Tanggapan
Menurut teori tanggapan, belajar adalah memasukkan tanggapan
sebanyak-banyaknya, berulang-ulang, dan sejelas-jelasnya. Banyak tanggapan
berarti dikatakan pandai, sedikit tanggapan berarti dikatakan kurang pandai.
Jika sejumlah tanggapan diartikan sebagai kesan, maka belajar adalah memasukkan
kesan ke dalam otak dan menjadikan orang pandai. Kesan di sini tentu berupa
ilmu pengetahuan yang didapat setelah belajar.
3. Teori Ilmu Jiwa Gestalt
Menurut teori Gestalt, dalam belajar yang terpenting adalah penyesuaian pertama,
yaitu mendapatkan respon atau tanggapan yang tepat, mengerti atau memperoleh insight,
bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari.
4. Teori Gagne
Gagne mengatakan bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat
dibagi menjadi lima kategori yang disebut the domainds of learning, yaitu
keterampilan motorik, informasi verbal, kemampuan intelektual, strategi
kognitif, dan sikap.
5. Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
Teori asosiasi berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari
penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Ada dua teori yang sangat
terkenal, yaitu :
a. Teori Konektionisme, dinyatakan oleh
Thorndike bahwa dasar belajar tidak lain adalah asosiasi antara kesan panca indera
dengan impuls untuk bertindak.
b. Teori Conditioning,
yang menyatakan bahwa setiap bentuk kelakuan terjadi karena adanya conditioning. Karena kondisinya
diciptakan, maka sudah menjadi kebiasaan. Kondisi yang diciptakan itu merupakan
syarat, memunculkan refleks bersyarat.
Adapun
teori belajar yang melandasi pembelajaran dengan pendekatan metakognitif
adalah:
1. Teori Belajar Piaget
Jean Piaget
lahir pada tahun 1896 di Neuchatel
(Egan, 1984:56). Piaget adalah seorang psikolog Swiss yang sebelum Perang Dunia
kedua memulai pekerjaan pentingnya tentang bagaimana anak-anak berkembang dan
belajar. Teori Piaget dikembangkan berdasarkan observasi terhadap anak.
Piaget (dalam
Muijs, 2008:23) menyatakan bahwa:
Salah
satu pengaruh utama pada perkembangan kognitif anak adalah apa yang
diistilahkannya maturation (maturasi,
kematangan), terbentangnya perubahan biologis yang terpendekatan secara biologis
pada saat dilahirkan. Faktor yang kedua
adalah activity (aktivitas). Semakin
meningkatnya maturasi menyebabkan semakin meningkatnya kemampuan anak untuk
menghadapi lingkungannya, dan untuk belajar dari tindakannya. Hasil belajar ini
pada gilirannya akan menghasilkan perubahan pada proses berfikir anak. Faktor
yang ketiga di dalam perkembangan adalah social
transmission (transmisi sosial), belajar dari orang lain. Pada
saat menghadapi lingkungannya, anak
juga berinteraksi dengan orang lain dan dengan demikian mereka juga
dapat belajar dari mereka dengan tingkat belajar yang berbeda tergantung tahap
perkembangannya.
Dari
pendapat di atas dapat diketahui bahwa pembelajaran disesuaikan dengan tingkat
kematangan, sehingga diharapkan akan memberikan pengaruh positif terhadap
perkembangan kognitif anak. Selain itu, Piaget (dalam Erman Suherman, et al., 2001:38) berpendapat bahwa:
Pengetahuan
seseorang itu berdasarkan proses penyerapan dan menyusun kembali. Pembelajaran hendaknya melihat
kemampuan siswa untuk mengatasi masalah. Perkembangan kognitif dalam teori ini
lebih dari sekedar menambahkan fakta-fakta dan ide-ide baru ke simpanan
informasi yang sudah ada.
Teori
belajar Piaget sejalan dengan pembelajaran yang menerapkan pendekatan
metakognitif. Menurut teori tersebut proses penyerapan dan menyusun kembali
pengetahuan tersebut merupakan hal yang ditekankan pada pembelajaran,
karena peran guru hanya sebagai fasilitator untuk mengembangkan kesadaran siswa
tentang apa yang harus
dilakukan ketika belajar sesuai
dengan tingkat kematangannya.
2. Teori Belajar
Konstruktivisme
Teori ini
menyatakan bahwa pengetahuan seseorang dikonstruksi oleh orang itu sendiri.
Proses pembentukan pengetahuan berjalan terus menerus dengan setiap kali
mengadakan reorganisasi akibat adanya suatu pemahaman baru.
Di
dalam konstruktivisme peranan guru bukan pemberi jawaban akhir atas pertanyaan
siswa, melainkan mengarahkan mereka untuk membentuk (mengkonstruksi) pengetahuan sehingga diperoleh jawabannya.
Sedangkan dalam paradigma tradisional, guru mendominasi pembelajaran dan guru
senantiasa menjawab dengan segera terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa. Hal ini
sesuai dengan pendapat Werrington (dalam Erman Suherman et al., 2001:70):
Dalam
kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana
menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk
menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika siswa
memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak
mengatakan jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa untuk
setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide
sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akalnya.
Selain itu Muijs (2008:97) menyatakan bahwa :
Di
dalam pendidikan, ide-ide konstruktivis diterjemahkan sebagai berarti bahwa
semua pelajar benar-benar mengkonstruksikan pengetahuan untuk dirinya sendiri,
dan bukan pengetahuan yang datang dari guru dan diserap oleh murid. Ini berarti
bahwa setiap murid akan mempelajari sesuatu yang sedikit berbeda dengan
pelajaran yang diberikan, dan bahwa sebagai guru tidak dapat memastikan bahwa murid-murid akan belajar. Bagi kebanyakan guru, ini akan
tampak seperti ide yang bersifat commonsensical
(pengetahuan umum), sesuatu yang sudah dilihat oleh semua guru di dalam
pelajaran mereka.
Teori konstruktivisme ini sejalan dengan
pembelajaran yang menerapkan pendekatan metakognitif. Dalam pembelajarannya
guru membantu mengembangkan kesadaran tentang apa yang mereka ketahui dan
bagaimana melakukannya, bukan sebagai pihak yang mendominasi pembelajaran, belajar
merupakan proses menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan
pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya berkembang, serta siswa
akan mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari.
2.1.3 Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Belajar
Belajar
dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal. M.
Uzer Usman (2010:16) menjelaskan dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu :
1. Faktor Internal
a. Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang
bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk ini adalah panca indera.
b. Faktor psikologis, baik yang bersifat
bawaan maupun yang diperoleh :
1) Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial
seperti kecerdasan dan bakat
2) Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur
kepribadian tertentu, seperti sikap, kebiasaan, minat, motivasi, emosi dan
penyesuaian diri
c. Faktor kematangan fisik
2. Faktor Eksternal
a. Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan
keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan kelompok
b. Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kesenian
c. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas
rumah dan fasilitas belajar
d. Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan
Disamping itu,
menurut Muhibbin Syah (2010: 129) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga
macam yaitu:
1.
Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni
keadaan atau kondisi jasmani
dan rohani siswa.
2.
Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni
kondisi lingkungan di sekitar
siswa.
3.
Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pelajaran.
Faktor-faktor di
atas dalam banyak hal saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang
siswa yang bersikap conserving
terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal), biasanya
cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam.
Sebaliknya, seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) dan
mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), sehingga akan
memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran.
Sedangkan
faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
menurut Ngalim Purwanto (2010: 107) dapat digambarkan sebagai berikut :
Alami
Luar Sosial
Faktor Instrumenal Sarana
dan fasilitas
Administrasi/Manajemen
Dalam Kondisi
panca indera
Psikologis Kecerdasan
Motivasi
Kemampuan kognitif Gambar
2.1
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Belajar
Gambar di atas menjelaskan bahwa ada beberapa faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar. Adapun
faktor-faktor itu dapat
berasal dari dalam atau dari luar (internal/eksternal). Dari dalam diri siswa
sendiri faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
belajar adalah: faktor fisiologis (kondisi fisiologis/fisik, kondisi
panca indera), psikologis (minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan
kognitif). Sedangkan faktor dari luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan (alami
dan sosial budaya) dan faktor instrumenal (kurikulum, guru/pengajar, sarana dan fasilitas serta administrasi/manajemen).
Pendapat lain
diungkapkan oleh Slameto (2010:54)
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah:
1. Faktor
- Faktor Intern
a. Faktor jasmaniah seperti faktor
kesehatan dan cacat tubuh
b. Faktor psikologis seperti
intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan
c. Faktor kelelahan baik secara jasmani
maupun rohani
2. Faktor Ekstern
a. Lingkungan keluarga
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan masyarakat
Berdasarkan
pendapat para ahli di atas, dapat diketahui bahwa pada dasarnya faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar siswa terdiri dari dua faktor utama, yakni faktor
dalam diri siswa (faktor internal) seperti jasmaniah dan psikologis serta faktor yang berasal dari luar
diri siswa (faktor eksternal) seperti sosial, budaya, lingkungan fisik, dan
spiritual.
2.2 Pendekatan
Metakognitif
2.2.1 Pengertian
Pendekatan Metakognitif
“Metakognitif
merupakan istilah yang dibuat oleh Flavell pada tahun 1976 yang menimbulkan
banyak perdebatan dalam mendefinisikannya” (Arends, 2008:266). Arti metakognitif tidak selalu sama di
dalam berbagai macam bidang penelitian. Ketidakkonsistenan ini muncul karena
peneliti mendefinisikannya sesuai dengan bidang penelitiannya. Namun demikian,
pengertian metakognitif yang dikemukakan oleh para peneliti pada umumnya
memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang tentang proses
berpikirnya sendiri.
Istilah metakognitif merupakan kata sifat dari metakognisi. Livingston (dalam Arends, 2008: 266) menyatakan bahwa “metakognitif secara sederhana sering
diartikan sebagai berpikir
tentang berpikir”. Adapun menurut Muijs et al. (2008:191)
menyatakan bahwa:
Istilah ini
pada dasarnya mencakup pengetahuan tentang proses berfikir sendiri, regulasi diri, dan memantau apa yang
sedang kerjakan, mengapa mengerjakan itu, dan apa yang sedang kerjakan dapat membantu (atau tidak dapat
membantu) mengatasi masalah
Di
samping itu, Weinstein et al.
(1988:150) mengemukakan bahwa “metacognitive
is skills provide the basic sturucture for the development of positive self –control”. Metakognitif
merupakan kemampuan menyajikan struktur dasar untuk perkembangan
kontrol/pengedalian diri yang positif.
Di sisi
lain Arends (2008:266) mendefinisikan metakognitif sebagai “pengetahuan seseorang tentang
proses-proses kognitifnya sendiri.”
Adapun
pengertian metakognitif menurut Erman Suherman, et al. (2001:95) “metakognitif adalah suatu kata yang berkaitan
dengan apa yang dia ketahui tentang dirinya sendiri sebagai individu yang
belajar dan bagaimana dia mengontrol serta menyesuaikan prilakunya”.
Berdasarkan
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan metakognitif adalah pembelajaran yang menekankan
pada aktivitas siswa yang secara sadar mengatur proses berpikirnya sendiri dan
membuat strategi-strategi
untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan, sehingga kemampuan untuk melihat pada diri
sendiri dapat terkontrol secara optimal
2.2.2 Tujuan
Pendekatan Metakognitif
Metakognitif
adalah salah satu elemen penting
dalam mengatasi masalah akuntansi. Hal ini
diungkapkan oleh Schoenfeld (dalam Muijs et al., 2008:191):
Jelas
bahwa metakognitif amat sangat penting bagi anak, bukan hanya untuk
mengembangkan keterampilan mengatasi masalah mereka tetapi juga untuk
mengembangkan keterampilan berpikir secara umum. Metakognitif yang telah
dikembangkan juga adalah membuat murid-murid menyadari kekuatan dan
kelemahannya. Kurangnya metakognitif membuat anak-anak menggunakan strategi
mengatasi masalah yang tidak efektif (benar tetapi lambat dan tidak efisien).
Dengan demikian, agar dapat belajar
secara lebih efektif, proses metakognitif harus diungkapkan secara terbuka dan
regulasi diri perlu dijadikan sebuah proses sadar (proses yang dilakukan dengan
sengaja)
Berdasarkan
pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari penerapan
pendekatan metakognitif dalam pembelajaran akuntansi di sekolah adalah sebagai
berikut:
- Mengembangkan
keterampilan pemecahan masalah akuntansi
- Mengembangkan
keterampilan berfikir secara umum, seperti siswa menyadari kelebihan dan
kekurangan yang dimilikinya dalam proses pembelajaran.
- Menghasilkan
pembelajaran yang efektif melalui penerapan pendekatan metakognitif dalam
pembelajaran.
2.2.3 Kategori
Pendekatan Metakognitif
Secara khusus Schoenfeld (dalam Muin, 2005:34)
menandai tiga kategori metakognitif dalam pembelajaran, yaitu :
1.
Keyakinan dan intuisi
Ide-ide apa yang
dapat digunakan dalam mengerjakan dan bagaimana ide-ide tersebut dapat menentukan
cara dalam proses penyelesaian masalah
2.
Pengetahuan mengenai proses berpikir
seseorang
Ini berkaitan
dengan seberapa besar akurat seseorang dapat menggambarkan mengenai
pemikirannya. Pemecahan masalah yang baik menggunakan apa yang diketahui secara
efisien
3.
Kesadaran diri atau pengaturan diri
Kesadaran atau
pengaturan diri ini dapat dipikirkan menggunakan pendekatan pengelolaan yang
meliputi aspek-aspek:
a)
Mengakses pemahaman terhadap masalah
secara keseluruhan
b)
Merencananakan strategi penyelesaian
c)
Memonitor dan mengontrol cara-cara
penyelesaian berjalan
d) Mengalokasikan
hasil, memutuskan apa yang harus dilakukan dan berapa lama masalah tersebut
diselesaikan.
Siswa
dapat menggunakan keyakinan dan intuisi yang dimilikinya untuk digunakan dalam
kegiatan pembelajaran. Keyakinan dan intuisi tersebut akan menghasilkan ide-ide
yang digunakan siswa untuk menyelesaikan masalah. Kategori lainnya adalah
seberapa akurat seseorang dapat menggambarkan pemikirannya sendiri, seperti
kesadaran diri apa yang sudah diketahuinya, apa yang belum diketahuinya, serta
bagaimana strategi yang bisa digunakan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.
Setelah siswa mampu menggambarkan pemikirannya sendiri, siswa akan melakukan
pengaturan terhadap dirinya sendiri. Apabila siswa dihadapkan kepada
permasalahan, siswa mampu mengatur pemahamannya terhadap masalah secara
keseluruhan, merencananakan strategi penyelesaian, memonitor dan mengontrol
cara-cara penyelesaian berjalan, mengalokasikan hasil, memutuskan apa yang
harus dilakukan dan berapa lama masalah tersebut diselesaikan.
2.2.4 Manfaat Pendekatan Metakognitif dalam Keberhasilan Belajar
Arends
(2008:267) berpendapat bahwa “metakognitif
memberikan manfaat dalam keberhasilan pembelajaran”. Melalui pendekatan
metakognitif siswa mengetahui kapan menggunakan pengetahuan tertentu dan
kesadaran tentang kognisinya sendiri, sebagai contoh siswa mengetahui kapan
perlu merangkum suatu bagian bacaan tertentu ketika membaca, serta mengetahui
pemikiran atau pendapatnya sendiri tentang sebuah topik.
Hasil penelitian para ahli psikologi
kognitif tentang perbedaan antara siswa yang kurang pandai dan lebih pandai
menunjukkan bahwa
kemampuan metakognitif adalah sangat penting. Disamping itu Arends (2008:268) menyatakan
bahwa:
Kemampuan
metakognitif siswa
dapat diberdayakan melalui strategi-strategi pembelajaran di sekolah. Kemampuan
metakognitif untuk memonitor hasil belajar siswa sendiri dengan menggunakan
strategi tertentu, agar belajar dan mengingat dapat berkembang.
Mengidentifikasi ide-ide penting dengan menggarisbawahi atau menemukan kata
kunci pada bahan bacaan, kemudian merangkai menjadi satu kalimat dan menulis
kembali pada jurnal belajar, meramalkan hasil, memutuskan bagaimana menggunakan
waktu dan mengulang informasi.
Pendekatan metakognitif dapat dilakukan dengan menghubungkan informasi baru dengan
pengetahuan terdahulu, memilih strategi berpikir secara sengaja, merencanakan,
memantau, dan mengevaluasi proses berpikir. Pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan seseorang tentang
pembelajaran diri sendiri atau kemampuan untuk menggunakan strategi-strategi
belajar tertentu dengan benar. Arends (2008:269)
berpendapat bahwa:
Pembelajaran metakognitif
bagi siswa adalah penting. Jika siswa telah memiliki metakognitif, siswa akan
terampil dalam strategi metakognitif. Siswa yang terampil dalam strategi
metakognitif akan lebih cepat menjadi anak mandiri.
Berdasarkan pendapat di atas
dapat diketahui manfaat metakognitif bagi guru dan siswa adalah
menekankan pemantauan diri dan tanggung jawab guru dan siswa. Pemantauan diri
merupakan keterampilan berpikir tinggi. Howard (dalam Arends, 2008:268) menyatakan “metakognitif diyakini memegang peranan penting pada banyak tipe aktivitas kognitif termasuk pemahaman,
komunikasi, perhatian (attention), ingatan (memory), dan pemecahan masalah”. Hal ini menunjukkan bahwa metakognitif
memegang salah satu peranan kritis dan penting agar pembelajaran berhasil.
2.3 Pemecahan Masalah
2.3.1 Pengertian Pemecahan Masalah
2.3.1.1 Masalah
Masalah pada
umumnya dapat diartikan sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Masalah
merupakan hal yang relatif. Suatu soal dapat dianggap masalah bagi seorang
siswa, tetapi mungkin saja soal tersebut merupakan soal yang rutin bagi siswa
lain.
Suatu soal dapat merupakan suatu masalah bagi siswa apabila
siswa tersebut tidak memiliki suatu cara tertentu yang dapat dipergunakan
sesegera mungkin untuk menentukan jawaban dari pertanyaan itu, tetapi siswa tersebut
memiliki pengetahuan
untuk menyelesaikannya.
Artinya, suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi siswa, tetapi mungkin
bukan merupakan suatu masalah bagi siswa yang lain. Pertanyaan yang dihadapkan
kepada siswa yang tidak bermakna bukan merupakan masalah bagi siswa tersebut.
Dengan perkataan lain, pertanyaan yang diajukan kepada siswa haruslah dapat
diterima oleh siswa tersebut. Pertanyaan itu harus sesuai dengan struktur
kognitif siswa.
Menurut Herman Hudojo
(2001:163) syarat suatu soal menjadi masalah bagi siswa adalah sebagai berikut:
a. Pertanyaan
yang dihadapkan kepada siswa haruslah dapat dimengerti oleh siswa tersebut,
namun pertanyaan itu harus merupakan tantangan baginya untuk menjawabnya.
b. Pertanyaan
tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang telah diketahui siswa.
Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa yang dimaksud masalah
dalam penelitian ini adalah pertanyaan dalam mata pelajaran akuntansi yang
prosedur penyelesaiannya tidak rutin, yakni dilaksanakannya evaluasi atau
pemeriksaan kembali terhadap jawaban, namun soal tersebut dimengerti oleh siswa
dan menjadi tantangan bagi siswa untuk menjawabnya.
2.3.1.2 Pemecahan Masalah
Menurut
Gagne (dalam Made Wena, 2010:52), yang dimaksud dengan kemampuan pemecahan
masalah adalah:
Pemecahan
masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah
aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Pemecahan
masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan-aturan yang
telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari
itu, merupakan proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang
lebih tinggi.
Apabila
siswa telah mendapatkan suatu kombinasi perangkat aturan yang terbukti dapat
dioperasikan sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi, maka siswa tidak saja
dapat memecahkan suatu masalah, melainkan juga telah berhasil menemukan sesuatu
yang baru. Sesuatu yang dimaksud adalah perangkat prosedur atau strategi yang
memungkinkan siswa dapat meningkatkan kemandirian dalam berpikir.
Berdasarkan pendapat di
atas pemecahan masalah merupakan suatu cara yang dapat dipergunakan
untuk menyelesaikan masalah, pada sisi lain masalah itu sendiri merupakan suatu
persoalan yang tidak dikenalnya karena tidak bisa dijawab secara rutin, yakni dilaksanakannya evaluasi atau pemeriksaan
kembali terhadap jawaban, namun siswa tersebut memiliki kemampuan untuk
menyelesaikannya terlepas apakah siswa berhasil menemukan jawabannya atau tidak. Pemecahan masalah dalam penelitian ini
adalah kemampuan siswa dalam
menyelesaikan suatu persoalan dalam bentuk soal akuntansi melalui tahapan
Polya, yakni memahami masalah, merencanakan alternatif penyelesaian masalah,
melaksanakan penyelesaian masalah, dan memeriksa kembali hasil.
2.3.2 Langkah-Langkah Pemecahan Masalah
Berbicara
pemecahan masalah tidak bisa lepas dari tokoh utamanya yaitu George Polya.
Menurut Polya dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus
dilakukan, yaitu: (1) memahami masalah, (2) merencanakan pemecahannya, (3)
menyelesaikan masalah sesuai rencana langkah kedua, dan (4) memeriksa kembali
hasil yang diperoleh (Erman Suherman et
al., 2001:84).
Kemudian Polya (dalam Jacob, 2000:4) membagi menjadi 4 langkah dalam pemecahan
masalah, yaitu:
Langkah
1 : Memahami masalah (Understand the
Problem)
1)
Apakah anda memahami semua kata-kata? (Do you understand the words)
2) Dapatkah
anda menyatakan kembali masalah itu dalam kata-kata anda sendiri? (Can You Restate the problem in your own word)
3) Apakah
anda mengetahui apa tujuannya? (Do you
know what the goal is)
4) Apakah
anda cukup informasi? (Is there enough
information)
5) Apakah
ada informasi asing ? (is there
extraneous information)
6) Apakah
masalah ini serupa dengan masalah lain yang telah anda selesaikan? (Is this problem similar to another problem
you have solved)
Langkah 2: Melengkapi
suatu rancangan (Device a plan)
1) Perkiraan
dan tes (Guess and test)
2) Menggunakan
suatu variable (use a variable)
3) Menggambarkan
suatu gambar (draw a picture)
4) Mencari
suatu pola (look for pattern)
5) Membuat
suatu daftar ( make a list)
6) Menyelesaikan
suatu masalah yang sangat sederhana (solve
a simple problem)
Langkah 3: Melaksanakan rancangan
1) Melaksanakan
strategi atau strategi-strategi yang anda telah memilih sampai masalah itu
diselesaikan atau sampai suatu pelajaran baru dari tindakan yang diajukan
2) Berikan
sejumlah waktu yang layak dari diri anda sendiri dalam menyelesaikan masalah.
Jika anda belum berhasil, meminta petunjuk dari yang lainnya atau
mengesampingkan masalah itu untuk sejenak
3) Jangan
marah atas acara permulaan. Seringkali, memulai lagi dari semula dan memulai
lagi suatu strategi baru akan berperan kepada keberhasilan.
Langkah
4 : Menelaah kembali (Look Back)
1)
Apakah solusi anda benar? Apakah jawaban
anda memenuhi pertanyaan dari masalah itu
2) Dapatkah
anda melihat suatu solusi termudah?
3) Dapatkah
anda melihat bagaimana anda mengembangkan solusi anda kepada suatu kasus yang
lebih umum?
2.3.3 Tujuan Kemampuan Pemecahan Masalah
Pada
dasarnya pendekatan pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai
apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan
tentang mengapa hal itu terjadi. Berpijak pada hal tersebut, kemampuan siswa
dalam pemecahan masalah menjadi sangat penting.
Pemecahan
masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan-aturan yang telah dikuasai melalui
kegiatan-kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari itu, yaitu merupakan
proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi. Prinsip
pemecahan masalah adalah melakukan operasi prosedural urutan tindakan, tahap
demi tahap secara sistematis.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa tujuan pemecahan masalah dalam kegiatan pembelajaran
adalah agar siswa mampu memberikan makna terhadap pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada struktur kognitifnya. Asimilasi adalah proses pengintegrasian
secara langsung stimulus baru ke
dalam skemata yang telah terbentuk, sedangkan akomodasi adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak
langsung.
2.3.4 Pendekatan
Metakognitif Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan
Masalah Akuntansi
Menurut
Muijs et al. (2008:186) ada empat
macam pendekatan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahan masalah
yakni:
1. Salah satu pendekatan yang populer
adalah mengajarkan sejumlah keterampilan problem
solving (mengatasi masalah) kepada murid. Pendekatan ini disebut pendekatan
heuristik.
2. Pendekatan metakognitif mulai dari
premis bahwa kinerja siswa dapat ditingkatkan melalui pemahaman dan kesadaran
yang lebih baik tentang proses berpikirnya sendiri. Mengajarkan self-awareness (kesadaran tentang diri
sendiri) merupakan inti dari pendekatan ini.
3. Sebagian pendidik percaya bahwa
pembelajaran open-ended dan aktif,
yang didorong oleh metode mengajar konstruktivis,
sudah cukup untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi murid
4. Berdasarkan teori Piaget, pendekatan
berpikir formal yang dimaksudkan
untuk membantu murid menjalani transisi antar-tahap perkembangan dengan lebih
mudah
Dari empat pendekatan
tersebut di atas, metakognitif merupakan salah satu pendekatan yang dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi. dalam
pendekatan metakognitif siswa memiliki pengetahuan tentang proses berfikirnya
sendiri, regulasi diri dan memantau apa yang sedang dikerjakan, mengapa
mengerjakan itu, dan apa yang sedang
kerjakan dapat membantu (atau tidak dapat membantu) mengatasi
masalahnya. Apabila siswa memiliki pengetahuan tentang proses berfikirnya
sendiri, diharapkan kinerja siswa dapat ditingkatkan. Seorang siswa yang
memiliki kinerja yang baik, akan menghasilkan hasil yang baik pula. Hal ini menunjukan
bahwa pendekatan metakognitif dapat diajukan sebagai salah satu pendekatan yang
dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan
kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi.
2.4 Materi Pelajaran
Akuntansi
2.4.1 Pengertian Akuntansi
American Accounting
Association (Ajang Mulyadi,
2002:2) mendefinisikan ‘akuntansi sebagai proses mengidentifikasi, mengukur
dan mengkomunikasikan
informasi ekonomi sebagai
dasar pertimbangan dan pengambilan keputusan para pemakainya’. Definisi
ini mengandung beberapa pengertian, yakni:
1. Bahwa
akuntansi merupakan proses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran dan
pelaporan informasi ekonomi.
2. Bahwa
informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam
penilaian dan pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan.
Horngren, et al. (1996:3) mengemukakan pengertian
akuntansi bahwa “akuntansi adalah suatu sistem yang mengukur
aktivitas-aktivitas bisnis, memproses informasi tersebut ke dalam bentuk
laporan-laporan dan mengkomunikasikan kepada para pengambil keputusan”
Kemudian
menurut American Institute of Certified
Public Accountants/AICPA (dalam Sofyan Syafri Harahap, 2007:5) bahwa
pengertian ‘akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran
dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian
yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya’
Definisi
menurut Accounting Principle Board/APB
Statemen No.4 (dalam Sofyan Syafri Harahap, 2007:5)) adalah sebagai berikut:
Akuntansi
adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif,
umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan untuk
digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi sebagai dasar memilih di antara
beberapa alternatif.
Definisi
akuntansi menurut America Accounting
Association/AAA (dalam Lili M. Sadeli,
2009: 2) “…the process of identifying, measuring, and
communicating economic information to permit informed judgments and decisions
by users of the information”. Proses mengidentifikasi, mengukur dan melaporkan informasi
ekonomi, untuk membuat
pertimbangan dan mengambil keputusan yang tepat bagi informasi tersebut.
Di sisi lain Ely Suhayati et al. (2009: 2) mengungkapakan pengertian akuntansi sebagai
berikut:
1.
Akuntansi merupakan proses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran, dan
pelaporan informasi ekonomi. (Bagian ini menjelaskan tentang kegiatan ekonomi)
2.
Informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam
pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan. (Segi kegunaan
dari akuntansi)
Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditarik
kesimpulan pada dasarnya akuntansi merupakan kegiatan pelayanan jasa untuk
menyediakan informasi bagi pemakainya, baik itu pemakai dari pihak internal
organisasi maupun eksternal organisasi.
2.4.2 Siklus Akuntansi
Skematik siklus
akuntansi menurut Rahmat Moeslihat (2005:57) adalah sebagai berikut:
Gambar 2.2
Skematik Siklus Akuntansi
2.4.3 Karakteristik Pembelajaran Akuntansi
Karakteristik materi yang dipelajari
dalam akuntansi menurut Umi Muawanah et al. (2008: 34) adalah belajar informasi, konsep, dan keterampilan. Adapun penjelasannya adalah
sebagai berikut :
1.
Belajar Informasi
Belajar Informasi merupakan segala sesuatu yang berwujud
pengertian-pengertian baru yang timbul sebagai hasil pemikiran meliputi
definisi, ciri khusus, isi, dan sebagainya. Dalam pembelajaran akuntansi, informasi ini
sifatnya lebih kepada teori tanpa terdapat demonstrasi (pengerjaan soal).
Informasi yang disajikan mengenai teori akuntansi tentunya harus relevan, mudah
dipahami, dapat diukur, dapat dipercaya kebenarannya, dan akurat.
2.
Belajar Konsep
Konsep merupakan abstraksi kesamaan yang berdasarkan fakta
dan definisi. Dengan mengajarkan konsep maka dapat dikembangkan kemampuan
kognitif dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Konsep dapat
dikembangkan untuk ingatan, pemahaman, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi
sesuatu yang mengundang kemampuan berfikir tinggi. Dalam pembelajaran
akuntansi, selain menjelaskan juga dituntut untuk mendemonstrasikan dengan
memberikan contoh yang terkait dengan konsep tersebut.
3.
Belajar Keterampilan
Dalam
pembelajaran akuntansi, diperlukan keterampilan kognitif tingkat tinggi atau
keterampilan intelektual. Menurut Bloom (dalam Indra, 2008:24):
Keterampilan
intelektual merupakan kemampuan menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
Selain itu, keterampilan intelektual juga merupakan pengaplikasian teori yang
telah didapatkan dari ranah kognitif melalui materi yang disampaikan.
Dalam pembelajaran akuntansi, pengembangan
keterampilan intelektual merupakan kelanjutan dari proses pengajaran
pengetahuan dan pemahaman. Keterampilan intelektual akan bertambah baik
fungsinya apabila diikuti dengan latihan, dalam hal ini untuk pelajaran
akuntansi adalah latihan studi kasus seperti pembuatan jurnal, posting,
pembuatan laporan keuangan, dan sebagainya. Studi kasus dapat digunakan guru
untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi yang
biasanya memberikan berbagai tantangan.
Tantangan yang dikemukakan suatu kasus mengundang
siswa untuk memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, dan pengalamannya dalam
menghadapi berbagai masalah baru bagi dirinya. Artinya studi kasus memiliki kemampuan untuk mengembangkan daya
berfikir imajinatif pada diri siswa sehingga mereka mampu menciptakan kemampuan
pemecahan masalah akuntansi.
2.4.4 Jurnal Penyesuaian
Akun yang menunjukkan keadaan yang sebenarnya dapat digunakan langsung untuk
menyusun laporan keuangan, sedangkan yang belum menunjukkan keadaan yang sebenarnya harus
disesuaikan terlebih dahulu. Buku/daftar yang digunakan untuk mencatat akun
buku besar yang perlu disesuaikan agar menunjukkan keadaan yang sebenarnya
dinamakan pos penyesuaian/jurnal penyesuaian (adjusting entries). Tujuan penyesuaian adalah untuk memisahkan
antara biaya yang sudah menjadi beban pada suatu periode akuntansi dengan yang
belum, selain itu antara pendapatan yang sudah menjadi hak dan yang belum
menjadi hak. Hal ini sejalan
dengan pendapat Alam S (2004:117) bahwa “fungsi
ayat jurnal penyesuaian adalah untuk mengubah sedemikian rupa nilai akun
sehingga neraca saldo memperlihatkan saldo yang sebenarnya”. Akun yang
biasanya memerlukan penyesuaian menurut
Alam S (2004:117)
antara lain:
a. Beban
yang masih harus dibayar/utang biaya (accrued
expenses)
Dalam hal ini, perusahaan
memiliki beban untuk periode yang berjalan, akan tetapi belum dibayarkan yang
akan menimbulkan kewajiban bagi perusahaan tersebut.
b. Perlengkapan/bahan
habis pakai (supplies)
Pada akhir periode, perusahaan
akan melakukan penyesuaian terhadap perlengkapan yang sudah menjadi beban dan
berapa sisa perlengkapan yang belum terpakai.
c. Pendapatan
yang masih harus diterima/piutang pendapatan (accurued income)
Selama periode akuntansi,
beberapa pendapatan akrual dicatat hanya ketika kas diterima. Jadi, pada akhir
periode akuntansi, mungkin saja terdapat pendapatan yang telah dihasilkan namun
belum dicatat. Dalam kasus semacam itu, jumlah pendapatan harus dicatat dengan
mendebit akun aktiva dan mengkredit akun pendapatan.
d. Penyusutan
aktiva tetap (depreciation)
Sumber daya fisik yang dimiliki
serta digunakan oleh bisnis dan bersifat permanen atau tahan lama disebut
aktiva tetap. Dalam pengertian tertentu, aktiva tetap adalah jenis beban yang
ditangguhkan dalam jangka panjang. Namun dengan berlalunya waktu, aktiva tetap
kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan manfaat. Berkurangnya kemampuan
untuk menghasilkan manfaat ini disebut
penyusutan (depreciation).
e. Beban
dibayar dimuka(prepaid expenses)
Merupakan aktiva yang akan
menjadi beban pada periode mendatang.
f. Pendapatan
yang diterima dimuka (deferred revenue)
Pendapatan yang diterima dimuka
merupakan pendapatan untuk beberapa jangka waktu yang sekaligus diterima
diawal. Hal ini memerlukan penyesuaian di akhir periode akuntansi.
g. Piutang
tak tertagih
Perusahaan akan mengalokasikan
cadangan untuk mengantisipasi piutang yang tidak bisa ditagih dari pelanggan.
h. Pembetulan
kesalahan
2.5
Kerangka Pemikiran
Pada
dasarnya pendekatan pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai
apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan
tentang mengapa hal itu terjadi. Berpijak pada permasalahan tersebut, maka
pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diterapkan.
Idealnya
aktivitas pembelajaran tidak hanya difokuskan pada upaya mendapatkan
pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan juga bagaimana menggunakan segenap
pengetahuan yang diperoleh untuk menghadapi situasi baru atau memecahkan
masalah-masalah khusus yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari.
Kenyataan di
lapangan menunjukkan dalam melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM) di kelas,
pemecahan masalah dalam pembelajaran akuntansi belum dijadikan sebagai kegiatan
yang paling utama dalam pembelajaran, guru masih terbatas dalam memberikan
latihan pengerjaan soal, sehingga kemampuan siswa dalam pemecahan masalah
akuntansi belum seutuhnya tergali secara optimal.
Proses penyelesaian
masalah dikenal sebagai suatu proses pemecahan masalah. Pemecahan masalah
secara sederhana, merupakan suatu proses penerimaan masalah sebagai tantangan
untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pemecahan masalah akuntansi siswa dalam
pembelajaran merupakan pendekatan dan tujuan yang harus dicapai. Pemecahan
masalah sebagai pendekatan dalam pembelajaran
digunakan untuk menemukan dan memahami materi atau konsep, sedangkan
sebagai tujuan dalam pembelajaran diharapkan agar siswa dapat: mengidentifikasi
unsur yang diketahui, ditanyakan, serta kecakapan akuntansi; menerapkan
strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah; menjelaskan atau
menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal; dan menyusun
penyelesaiannya.
Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah
akuntansi dapat dibentuk melalui pendekatan metakognitif dalam aktifitas
pembelajaran di kelas. Dalam sudut pandang lain, metakognitif merupakan
keterampilan kompleks. Metakognitif dibutuhkan siswa untuk menguasai suatu
jangkauan keterampilan khusus, kemudian mengumpulkan dan mengumpulkan kembali
keterampilan-keterampilan ini ke dalam strategi belajar yang tepat terhadap
suatu masalah khusus. Penerapan pendekatan metakognitif dalam pembelajaran
akuntansi sangat membantu siswa dalam menyadarkan apa yang mereka pelajari
sehingga proses belajarnya dapat terkontrol dengan baik dan efektif.
Guru dalam pembelajaran metakognitif di dalam
kelas harus berusaha mengajari siswa untuk merencanakan, memantau, dan merevisi
pekerjaan mereka sendiri termasuk tidak hanya membuat siswa sadar tentang apa
yang mereka tahu, tapi juga apa yang
bisa mereka lakukan ketika mereka gagal untuk memahami. Dengan demikian, guru
harus terfokus dalam mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkan soal serta
rasa percaya diri siswa di dalam kemampuan memecahkan masalah akuntansi siswa.
Dalam kaitan pendekatan metakognitif dengan
pemecahan masalah, pembelajaran dengan pendekatan metakognitif mengarahkan perhatian
siswa untuk mempelajari, memahami masalah, bagaimana, dan apa yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan suatu masalah akuntansi, serta membimbing mereka untuk
memilih strategi yang cocok untuk menyelesaikan soal-soal atau masalah
akuntansi.
Penerapan
pendekatan metakognitif dalam pembelajaran akuntansi merupakan salah satu upaya
konkrit dalam meningkatkan kualitas pembelajaran akuntansi di sekolah. Dengan
kualitas pembelajaran yang meningkat, kompetensi akuntansi yang disyaratkan
oleh kurikulum tingkat satuan pendidikan diharapkan dapat selalu ditingkatkan,
salah satunya adalah kemampuan siswa dalam pemecahan masalah akuntansi.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari bahasan di
atas adalah pendekatan metakognitif merupakan salah satu upaya untuk mengatur
proses kognitif siswa dalam kegiatan PBM. Melalui pendekatan metakognitif yang
diterapkan oleh guru dalam PBM di kelas, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan
siswa dalam pemecahan masalah akuntansi. maka dari uraian tersebut,
dapat digambarkan alur kerangka berpikir secara skematik yaitu sebagai berikut:

Gambar
2.3
Skematik
Kerangka Pemikiran
2.6 Hipotesis
Adapun
hipotesis dalam penelitian ini yaitu:
Terdapat perbedaan kemampuan siswa
dalam pemecahan masalah akuntansi antara sebelum dan sesudah penerapan
pendekatan metakognitif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar