Assalamualaikum..

Semoga keberadaan blog ini membawa manfaat untuk semua pihak. Jangan pernah lelah untuk mengukir prestasi, jangan pernah lelah untuk bermanfaat untuk sekitar, serta tetap sabar, syukur, dan ikhlas. Aamiin.

Senin, 12 September 2016

Persediaan (Inventory)

1. Pengertian Persediaan
Persediaan (inventory) diartikan sebagai berikut :
  • Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
  • Dalam proses produksi, untuk diselesaikan
  • Dalam bentuk perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa

2. Persediaan di Perusahaan Dagang
Persediaan di perusahaan dagang disebut persediaan barang dagang (merchandise inventory). Persediaan barang dagang adalah barang-barang yang dibeli dan disimpan sementara, dengan tujuan untuk dijual kembali dalam operasi usaha perusahaan.

Tranasaksi yang berhubungan dengan persediaan barang dagangan antara lain :
  • Pembelian barang dagang, secara tunai maupun kredit
  • Penjualan barang dagang, secara tunai maupun kredit
  • Retur pembelian dan potongan harga
  • Retur penjualan dan potongan harga
  • Beban angkut pembelian
  • Beban angkut penjualan
  • Perlakuan PPN dan PPnBM
3. Persediaan di Perusahaan Manufaktur
Ada tiga jenis persediaan di perusahaan manufaktur, yaitu :
  • Persediaan bahan baku (raw material inventory), adalah barang yang berwujud bahan baku yang akan diproses menjadi barang jadi atau setengah jadi
  • Persediaan barang dalam proses (work in proses inventory), adalah bahan yang telah diproses tetapi belum menjadi produk jadi
  • Persediaan barang jadi (finished goods inventory), adalah barang yang siap untuk dijual/dipasarkan
4. Penghitungan Persediaan Fisik yang Ada di Perusahaan
Penghitungan persediaan fisik ini meliputi aktivitas penjumlahan, dan penimbangan atau pengukuran jumlah persediaan yang ada saat itu. Penghitungan secara akurat dapat dilakukan jika perusahaan tidak sedang menjual atau menerima barang. Oleh karena itu, penghitungan fisik biasanya dilakukan pada saat perusahaan berhenti beroperasi, biasanya menjelang akhir periode.


5. Perjanjian Biaya Pengiriman
  • FOB Shipping Point, dalam perjanjian ini, hak kepemilikan barang berpindah dari penjual ke pembeli pada saat barang keluar dari gudang penjual atau telah sampai pada perusahaan jasa pengiriman barang. Jadi barang yang berada dalam perjalanan merupakan milik pembeli. Sehingga, pembeli harus memasukan barang tersebut dalam penghitungan fisik persediaan
  • FOB Destination, dalam perjanjian ini, perpindahan hak kepemilikan barang dari penjual ke pembeli terjadi saat barang sampai di gudang pembeli. Jadi barang dalam perjalanan adalah milik penjual, sehingga penjual harus memasukan barang tersebut dalam penghitungan fisik penjual.
6. Sistem Pencatatan Persediaan
Terdapat dua sistem pencatatan persediaan barang dagangan untuk menentukan persediaan akhir (ending inventory) dan harga pokok penjualan (cost of goods sold), yaitu sebagai berikut :
a.     Sistem Pencatatan Persediaan Periodik (Periodic Inventory System)
Pencatatan persediaan sistem periodik disebut juga pencatatan sistem fisik (physical system), karena penghitungan jumlah dan nilai perseidaan hanya akan diketahui pada akhir periode untuk penyiapan pembuatan laporan keuangan. Akun persediaan akan diperbaharui nilainya hanya pada akhir periode saja sebelum penyusunan laporan keuangan, melalui penghitungan fisik persediaan (stock opname) di gudang.
Perlakuan akuntansi untuk pencatatan sistem periodik adalah sebagai berikut:
a)     Tidak ada pencatatan pada akhir persediaan
b)     Beban angkut pembelian akan didebet pada akun Beban Angkut Pembelian
c)     Pembelian barang dagang secara tunai didebet pada akun pembelian, apabila kredit dicatat pada akun utang dangang
d)     Ketika ada potongan akan dicatat ke akun potongan pembelian
e)     Retur pembelian akan dicatat ke akun retur pembelian
f)      Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan dihitung pada akhir periode setelah melakukan penghitungan fisik dari penilaian persediaan akhir.

b.     Sistem Pencatatan Persediaan Perpetual (Perpectual Inventory System)
Pencatatan persediaan sistem perpetual (terus-menerus) merupakan penghitungan jumlah dan nilai persediaan yang dilakukan secara terus-menerus setiap kali terjadi transaksi yang berkaitan dengan persediaan barang dagang. Dengan pencatatan perpetual jumlah persediaan barang dagang bisa setiap saat diketahui.
Perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan persediaan perpetual adalah sebagai berikut:
a)     Pembelian barang dagangan akan di debet pada akun persediaan
b)     Beban angkut pembelian akan dikredit ke akun persediaan
c)     Retur pembelian akan dikredit ke akun persediaan
d)     Potongan pembelian akan dikredit ke akun persediaan
e)     Akun persediaan adalah akun pengendali yang akan didukung dengan buku besar pembantu untuk setiap jenis persediaan
Pada dasarnya setiap barang dagang adalah Barang Kena Pajak (BKP), oleh sebab itu jika penjual termasuk Pengusaha Kena Pajak (PKP), setiap penyerahan/penjualan BKP memungut PPN dari pembeli sebesar 10% dari harga barang. Demikian juga jika yang diserahkan termasuk barang mewah, penjual wajib memungut PPnBM sesuai tarif yang berlaku.
Adapun perlakuan PPN tersebut bagi penjual adalah sebagai kewajiban yang dicatat dengan mengkredit akun PPN Keluaran, sedangkan untuk PPnBM dicatan dengan mengkredit akun Utang PPN dan PPnBM.  Bagi pembeli PPN disebut PPN Masukan dengan perlakuan sebagai berikut :
1)     Jika pembeli belum termasuk PKP, maka nilai PPN tersebut ditambahkan ke dalam harga beli barang
2)     Jika pembeli termasuk PKP, maka nilai PPN dicatat dengan mendebet akun PPN Masukan dan mengkredit akun PPN Keluaran yang dipungut ketika menyerahkan/menjual BKP
3)     Jika barang yang dibeli termasuk barang mewah, maka nilai PPnBM ditambahkan ke dalam harga beli barang.
4)     Apabila terjadi retur penjualan, maka selain mendebet akun Retur Penjualan, penjual juga akan mendebet akun PPN Keluaran sebesar 10% dari harga barang yang dikembalikan. Demikian sebaliknya, jika pembeli merupakan PKP, maka disamping mengkredit akun PPN Masukan sebesar 10% dari harga barang.
7. Penilaian Persediaan Barang
A. Penilaian dengan sistem fisik (Physical System)
a. Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification Method)
          Dengan metode ini, setiap barang yang masuk (dibeli) diberi identifikasi khusus yang menunjukkan harga satuan sesuai faktur yang diterima. Pemberian label tanggal pembelian dan patok pada setiap barang yang dibeli akan memudahkan perusahaan untuk mengidentifikasi dan menentukan barang yang telah dijual.
b. Metode rata-rata (average method)
·        Metode rata-rata sederhana (simple average method)
Dengan metode ini, harga rata-rata per satuan barang terlebih dahulu dihitung dengan cara membagi total per satuan setiap transaksi pembelian dengan jumlah transaksi pembelian termasuk persediaan awal periode. Kemudian nilai persediaan barang diperoleh dari hasil perkalian harga rata-rata per satuan barang dengan sisa barang.
·        Metode rata-rata tertimbang (weighted average method)
Dengan metode ini, harga per satuan barang dihitung dengan cara membagi jumlah harga pembelian barang yang tersedian untuk dijual dengan jumlah barang yang tersedia (kuantitas). Nilai persediaan akhir periode adalah hasil kali kuantitas.
c. Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)/First In First Out (FIFO)
          Dengan metode ini, barang yang lebih dulu masuk (dibeli) dianggap yang lebih dulu keluar (dijual). Nilai persediaan akhir dihitung dengan cara mengalikan barang yang masih ada dengan harga per satuan.
d. Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)/Last In First Out (LIFO)
          Menurut metode ini, barang yang terakhir masuk dianggap barang yang lebih dulu keluar. Nilai persediaan akhir dihitung dengan cara mengalikan barang yang masih ada dengan harga per satuan.
e. Metode Persediaan Dasar (Basic Stock Method)
          Persediaan dasar adalah persediaan yang secara minimal harus ada untuk memertahankan kestabilan jumlah persediaan barang dagang suatu perusahaan. Persediaan barang dagang akir dihitung sebagai berikut :
·        Apabila kuantitasnya lebih banyak dari pada kuantitas persediaan dasar, nilai persediaan adalah nilai persediaan dasar ditambah dengan harga pasar kelebihannya
·        Apabila kuantitasnya lebih sedikit daripada kuantitas persediaan dasar, nilai persediaan adalah nilai persediaan dasar dikurangi dengan harga pasar.
f. Metode Taksiran
·        Metode Laba Kotor (Gross Margin Method)
Pada metode ini, informasi yang diperlukan untuk menemukan nilai persediaan akhir adalah barang tersedia untuk dijual, nilai penjualan bersih (neto), dan persentase laba kotor dari penjualan neto

·        Metode Harga Eceran (Retail Method)
Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang langsung melayani konsumen seperti toko atau supermarket. Data yang diperlukan untuk menentukan nilai persediaan akhir adalah harga jual seluruh barang menurut harga eceran dan hasil penjualan yang telah terjadi.
B. Penilaian dengan Sistem Perfetual
a. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)/First In First Out (FIFO)
          Nilai persediaan akhir barang dagang dihitung dengan mengasumsikan barang yang masuk pertama adalah barang yang dijual lebih dulu dan kekurangannya mengambil barang yang masuk berikutnya.
b. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)/Last In First Out (LIFO)
          Nilai persediaan akhir barang dagang dihitung dengan anggapan barang yang terakhir masuk yang lebih dulu dijual dan kekurangannya mengambil barang yang sudah masuk sebelumnya.
c. Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average)

          Setiap terjadi transaksi pembelian harus dihitung harga beli rata-rata tiap satuan sehingga harga barang dagang tiap satuan selalu berubah-ubah. Harga rata-rata tiap satuan sebagai dasar untuk menghitung nilai persediaan akhir barang dagang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar