Keinginan
masyarakat yang mencari nafkah demi membiayai keluarganya memang tidak dapat
dipungkiri lagi. Mereka berani masuk ke Sabah tanpa dokumen, dan dengan bantuan
saudara dan kawannya, mereka bisa memperoleh pekerjaan di Sabah.
Kampung Jembatan I dan Jembatan II
adalah dua nama kampung yang ada di Bombalai. Kampung tersebut dinamakan
kampung jembatan karena memang mereka tinggal di atas jembatan, jembatan sungai
yang airnya masih ada. Banyak TKI kita yang tinggal disana, termasuk
siswa-siswi CLC Bombalai. Mereka harus siap dan sabar ketika air laut pasang.
Mereka mandi dan mencuci di sungai itu. Pasokan air bersih untuk minum datang
setiap 1 bulan sekali. Itupun jika lancar, kadang jika pasokan air bersih tidak
ada, mereka akan minum air hujan yang ditadah, jika musim kemarau, maka air
sungai itu juga yang mereka minum. Memang jauh dari kebersihan dan standar yang
seharusnya. Rumah mereka berdempetan, berukuran kecil, tidak ada ventilasi yang
cukup, pengap. Dibawah rumah mereka merupakan sungai yang ditumbuhi oleh
pohon-pohon bakau tua dan mulai membusuk, karena bakau tersebut mulai teracuni
oleh detergen yang digunakan para TKI mencuci dan mandi, sehingga bakau
tersebut hanya tinggal batang-batangnya saja yang runcing, yang terus digenangi
oleh air sungai.
Para TKI kita memang akan terus
bertahan hidup di kampung itu. Karena di kampung itulah para TKI kita merasa
aman dari checking polisi yang
memeriksa dokumen mereka, seperti paspor dan sebagainya. Kampung itu cukup jauh
dari kampung bombalai, tempat para TKI melepas lelah yang relatif aman untuk
ditinggali.
Jika ada checking polisi di sekitar lingkungan kami, para TKI akan berlari,
kabur, supaya mereka tidak tertangkap. Mereka tidak peduli sakitnya batang
bakau yang harus mereka lewati, demi mengamankan diri.
Pendidikan merupakan hak setiap
warga Negara, di pelosok sekalipun. Kami akan terus berusaha memberikan
pelayanan pendidikan kepada anak-anak TKI yang ada di setiap wilayah Sabah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar