TEORI BELAJAR
Teori behavioristik adalah sebuah
teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran
psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan
teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang
dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya
perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model
hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu
yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir
sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya.
Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses
infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian
menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah
ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah
Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki
penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer)
yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada
pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas
bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan
dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup
yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang
hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap
untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan
memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan
masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena
mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih
pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa
terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua
konsep.
4. Teori Belajar Humanistik
Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Proses balajar dianggap berhasil jika seorang pelajar telah memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha
agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik- baiknya.
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya bukan dari sudut pandang pengamatnya. Peran guru dalam teori ini
adalah sebagai fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan
motivasi,kesadaran mengenai makna kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman
belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan
pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses
pengalaman belajarnya sendiri.
5. Teori Belajar Gestalt
Menurut pandangan teori gestalt seseorng memperoleh pengetahuan melaui
sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian
menyusunya kembali dalam struktur yang sederhana sehungga lebih mudah dipahami.
Manfaat dari beberapa teori belajar adalah :
a. Membantu guru untuk
memahami bagaimana siswa belajar
b. Membimbing guru untuk
merancang dan merencanakan proses pembelajaran
c. Memandu guru untuk
mengelola kelas
d. Membantu guru untuk
mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta hasil belajar siswa yang telah
dicapai
e. Membantu proses
belajar lebih efektif, efisien dan produktif
f. Membantu guru dalam
memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat mencapai hasil
prestasi yang maksimal.
6. Teori Pembelajaran Sosial
Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang
memperoleh penguatan(reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan
diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau
perilaku yang terkena hukuman (punishment). Dalam kenyataannya, daripada
membahas konsep motivasi belajar, penganut teori perilaku lebih memfokuskan
pada seberapa jauh siswatelah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam
rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura, 1986 dan Wielkeiwicks,
1995).
7. Teori Belajar Sosial
Dalam dasawarsa terakhir,
penganut teori konstruktivisme memperluas fokus tradisionalnya pada
pembelajaran individual ke dimensi pembelajaran kolaboratif dan sosial.
Konstruktivisme sosial bisa dipandang sebagai perpaduan antara aspek-aspek dari
karya Piaget dengan karya Bruner dan karya Vygotsky. Istilah Konstruktivisme
komunal dikenalkan oleh Bryn Holmes di tahun 2001. Dalam model ini,
"siswa tidak hanya mengikuti pembelajaran seperti halnya air
mengalir melalui saringan namun membiarkan mereka membentuk dirinya."
Dalam perkembangannya muncullah istilah Teori Belajar Sosial dari para pakar
pendidikan.
Pijakan awal teori
belajar sosial adalah bahwa manusia belajar melalui pengamatannya
terhadap perilaku orang lain. Pakar yang paling banyak melakukan riset teori
belajar sosial adalah Albert Bandura dan Bernard Weiner.
Meskipun classical dan operant
conditioning dalam hal-hal tertentu masih merupakan tipe penting dari belajar,
namun orang belajar tentang sebagian besar apa yang ia ketahui melalui
observasi (pengamatan). Belajar melalui pengamatan berbeda dari classical dan
operant conditioning karena tidak membutuhkan pengalaman personal langsung
dengan stimuli, penguatan kembali, maupun hukuman. Belajar melalui
pengamatan secara sederhana melibatkan pengamatan perilaku orang lain, yang
disebut model, dan kemudian meniru perilaku model tersebut.
Baik anak-anak maupun orang
dewasa belajar banyak hal dari pengamatan dan imitasi (peniruan) ini. Anak muda
belajar bahasa, keterampilan sosial, kebiasaan, ketakutan, dan banyak perilaku
lain dengan mengamati orang tuanya atau anak yang lebih dewasa. Banyak orang
belajar akademik, atletik, dan keterampilan musik dengan mengamati dan kemudian
menirukan gueunya. Menurut psikolog Amerika Serikat kelahiran Kanada Albert
Bandura, pelopor dalam studi tentang belajar melalui pengamatan, tipe belajar
ini memainkan peran yang penting dalam perkembangan kepribadian anak.
Bandura menemukan bukti bahwa belajar sifat-sifat
seperti keindustrian, keramahan, pengendalian diri, keagresivan, dan ketidak
sabaran sebagian dari meniru orang tua, anggota keluarga lain, dan
teman-temannya.
Uji Kompetensi Guru yang selanjutnya disebut UKG adalah pengujian terhadap
penguasaan kompetensi profesional dan pedagogik dalam ranah kognitif sebagai
dasar penetapan pengembangan keprofesian berkelanjutan dan bagian dari
penilaian kinerja guru. (Permendikbud No. 57 Tahun 2012). UKG dilakukan untuk
pemetaan kompetensi dan sebagai dasar kegiatan pengembangan keprofesian guru berkelanjutan
yang dilakukan secara periodik. Dengan demikian aspek yang diuji dalam UKG
adalah kompetensi pedagogik dan profesional dalam ranah kognitif.
Kompetensi pedagogik yang diuji meliputi: 1) mengenal karakteristik dan
potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan pengembangan kurikulum,
4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif, dan 5) menguasai
sistem, mekanisme, dan prosedur penilian.
Sedangkan kompetensi profesional yang diuji meliputi: 1) menguasai materi,
struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang
diampu guru, 2) menguasai metodologi keilmuan sesuai bidang tugas yang
dibebankan kepada guru, dan 3) menguasai hakikat profesi guru.
Sebagai bahan persiapan, berikut disajikan sebagian materi pendukung
berkaitan dengan UKG tersebut. (Semoga bermanfaat dan semoga Kebaikan
selalu dating dari segala penjuru)
Kompetensi Inti Guru dan
Kompetensi Guru Mata Pelajaran Kimia
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,
spiritual, sosial, kultural, emosional,dan intelektual.
1.2 Memahami karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek fisik,
intelektual, sosialemosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosialbudaya.
1.3 Mengidentifikasi potensi peserta didik dalam mata pelajaran yang
diampu.
1.4 Mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik dalam mata pelajaran
yang diampu.
1.5 Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran
yang diampu.
Indikator Esensial
1.1.1 Mengetahui
ciri-ciri fisik peserta didik
1.1.2 Mengetahui sikap
dan perilaku peserta didik
1.2.2 Mengetahui
latarbelakang sosial dan kultur peserta didik
1.2.2 Mengetahui potensi
yang dimiliki siswa dalam pelajaran kimia
1.3.1 Mengetahui
kemampuan awal siswa dalam pelajaran kimia
1.4.1 Mengetahui
kesulitan belajar siswa dalam pelajaran kimia
Materi Pendukung Uji
Kompetensi Guru (UKG)
1. Perkembangan Fisik Peserta
Didik
Secara fisik masa remaja ditandai dengan perubahan fisiologis menuju
kematangan sehingga mampu berreproduksi, yang disebut dengan masa pubertas.
Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik. Tubuh berkembang pesat
sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai dengan berkembangnya
kapasitas reproduktif.
Dalam perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan ciri-ciri seks
primer dan ciri-ciri seks sekunder, meliputi:
(1) Remaja pria, Matangnya organ– organ seks yang memungkinkan remaja pria
yang berusia sekitar 14– 15 tahun mengalami mimpi basah.
(2) Remaja wanita, Ditandai dengan tumbuhnya rahim, vagina dan ovarium
(indung telur). Ovarium menghasilkan ovum dan mengeluarkan hormon- hormon yang
diperlukan untuk kehamilan, menstruasi dan perkembangan seks sekunder. Pada
usia 11– 15 tahun, menstruasi pertama sering ditandai dengan sakit kepala,
sakit pinggang, kadang kejang, lelah, depresi dan mudah tersinggung.
2. Pembentukan Sikap dan
Perilaku
Sikap terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman
seseorang, dan bukan faktor bawaan (faktor intern) seseorang, serta tergantung
obyek tertentu (Jalaluddin, 1996:187). Menurut Darmiyati Zuchdi (1995: 57)
bahwa dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap
objek psikologis yang dihadapinya. Azwar (1998: 30-38) menyebutkan berbagai
faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap itu antara lain yaitu; pengalaman
pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggab penting, media massa, lembaga
pendidikan atau lembaga agama, dan faktor emosi dalam diri individu.
Menurut pandangan psikologi, sikap mengadung unsur penilaian dan reaksi
afektif, sehingga menghasilkan motif. Menurut Mar’at (Jalaluddin, 1996: 189),
menyatakan bahwa motif menentukan tingkah laku nyata (overt behaviour)
sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup (covert). Motif sebagai daya
pendorong arah sikap negatif atau positif akan terlihat dalam tingkah-laku
nyata pada diri seseorang atau kelompok. Sedangkan motif dengan
pertimbangan-pertimbangan tertentu dapat diperkuat oleh komponen afeksi. Motif
demikian biasanya akan menjadi lebih stabil. Pada tingkat tertentu motif akan
berperan sebagai central attitude (penentu sikap) yang
akhirnya akan membentuk predisposisi. Proses ini terjadi dalam diri seseorang
terutama pada tingkat usia dini. Predisposisi menurut Mar’at (Jalaluddin, 1996:
189) merupakan sesuatu yang telah dimiliki seseorang semenjak kecil sebagai
hasil pembentukan dirinya sendiri. Dalam hubungan ini tergambar bagaimana
hubungan pembentukan sikap sehingga menghasilkan pola tingkah laku tertentu.
3. Latar Belakang Sosial Budaya
Peserta Didik
Status sosial ekonomi, merupakan gabungan antara pendapatan, pekerjaan, dan
tingkat pendidikan keluarga peserta didik. Status ini berhubungan erat dengan
performans peserta didik. Pengaruh status sosial ekonomi ini bekerja melalui:
kebutuhan dasar dan pengalaman, keterlibatan orangtua, dan sikap-sikap serta
nilai-nilai. Oleh karena itu, guru harus menciptakan lingkungan belajar yang
aman dan terstruktur, menggunakan contoh yang bagus, mengaitkan bahan belajar
dengan kehidupan siswa, dan menggiatkan ineraksi dalam kegiatan belajar.
Faktor
Budaya menunjuk pada sikap-sikap, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan pola
perilaku yang menjadi ciri suatu kelompok social. Factor ini mempengaruh
keberhasilan dalam sekolah melalui sikap, nilai, dan cara pandang terhadap
dunia. Sebagai bagian dari budaya, latar belakang etnik juga mempengaruhi
keberhasilan peserta didik melalui sikap dan nilai-nilai. Implikasinya, guru
harus memahami peserta didiknya dengan: (1) berusaha mempelajari kebudayaan peseta
didik yang diajarnya, dan (2) berusaha menyadarkan peserta didik terhadap
nilai-nilai dan keberhasilan orang-orang dari etnik dan budaya minoritas
4. Identifikasi Potensi Peserta
Didik
Untuk
mengidentifikasi potensi peserta didik dapat dikenali dari: 1) ciri-ciri
(indikator) keberbakatan peserta didik dan 2) kecenderungan minat jabatan.
Ada tiga
kelompok ciri keberbakatan, yaitu: (1) kemampuan umum yang tergolong di atas
rata-rata (above average ability), (2) kreativitas (creativity) tergolong
tinggi, (3) komitmen terhadap tugas (task commitment) tergolong tinggi.
Lebih lanjut
Yaumil (1991) menjelaskan bahwa: (1) Kemampuan umum di atas rata-rata merujuk
pada kenyataan antara lain bahwa peserta didik berbakat memiliki perbendaharaan
kata-kata yang lebih banyak dan lebih maju dibandingkan peserta didik biasa;
cepat menangkap hubungan sebab akibat; cepat memahami prinsip dasar dari suatu
konsep; seorang pengamat yang tekun dan waspada; mengingat dengan tepat serta
memiliki informasi aktual; selalu bertanya-tanya; cepat sampai pada kesimpulan
yang tepat mengenai kejadian, fakta, orang atau benda. (2) Ciri-ciri
kreativitas antara lain: menunjukkan rasa ingin tahu yang luar biasa;
menciptakan berbagai ragam dan jumlah gagasan guna memecahkan persoalan; sering
mengajukan tanggapan yang unik dan pintar; tidak terhambat mengemukakan
pendapat; berani mengambil resiko; suka mencoba; peka terhadap keindahan dan
segi-segi estetika dari lingkungannya. (3) komitmen terhadap tugas sering
dikaitkan dengan motivasi instrinsik untuk berprestasi, ciri-cirinya mudah
terbenam dan benar-benar terlibat dalam suatu tugas; sangat tangguh dan ulet
menyelesaikan masalah; bosan menghadapi tugas rutin; mendambakan dan mengejar
hasil sempurna; lebih suka bekerja secara mandiri; sangat terikat pada
nilai-nilai baik dan menjauhi nilai-nilai buruk; bertanggung jawab,
berdisiplin; sulit mengubah pendapat yang telah diyakininya.
Kecenderungan minat jabatan peserta didik dapat dikenali dari tipe
kepribadiannya. Holland (1985) mengidentifikasikan tipe kepribadian seseorang
berikut ciri-cirinya. Dari identifikasi kepribadian peserta didik menunjukkan
bahwa tidak semua jabatan cocok untuk semua orang. Setiap tipe kepribadian
tertentu mempunyai kecenderungan terhadap minat jabatan tertentu pula. Berikut
disajikan kecenderungan tipe kepribadian dan ciri-cirinya.
1.
Realistik (realistic), yaitu kecenderungan untuk bersikap apa adanya atau
realistik. Ciri-ciri kecenderungan ini adalah : rapi, terus terang, keras
kepala, tidak suka berkhayal, tidak suka kerja keras.
2.
Penyelidik (investigative), yaitu kecenderungan sebagai penyelidik.
Ciri-ciri kecenderungan ini meliputi : analitis, hati-hati, kritis, suka yang
rumit, rasa ingin tahu besar.
3.
Seni (artistic), yaitu kecenderungan suka terhadap seni. Ciri-ciri kecenderungan
ini adalah: tidak teratur, emosi, idealis, imajinatif, terbuka.
4.
Sosial (social), yaitu kecenderungan suka terhadap kegiatan-kegiatan
yang bersifat sosial. Ciri-cirinya : melakukan kerjasama, sabar, bersahabat,
rendah hati, menolong, dan hangat.
5.
Suka usaha (enterprising), yaitu kecenderungan menyukai bidang usaha.
Ciri-cirinya : ambisius, energik, optimis, percaya diri, dan suka bicara.
6. Tidak mau berubah (conventional),
yaitu kecenderungan untuk mempertahankan hal-hal yang sudah ada, enggan
terhadap perubahan. Ciri-cirinya : hati-hati, bertahan, kaku, tertutup, patuh
konsisten
5. Proses Identifikasi Pontensi
Peserta Didik
Potensi
peserta didik dapat dideteksi dari keberbakatan intelektual pada peserta didik.
Ada dua cara pengumpulan informasi untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu
dengan menggunakan data objektif dan data subjektif.
Identifikasi
melalui penggunaan data objektif diperoleh melalui antara lain : a) skor tes
inteligensi individual, b) skor tes inteligensi kelompok, c) skor tes akademik,
dan d) skor tes kreativitas.
Sedangkan
identifikasi melalui penggunaan data subjektif diperoleh dari: a) ceklis
perilaku, b) nominasi oleh guru, c) nominasi oleh orang tua, d) nominasi oleh
teman sebaya dan e) nominasi oleh diri sendiri.
Biasanya
prestasi akademik yang dilihat dari anak berbakat intelektual adalah dalam mata
pelajaran : Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, Pengetahuan Sosial,
Sains (Fisika, Biologi, dan Kimia). Untuk pengumpulan informasi melalui data
subjektif, sekolah dapat mengembangkan sendiri dengan mengacu pada konsepsi dan
ciri (indikator) keberbakatan yang terkait.
6. Kemampuan Awal Peserta
Didik
Kemampuan awal dapat diambil dari nilai yang sudah didapat sebelum materi
baru diperoleh. Kemampuan awal merupakan prasyarat yang harus dimiliki siswa
sebelum memasuki pembelajaran materi pelajaran berikutnya yang lebih tinggi.
Kemampuan awal atau prior knowledge (PK) merupakan
langkah penting di dalam proses belajar. Dari berbagai penelitian
terungkap bahwa lingkungan belajar memerlukan suasana stabil, nyaman dan
familiar atau menyenangkan. Lingkungan belajar, dalam konteks PK, harus
memberikan suasana yang mendukung keingintahuan peserta didik, semangat untuk
meneliti atau mencari sesuatu yang baru, bermakna, dan menantang. Menciptakan
kesempatan yang menantang para peserta didik untuk ”memanggil kembali” PK
merupakan upaya yang esensial.
Dengan cara-cara tersebut maka pengajar/instruktur/fasilitator mendorong
peserta didik untuk mengubah pola pikir, dari mengingat informasi yang pernah
dimilikinya menjadi proses belajar yang penuh makna dan memulai perjalanan
untuk menghubungkan berbagai jenis kejadian/peristiwa dan bukan lagi
mengingat-ingat pengalaman yang ada secara terpisah-pisah. Dalam seluruh proses
tadi, PK merupakan elemen esensial untuk menciptakan proses belajar menjadi
sesuatu yang bermakna.
Dalam proses belajar, PK merupakan kerangka di mana peserta didik menyaring
informasi baru dan mencari makna tentang apa yang sedang dipelajari olehnya.
Proses membentuk makna melalui membaca didasarkan atas PK di mana peserta
didik akan mencapai tujuan belajarnya.
7. Kesulitan Belajar Siswa
Cooney, Davis &
Henderson (1975) mengidentifikasikan beberapa faktor penyebab kesulitan
tersebut, di antaranya:
1) Faktor Fisiologis
Faktor ini meliputi kurang berfungsinya otak, susunan syaraf ataupun
bagian-bagian tubuh lain. Para guru harus menyadari bahwa hal yang paling
berperan pada waktu belajar adalah kesiapan otak dan sistem syaraf dalam
menerima, memroses, menyimpan, ataupun memunculkan kembali informasi yang sudah
disimpan.
Di samping itu, siswa yang sakit-sakitan, tidak makan pagi, kurang baik
pendengaran, penglihatan ataupun pengucapannya sedikit banyak akan menghadapi
kesulitan belajar. Untuk menghindari hal tersebut dan untuk membantu siswanya,
seorang guru hendaknya memperhatikan hal-hal yang berkait dengan kesulitan
siswa ini.
2) Faktor Sosial
Merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah jika orang tua dan
masyarakat sekeliling sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kegiatan belajar
dan kecerdasan siswa sebagaimana ada yang menyatakan bahwa sekolah adalah
cerminan masyarakat dan anak adalah gambaran orang tuanya. Oleh karena itu ada
beberapa faktor penyebab kesulitan belajar yang berkait dengan sikap dan keadaan
keluarga serta masyarakat sekeliling yang kurang mendukung siswa tersebut untuk
belajar sepenuh hati.
Intinya, lingkungan di sekitar siswa harus dapat membantu mereka untuk
belajar semaksimal mungkin selama mereka belajar di sekolah. Dengan cara
seperti ini, lingkungan dan sekolah akan membantu para siswa, harapan bangsa
ini untuk berkembang dan bertumbuh menjadi lebih cerdas. Siswa dengan kemampuan
cukup seharusnya dapat dikembangkan menjadi siswa berkemampuan baik, yang
berkemampuan kurang dapat dikembangkan menjadi berkemampuan cukup. Sekali lagi,
orang tua, guru, dan masyarakat, secara sengaja atau tidak sengaja, dapat
menyebabkan kesulitan bagi siswa. Karenanya, peran orang tua dan guru dalam
membentengi para siswa dari pengaruh negatif masyarakat sekitar, di samping
perannya dalam memotivasi para siswa untuk tetap belajar menjadi sangat
menentukan.
3) Faktor Kejiwaan
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait
dengan kurang mendukungnya perasaan hati (emosi) siswa unutuk belajar secara
sungguh-sungguh. Karenanya, tugas utama yang sangat menentukan bagi seorang
guru adalah bagaimana membantu siswanya sehingga mereka dapat mempelajari
setiap materi dengan baik.
Yang perlu mendapatkan perhatian juga, hukuman yang diberikan seorang guru
dapat menyebabkan siswanya lebih giat belajar, namun dapat juga menyebabkan
mereka tidak menyukai guru mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu, guru
hendaknya jangan hanya melihat hasilnya saja, namun hendaknya menghargai usaha
keras siswa. Dengan cara seperti ini, diharapkan si siswa akan lebih berusaha
lagi.
Intinya, tindakan seorang guru dapat mempengaruhi perasaan dan emosi
siswanya. Tindakan tersebut dapat menjadikan seorang siswa menjadi lebih baik,
namun dapat juga menjadikan seorang siswa menjadi tidak mau lagi untuk belajar
suatu mata pelajaran.
4) Faktor Intelektual
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait
dengan kurang sempurna atau kurang normalnya tingkat kecerdasan siswa. Para
guru harus meyakini bahwa setiap siswa mempunyai tingkat kecerdasan berbeda.
Ada siswa yang sangat sulit menghafal sesuatu, ada yang sangat lamban menguasai
materi tertentu, ada yang tidak memiliki pengetahuan prasyarat dan juga ada
yang sangat sulit membayangkan dan bernalar. Hal-hal yang disebutkan tadi
dapat menjadi faktor penyebab kesulitan belajar pada diri siswa tersebut. Di
samping itu, hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah para siswa yang tidak
memiliki pengetahuan prasyarat.
5) Faktor Kependidikan
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait
dengan belum mantapnya lembaga pendidikan secara umum. Guru yang selalu
meremehkan siswa, guru yang tidak bisa memotivasi siswa untuk belajar lebih
giat, guru yang membiarkan siswanya melakukan hal-hal yang salah, guru yang
tidak pernah memeriksa pekerjaan siswa, sekolah yang membiarkan para siswa
bolos tanpa ada sanksi tertentu, adalah contoh dari faktor-faktor penyebab
kesulitan dan pada akhirnya akan menyebabkan ketidak berhasilan siswa tersebut.
Idealnya, setiap guru harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk membantu
siswanya keluar dari setiap kesulitan yang menghimpitnya. Namun hal yang perlu
diingat, penyebab kesulitan itu dapat berbeda-beda. Ada yang karena faktor
emosi seperti ditinggal saudara kandung tersayang ataupun karena faktor
fisiologis seperti pendengaran yang kurang. Untuk itu, para guru harus mampu
mengidentifikasi kesulitan dan penyebabnya lebih dahulu sebelum berusaha untuk
mencarikan jalan pemecahannya. Pemecahan masalah kesulitan belajar siswa sangat
tergantung pada keberhasilan menentukan penyebab kesulitan tersebut.
Daftar Pustaka
Cooney, T.J., Davis, E.J., Henderson, K.B. (1975). Dynamics of Teaching
Secondary School Mathematics. Boston : Houghton Mifflin Company
Uji Kompetensi Guru yang selanjutnya disebut UKG adalah pengujian terhadap
penguasaan kompetensi profesional dan pedagogik dalam ranah kognitif sebagai
dasar penetapan pengembangan keprofesian berkelanjutan dan bagian dari
penilaian kinerja guru. (Permendikbud No. 57 Tahun 2012). UKG dilakukan untuk
pemetaan kompetensi dan sebagai dasar kegiatan pengembangan keprofesian guru
berkelanjutan yang dilakukan secara periodik. Dengan demikian aspek yang diuji
dalam UKG adalah kompetensi pedagogik dan profesional dalam ranah kognitif.
Kompetensi pedagogik yang diuji meliputi: 1) mengenal karakteristik dan
potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan pengembangan kurikulum,
4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif, dan 5) menguasai
sistem, mekanisme, dan prosedur penilian.
Sedangkan kompetensi profesional yang diuji meliputi: 1) menguasai materi,
struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang
diampu guru, 2) menguasai metodologi keilmuan sesuai bidang tugas yang
dibebankan kepada guru, dan 3) menguasai hakikat profesi guru.
Sebagai bahan persiapan, berikut disajikan sebagian materi pendukung
berkaitan dengan UKG tersebut. (Semoga bermanfaat dan semoga Kebaikan
selalu dating dari segala penjuru)
Kompetensi Inti Guru dan
Kompetensi Guru Mata Pelajaran Kimia
3. Mengembangkan
Kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
2.2 Menerapkan berbagai
pendekatan, strategi, metode, dan Teknik pembelajaran yang mendidik secara
kreatif dalam mata pelajaran yang diampu
3.2 Menentukan tujuan
pembelajaran Yang diampu.
3.3. Menentukan
pengalaman belajar Yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diampu.
3.4 Memilih materi
pembelajaran yang diampu yang terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan
pembelajaran.
3.5 Menata materi
pembelajaran secara benar sesuai dengan endekatan yang dipilih dan
karakteristik peserta didik.
3.6 Mengembangkan
indikator dan instrument penilaian
Indikator Esensial
2.2.1.Menerapkan pendekatan,
strategi, metode, dan teknik, pembelajaran kimia di SMA/MA
3.1 Memahami
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
3.2.1. Menerapkan
prinsip--‐prinsip pengembangan kurikulum
3.2.1. Menjelaskan
tujuan pembelajaran untuk mengajarkan materi kimia pada SK dan KD tertentu
3.2.2. Menuliskan tujuan
pembelajaran
3.3.1. Merumuskan
pengalaman belajar siswa guna mencapai tujuan yang ditetapkan
3.4 menentukan materi
Pembelajaran kimia terkait Dengan pengalaman belajar Dan tujuan
pembelajaran.
3.5. Menjelaskan manfaat
bahan ajar Sesuai tujuan pembelajaran.
3.6.1.Mengembangkan
indikator dan instrumen penilaian
3.6.2 Memilih indicator
yang sesuai untuk meteri kimia dengan SK dan KD tertentu
Materi Pendukung UKG (3)
A. Metodologi
Pembelajaran
1. Proses dan Metode
Pembelajaran
Pembelajaran diartikan sebagai proses belajar mengajar. Dalam konteks
pembelajaran ada dua komponen penting yaitu pendidik dan peserta didik,
sehingga pembelajaran didefinisikan sebagai pengorganisasian, penciptaan, atau
pengaturan suatu kondisi lingkungan yang sebaik-baiknya yang memungkinkan
terjadinya belajar pada peserta didik. Proses pembelajaran pada satuan
pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau
seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran
disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik serta karakteristik dari
setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran
(Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007).
2. Model Pembelajaran
Joyce, Well, dan Showers (1992) dalam Indrawati (2000) menggolongkan
model-model pembelajaran ke dalam empat rumpun yaitu sebagai berikut:
a. rumpun model-model pengolahan informasi, misalnya model latihan
induktif, latihan inkuari, synectics dan yang lainnya;
b. rumpun model-model pribadi / individual, misal model pengajaran non
direktif, sistem konseptual, dan yang lainnya;
c. rumpun model-model sosial, misalnya role playing (bermain peran), dan
pasangan dalam belajar (partners in learning);
d. model-model perilaku, misalnya mastery learning, self control;
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang menggambarkan kegiatan
dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. (http://www.psb-psma.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-medote-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran).
Model pembelajaran dapat diartikan sebagai rencana yang memperlihatkan pola
pembelajaran tertentu (terlihat kegiatan guru-siswa), dan sumber belajar yang
digunakan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya
belajar pada peserta didik;
Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta
didik dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tertentu.(http://www.psb-psma.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-medote-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran).
Menurut Drs. H. Muhamad Ali, dalam Proses Belajar tidak ada model
pembelajaran yang paling efektif untuk semua mata pelajaran atau untuk semua
materi.
Ciri-ciri model pembelajaran yang baik dalam pengembangannya harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Acuan dasar pengembangan adalah RPP yang dibuat guru dengan fokus:
1) tujuan pembelajaran,
2) kompleksitas materi
ajar,
3) metode pembelajaran,
dan
4) alokasi waktu;
b. Tujuan pembelajaran tertuang secara eksplisit dalam model;
c. Kegiatan yang akan dilakukan siswa dalam desain model pembelajaran harus
merefleksikan metode pembelajaran yang dituliskan guru dalam RPP; Contoh, jika
metode yang dipilih dan ditulis guru dalam RPP adalah pengamatan, maka langkah
dalam model pembelajaran harus ada pernyataan “siswa melakukan pengamatan”;
d. Persentase kegiatan siswa (belajar) lebih dominan daripada kegiatan
guru;
e. Eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi terakomodasi secara terpadu dan
tersirat dalam rangkaian tahapan model pembelajaran yang dibuat;
f. Model pembelajaran yang ditata hendaknya sistematis dan mampu menjawab
keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran;
g. Adanya keterlibatan intelektual dan atau emosional peserta didik melalui
kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat, dan pembentukan sikap;
h. Adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama
pelaksanaan model pembelajaran;
i. Guru bertindak sebagai fasilitator, koordinator, mediator, dan motivator
kegiatan belajar peserta didik;
j. Pemilihan alat, media, dan bahan pembelajaran harus tepat guna;
k. Apabila model pembelajaran yang akan diterapkan oleh guru dalam PBM
bukan produk sendiri melainkan adopsi atau adaptasi, maka pemilihan model yang
akan digunakan harus mempertimbangkan acuan dasar dalam RPP ditambah dengan
kesesuaian kondisi peserta didik;
3. Pendekatan, Strategi,
dan Metode Pembelajaran
Pendekatan adalah suatu usaha dalam aktivitas kajian atau interaksi, relasi
dalam suasana tertentu, dengan individu atau kelompok melalui penggunaan
metode-metode tertentu secara efektif.
Strategi pembelajaran merupakan pendekatan dalam mengelola kegiatan
pembelajaran, dengan mengintegrasikan komponen urutan kegiatan, cara
mengorganisasikan materi, peralatan dan bahan serta waktu yang digunakan dalam
proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan
efisien.
Metode dalam arti harfiah adalah cara teratur untuk mencapai tujuan atau
cara kerja yang bersistem untuk memudahkan suatu kegiatan untuk mencapai
tujuan.
B. Prinsip Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan
Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan
nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,
satuan pendidikan dan peserta didik.
KTSP dikembangkan sesuai
dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor
Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk
pendidikan menengah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan
disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL
serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP.
KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai
berikut:
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa
peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan
kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung
pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan
dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta
tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran
berpusat pada peserta didik.
2. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman
karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan,
serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku,
budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi
substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri
secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna
dan tepat antar substansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh
karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta
didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni.
4.
Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan
melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi
pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan
kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu,
pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan sosial, keterampilan akademik,
dan keterampilan vokasional.
5.
Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi
kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang
direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang
pendidikan.
6.
Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan,
pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal,
nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan
lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7.
Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan
kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan daerah harus saling mengisi
dan memberdayakan sejalan dengan Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
C. Acuan Operasional Penyusunan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan
KTSP disusun dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
Keimanan dan ketakwaan
serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara
utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat
menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
2. Peningkatan potensi,
kecerdasan, dan minat sesuai dengantingkat perkembangan dan kemampuan peserta
didik
Pendidikan merupakan proses sistematik untuk
meningkatkan martabat manusia secara holistik yang memungkinkan potensi diri
(afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara optimal. Sejalan dengan
itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat
perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan
kinestetik peserta didik.
3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan
lingkungan
Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan
keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan
sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh
karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan
lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah.
4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
Dalam era otonomi dan desentralisasi untuk mewujudkan
pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperhatikan keragaman dan
mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional.
Untuk itu, keduanya harus ditampung secara berimbang dan saling mengisi.
5. Tuntutan dunia kerja
Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh
kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai
kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu
memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal
ini sangat penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta
didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang
membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEKS sangat berperan sebagai
penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi
dan penyesuaian perkembangan IPTEKS sehingga tetap relevan dan kontekstual
dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala
dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni.
7. Agama
Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung
peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia dengan tetap memelihara toleransi
dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata
pelajaran harus ikut mendukung peningkatan iman, taqwa dan akhlak mulia.
8. Dinamika perkembangan global
Pendidikan harus menciptakan kemandirian, baik pada
individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan oleh pasar
bebas. Pergaulan antar bangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang
mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan
dengan suku dan bangsa lain.
9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Pendidikan diarahkan untuk membangun karakter dan
wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu,
kurikulum harus mendorong berkembangnya wawasan dan sikap kebangsaan serta
persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI.
10. Kondisi sosial budaya
masyarakat setempat
Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih
dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain.
11. Kesetaraan Jender
Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya
pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan jender.
12. Karakteristik satuan
pendidikan
Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi,
tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.
(Sumber: BSNP. 2006. Panduan Penyusunan KTSP Jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah)
D. Tujuan Mata Pelajaran
Kimia
1. Membentuk sikap positif terhadap kimia dengan menyadari
keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet,
kritis, dan dapat bekerjasama dengan orang lain
3. Memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui
percobaan atau eksperimen. Untuk hal itu peserta didik melakukan pengujian
hipotesis dengan merancang percobaan melalui perangkaian instrumen,
pengambilan, pengolahan dan penafsiran data, serta menyampaikan hasil percobaan
secara lisan dan tertulis
4. Meningkatkan kesadaran tentang terapan kimia yang dapat bermanfaat
dan juga merugikan bagi individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari
pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat
5. Memahami konsep, prinsip, hukum, dan teori kimia serta saling
keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan
sehari-hari dan teknologi.
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan
dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar Permendiknas No. 41
Tahun 2007 tentang Standar Proses). Tujuan pembelajaran dapat mencakup sejumlah
indikator, atau satu tujuan pembelajaran untuk beberapa indikator, yang penting
tujuan pembelajaran harus mengacu kepada pencapaian indicator.
Seorang guru dalam merencanakan pembelajaran dituntut untuk dapat merumuskan
tujuan pembelajaran secara tegas dan jelas. Perumusan tujuan pembelajaran dapat
memberikan manfaat tertentu bagi guru maupun siswa. Saat ini telah terjadi
pergeseran dalam merumuskan tujuan pembelajaran dari penguasaan bahan ke
penguasan performansi. Tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang
spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam
bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Tujuan
pembelajaran seyogyanya dirumuskan secara jelas, yang didalamnya mencakup
komponen: Audience, Behavior, Condition dan Degree
E. Pengalaman Belajar
1. Pengertian Pengalaman
Belajar
Pengalaman belajar tidak sama dengan konten materi pembelajaran atau
kegiatan yang dilakukan oleh guru. Istilah pengalaman belajar mengacu
kepada interaksi antara pelajar dengan kondisi eksternal di lingkungan yang ia
reaksi. Belajar melalui perilaku aktif siswa; yaitu apa yang ia lakukan saat ia
belajar, bukan apa yang dilakukan oleh guru).
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa:
1) Pengalaman belajar mengacu kepada interaksi pebelajar dengan
kondisi eksternalnya, bukan konten pelajaran,
2) Pengalaman belajar mengacu kepada belajar melaui perilaku aktif siswa,
3) Belajar akan dimiliki oleh siswa setelah dia mengikuti kegiatan
belajar-mengajar tertentu,
4) Pengalaman belajar itu merupakan hasil yang diperoleh siswa,
5) Adanya berbagai upaya yang dilakukan oleh guru dalam usahanya untuk
membimbing siswa agar memiliki pengalaman belajar tertentu.
2. Implementasi Pengalaman
Belajar
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang
melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik,
peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka
pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud
melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada
peserta didik.
Pengalaman dan belajar di sini menunjukkan aktivitas belajar yang perlu
dilakukan oleh siswa dalam mencapai standar kompetensi, kemampua dasar, dan
materi pembelajaran. Pengalaman belajar adalah kegiatan fisik maupun mental
yang perlu dilakukan oleh siswa dalam mencapai kompetensi dasar dsn materi
pembelajaran.
Pengalaman belajar perlu dirumuskan, sebagai acuan bagi guru dalam
mengembangkan strategi atau metode pembelajaran. Pengalaman belajar dapat
diperolehj melalui berbagai macam aktivitas dan kegiatan secara fisik dan
mental baik di kelas maupun di luar kelas. Pengalaman belajar dalam kelas dapat
dilakukan oleh siswa melalui interaksi antara siswa dengan objek / sumber
belajar, sesuai dengan uraian materi pembelajaran yang tela dirumuskan.
Bentuknya berupa mendengarkan materi, membaca, menyimpulkan materi, diskusi
kelompok, praktek laboratorium, dan lain sebagainya.
Sedangkan pengalaman belajar di luar kelas, dapat diperoleh siswa melalui
kegiatan siswa dalam berinteraksi dengan objek atau sumber belajar seperti
proses observasi, mengamati aktivitas sosial keagamaan masyarakat,
memperhatikan alam sekitar. Pada mata pelajaran sains pengalaman belajar dapat
dikemas dalam bentuk mengamati ragam macam tumbuhan, makhluk hidup, sesuai
dengan karakteristik habitatnya. Pada ilmu sosial biasa juga diperoleh melalui
pengamatan pada perdagangan di pasar tradisional dan pasar modern, interaksi
sosial antar komunitas seagama / berbeda agama, praktik kebudayaan masyarakat,
praktik pelaksanaan suatu aturan hukum dan lain sebagainya.
3. Teknik Pengembangan
Pengalaman Belajar Siswa
Agar pengalaman belajar dapat dikembangkan secara efektif dan efisien maka
guru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Guru terlebih memedomani dan menguasai substansi materi pembelajaran
yang telah dirumuskan dalam bentuk materi pembelajaran.
2. Memahami bentuk kegiatan belajar yang seperti apa yang diinginkan.
Bentuk-bentuk kegiatan belajar dapat dilakukan berupa mendemonstrasikan,
mempraktikkan, mensimulasikan, mengadakan eksperimen, menganalisis,
mengaplikasikan, menemukan, mengamati, meneliti, menelaah, mengamati,
mengobservasi, membaca, menyimpulkan, mempresentasikan dan lain-lain.
3. Merumuskan pengalaman belajar siswa.
4. Rumusan pengalaman belajar siswa menggunakan kata-kata oprasional yang
menggambarkan tentang aktivitas siswa dalam belajar.
F. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan berupa seperangkat materi yang
disusun secara sistematis yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memungkinkan siswa untuk belajar.
Jenis bahan ajar berupa:
a. Bahan ajar cetak, antara lain hand out, buku, modul, poster, brosur,
lembar kerja siswa, wallchart, photo atau gambar, dan leaflet;
b. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam,
dancompact disk audio;
c. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti compact
disk video, film ;
d. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material)
seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD)
multimedia pembelajaran interaktif, dan
e. bahan ajar berbasis web (web based learning materials).
Prinsip pengembangan bahan ajar adalah:
a. Prinsip relevansi atau keterkaitan materi sesuai dengan tuntutan Standar
Kompetensi/Kompetensi Dasar;
b. Prinsip konsistensi atau keajegan, dimaksudkan jika kompetensi dasar
yang harus dicapai siswa ada empat macam, maka bahan ajarnya pun harus empat
macam;
c. Prinsip adekuasi atau kecukupan adalah kecukupan materi dalam bahan ajar
untuk mencapai kompetensi seperti yang diajarkan oleh guru.
Bahan Ajar Dependen Dan Independen
Bahan ajar dependen adalah bahan ajar yang ada kaitannya antara bahan ajar
yang satu dengan bahan ajar yang lain, sehingga dalam penulisannya harus saling
memperhatikan satu sama lain, apalagi kalau saling mempersyaratkan.
Bahan ajar independen adalah bahan ajar yang berdiri sendiri atau dalam
penyusunannya tidak harus memperhatikan keterikatan dengan bahan ajar yang
lain;
Pengertian TIK terdiri atas dua aspek yaitu teknologi informasi dan
teknologi komunikasi. Teknologi informasi mengandung pengertian segala hal yang
berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi dan
pengolahan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi mempunyai pengertian
segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan
mentransfer data dari perangkat yang satu ke perangkat yang lain.
Pengertian bahan ajar berbasis TIK adalah bahan ajar yang berkaitan dengan
teknologi sebagai alat bantu untuk mengolah data, termasuk memproses,
mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk
menghasilkan informasi yang berkualitas. (Direktorat Pembinaan SMA. 2010.
Juknis Pengembangan Bahan Ajar SMA).
G. Indikator Dan
Instrumen Penilaian
Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi
persyaratan (a) substansi yang merepresentasikan kompetensi yang dinilai, (b)
konstruksi yang harus memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk
instrumen yang digunakan, dan (c) bahasa yang menggunakan bahasa yang baik dan
benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik
(Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian).
Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk
ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa,
serta memiliki bukti validitas empirik (Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang
Standar Penilaian).
Instrumen tes berupa perangkat tes yang berisi soal-soal, instrumen
observasi berupa lembar pengamatan, instrumen penugasan berupa lembar tugas
projek atau produk, instrumen portofolio berupa lembar penilaian portofolio,
instrumen inventori dapat berupa skala Thurston, skala Likert atau skala
Semantik, instrumen penilaian diri dapat berupa kuesioner atau lembar penilaian
diri, dan instrumen penilaian antarteman berupa lembar penilaian antar teman.
Setiap instrumen harus dilengkapi dengan pedoman penskoran. (Rancangan
Penilaian Hasil Belajar yang dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Atas).
Indikator merupakan rumusan yang menggambarkan karakteristik, ciri-ciri,
perbuatan, atau respon yang harus ditunjukkan atau dilakukan oleh peserta didik
dan digunakan sebagai penanda/indikasi pencapaian kompetensi dasar. (Lihat
instruksi Kerja Penilaian Kognitif, Psikomotorik, dan Afektif).
Penilaian hasil belajar peserta didik harus memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a. Sahih (valid), yakni penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan
kemampuan yang diukur;
b. Objektif, yakni penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang
jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai;
c. Adil, yakni penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik,
dan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, agama, bahasa, suku
bangsa, dan jender;
d. Terpadu, yakni penilaian merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari
kegiatan pembelajaran;
e. Terbuka, yakni prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar
pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan;
f. Menyeluruh dan berkesinambungan, yakni penilaian mencakup semua aspek
kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik yang sesuai, untuk memantau
perkembangan kemampuan peserta didik;
g. Sistematis, yakni penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap
dengan mengikuti langkah-langkah yang baku;
h. Menggunakan acuan kriteria, yakni penilaian didasarkan pada ukuran
pencapaian kompetensi yang ditetapkan;
i. Akuntabel, yakni penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi
teknik, prosedur, maupun hasilnya (Lampiran Permendiknas RI Nomor 20 Tahun
2007).
. SCL adalah salah satu
inovasi di bidang pendidikan yang bercirikan:
a. Menekankan transfer
pengetahuan dari guru ke siswa,
b. Lebih menekankan pada
penguasaan materi,
c. Penekanan pada
pencapaian kompetensi,
d. Proses pembelajaran
dan penilaian dilakukan secara terpisah,
e. Penekanan pada
ketuntasan materi pelajaran.
2. Pemilihan model
pembelajaran sangat bergantung pada:
a. Sarana-prasarana,
b. Siswa,
c. Kurikulum,
d. Guru,
e. Semuanya benar.
3. Perkembangan
teknologi informasi sangat mempengaruhi:
a. Perkembangan model
pembelajaran,
b. Cara belajar siswa,
c. Cara mengajar guru,
d. Perkembangan bahan
ajar,
e. Semuanya benar.
4. Model pembelajaran
yang meminta siswa untuk mengurutkan dan menjelaskan gambar setelah guru
menyampaikan materi adalah:
a. Cooperative Script,
b. Metode Jigsaw,
c. Snowball Throwing,
d. Problem Solving,
e. Picture and Picture.
5. Model pembelajaran
yang mengedepankan kerjasama sesama guru serta melakukan perencanaan, praktek
mengajar, observasi Refleksi/kritikan terhadap pembelajaran adalah:
a. Lesson Study,
b. Cooperative Script,
c. Metode Jigsaw,
d. Snowball Throwing,
e. Inquiry.
6. Model pembelajaran
dengan cara membuat pertanyaan yang dituliskan pada kertas lalu diberikan pada
ketua kelompok untuk dilempar ke siswa lain untuk dijawab adalah:
a. Lesson Study,
b. Cooperative Script,
c. Metode Jigsaw,
d. Snowball Throwing,
e. Inquiry.
7. Model pembelajaran
dimana guru membagi topik tertentu menjadi beberapa subtopik, selanjutnya
membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif, setiap anggota
bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap subtopik, adalah:
a. Lesson Study,
b. Cooperative Script,
c. Metode Jigsaw,
d. Snowball Throwing,
e. Inquiry.
8. Model pembelajaran
yang mempunyai kelebihan mendorong siswa berpikir secara ilmiah, kreatif,
intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri, menumbuhkan sikap objektif,
jujur dan terbuka, adalah:
a. Role Playing,
b. Inquiry,
c. Problem Solving,
d. Picture and Picture,
e. Metode Jigsaw.
9. Model pembelajaran
yang menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis, adalah:
a. Role Playing,
b. Inquiry,
c. Problem Solving,
d. Picture and Picture,
e. Metode Jigsaw.
10. Model pembelajaran
yang mempunyai keunggulan antara lain; berpikir dan bertindak kreatif,
memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis, merangsang perkembangan
kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat,
adalah:
a. Role Playing,
b. Inquiry,
c. Problem Solving,
d. Picture and Picture,
e. Metode Jigsaw.
1. Beragam teknik
penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar
siswa, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar.
Teknik-teknik penilain tersebut adalah sebagai berikut, kecuali:
a.Penilaian unjuk kerja
b. Penilaian sikap
c. Penilaian observasi
langsung
d. Penggunaan tertulis
2. Dalam Soal tes
tertulis peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban
tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti berikut, kecuali:
a. Memberi tanda
b. Mewarnai
c. Membaca
d. Menggambar
3. Tes tertulis dalam
bentuk mensuplai jawaban dapat dibedakan, kecuali menjadi:
a.multiple choice
b. isian
c. jawaban singkat
d. uraian.
4. Tes ini dapat
digunakan untuk menilai kemampuanberfikir tinggi !
a. tes sebab-akibat
b. tes benar – salah
c. tes menjodohkan
d. tes pilihan ganda.
5. Tes tertulis bentuk
ini merupakan alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat,
memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang telah
dipelajarinya.
a. jawaban singkat
b. uraian
c. isian
d. pilihan ganda.
6. Dalam menyusun alat
penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut, kecuali .........
a. jumlah item
b. karakteristik mata
pelajaran
c. materi
d. konstruksi
7. Tes pilihan ganda
memiliki beberapa kekurangan diantaranya tersebut berikut ini, kecuali
.........
a.peserta didik tidak
mengembangkan sendiri jawabannya
b. menimbulkan
kecenderungan anak didik tidak belajar
c. kurang dapat untuk
memodifikasi kegiatan pembelajaran
d. banyak digunakan
untuk penilaian ketrampilan berbahasa secara formal.
8. Kelemahan tes
tertulis bentuk uraian antara lain .....
a. peserta didik dapat
mengekspresikan gagasan atau pendapatnya
b. dapat menilai
berbagai jenis kompetensi
c. cakupan materi yang
ditanyakan terbatas
d. peserta didik
dituntut untuk mengemukakan pendapatnya dengan kata-katanya sendiri.
9.Keberhasilan
pembelajaran bergantung pada beberapa hal, kecuali ....
a. efektifitas penilaian
kelas
b. cost benefit yang
besar
c. perancangan penilaian
secara sistemasis
d. perlakuan penilaian
yang secara terus-menerus dan berkesinambungan.
10. Penilaian kelas yang
baik akan memberikan informasi yang bermanfaat, kecuali
a. bagi orang tua, dapat
meningkatkan gairah kerjanya agar dapat membiayai sekolah anak-anaknya
b. bagi guru, dapat
meningkatkan efektifitas mengajarnya
c. bagi peserta didik,
akan meningkatkan kualitas kegiatan/hasil belajarnya
d. mampu memotivasi anak
didik meningkatkan terus upaya belajarnya.
1. KTSP menuntut adanya
perubahan dalam mengelola proses pembelajaran. Oleh karena itu guru harus (a).
Inovatip dan Kreatip (b) Paradikma Teaching berubah menjadi learning (c). cara
berpikir produktip menjadi reflektip dan (d ). Demonstrating the knowledge.
Soal : dari pernyataan tersebut yang tidak sesuai adalah :
A. (a) dan (b) B. (a)
dan (d) C. (d) D. (c)
1. Menggunakan media dan
menggunakan teknik presentasi merupakan salah satu cara mengelola pembelajaran
akan :
(a) menarik perhatian
siswa. (b). Membosankan siswa
(c). Meningkatkan daya
serap siswa (d). Merepotkan dan membebani guru
Soal : Dari pernyataan
tersebut yang benar adalah :
A. (a) dan (b) B. (a)
dan (c) C. (b) dan (d) D. (c)dan (d)
3, Sumber belajar adalah
segala macam sumber yang memungkinkan siswa belajar. Ada bermacam-macam sumber
belajar yaitu yang benar terdiri dari :
A. pesan dan orang B.
Alat dan teknik
C. Lingkungan, D. pesan
dan bahan
( boleh pilih lebih dari
satu jawaban).
4. Segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan minat siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses
belajar siswa.
Soal : Pernyataan
tersebut merupakan konsep media yang dinyatakan oleh:
A. Palmer, W B. Gagne C.
Bright D. AECT
5. Yang termasuk bahan
pertimbangan dalam memilih media dalam pembelajaran diantaranya adalah :
A. harus membuat
terlebih dulu
B. Kesesuaian dengan
tujuan dan bahan
C. harganya mahal dan
modern
D. Pengoperasiannya
sulit.
6. Manakah media yang
paling baik untuk mengajar
A. VCD B. Flip Chart D.
OHT E. LCD
7. Fungsi GBIPM (Garis
Besar Isi Program Media) adalah
A. instrument
perencanaan media dalam pembelajaran
B. Instrument
Pengembangan Media dalam pembelajaran
C. Instrument Pemilihan
Media dalam pembelajaran
D. Perencanaan Program
Media dalam pembelajaran
(boleh pilih lebih dari
satu jawaban)
8. Media dalam
pembelajaran harus didisain dengan baik dan menarik. Hal ini karena media bukan
semata-mata berperan sebagai perantara atau pengantar pesan, tetapi media juga
perperan sebagai Perangsang:
A. Pikiran dan Perasaan
B. Perhatian dan minat
C. Menarik perhatian D.
Menarik Minat.
(boleh memilih dua opsi
yang tepat)
9. Pilihlah jenis huruf
berikut ini yang menurut saudara paling tepat untuk membuat media OHT/Slide
presentasi
A. Media sangat besar
peranannya dalam proses pembelajaran
B. Media sangat besar
peranannya dalam proses pembelajaran
C. Media sangat
besar peranannya dalam proses pembelajaran
D. Media sangat besar
peranannya dalam proses pembelajaran
1. Aspek-aspek yang
menentukan karakteristik karya tulis, kecuali
a. sikap penulis
b. panjang tulisan
c. struktur sajian
d. penggunaan bahasa
2. Struktur sajian suatu
karya tulis ilmiah pada umumnya terdiri dari
a. pendahuluan, inti
(pokok pembahasan), dan penutup
b. pendahuluan, abstrak,
bagian inti, simpulan
c. abstrak, pendahuluan,
bagian inti, simpulan
d. abstrak, bagian inti,
penutup
3. Bagian penutup suatu
karya tulis ilmia, pada umumnya menyajikan
tentang
a. rangkuman dan tindak
lanjut
b. simpulan umum
c. rekomendasi penulis
d. simpulan dan saran
4. Substansi suatu karya
tulis ilmiah dapat mencakup berbagai hal, dari yang paling sederhana sampai
dengan yang paling kompleks. Berikut ini adalah contoh-contoh subatansi karya
tulis ilmiah, kecuali
a. pendidikan
b. kebudayaan
c. pemulung
d. informatika
5. Dalam karya tulis
ilmiah, penulis bersikap netral, obyektif, dan tidak memihak. Sikap ini sesuai
dengan hakikat karya tulis ilmiah yang merupakan kajian berdasarkan pada,
kecuali
a. fakta atau kenyataan
b. argumentasi
c. teori yang diakui
kebenarannya
d. data empirik/hasil
penelitian
6. Keobyektifan penulis
karya tulis ilmiahdicerminkan dalam gaya bahasa yang bersifat
a. resmi
b. baku
c. impersonal
d. personal
7. Komponen suatu karya
tulis ilmiah bervariasi sesuai dengan jenis karya tulis ilmiah dan tujuan
penulisannya, namun pada umumnya semua karya tulis ilmiah mempunayi komponen
a. daftar pustaka
b. abstrak
c. daftar tabel
d. lampiran
8. Berikut ini adalah
ciri-ciri suatu karya tulis ilmiah, kecuali
a. memaparkan bidang
ilmu tertentu
b. merupakan deskripsi
suatu kejadian
c. menggunakan gaya
bahasa resmi
d. disajikan secara
sistematis
9. Di antara judul
berikut, yang manakah yang paling sesuai untuk judul karya tulis ilmiah?
a. senjata makan tuan
b. kumbang cantik
pengisap madu
c. pengaruh gizi pada
pertumbuhan anak
d. pengaruh obat bius
yang menghebohkan
10 Untuk membedakan
karya tulis ilmiah dan karya tulis bukan ilmiah, seseorang dapat mengkaji
berbagai aspek tulisan. Salah satu aspek yang dapat digunakan sebagai pembeda
adalah
a. sistematika tulisan
b. panjang tulisan
c. ragam bahasa yang
digunakan
d. pengarang
1. Artikel dapat
dikelompokkan menjadi
a. artikel laporan dan
artikel rujukan
b. artikel konseptual
dan artikel teoritis
c. artikel hasil
telaahan dan artikel teoritis
d. artikel hasil laporan
dan artikel hasil telaahan
2. Dari sudut ide, salah
satu dari empat faktor yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan
ilmiah yang berkualitas tinggi adalah
a. kelayakan ide untuk
dipublikasikan
b. wacana tentang ide
yang sedang berkembang
c. kesiapan ide untuk
didiskusikan
d. persamaan persepsi
para ahli di bidang yang sama
3. Tulisan analisis
konseptual terdiri dari
a. judul, abstrak, data,
pembahasan, dan referensi
b. judul, abstrak,
pendahuluan, diskusi, referensi
c. judul pendahuluan,
diskusi, kesimpulan referensi
d. judul, pendahuluan,
temuan, pembahasan, referensi
4. Dalam suatu artikel
konseptual, bagaimana teori/konsep yang ditawarkan dapat berkontribusi dalam
peta pengetahuan dimuat pada bagian
a. abstrak
b. pendahuluan
c. diskusi
d. referensi
5. Referensi memuat
semua rujukan yang
a. pernah dibaca penulis
b. perlu dibaca pembaca
c. dimuat dalam badan
tulisan
d. diperlukan dalam
pengembangan tulisan
6. Salah satu dari tiga
pertanyaan yang harus dijawab di bagian pendahuluan adalah berikut ini
a. apa inti teori/konsep
yang dibahas?
b. mengapa konsep itu
dibahas?
c. Apa kesimpulan yang
dapat ditarik?
d. Apa tindak lanjut
yang perlu dilakukan?
7. Salah satu hal yang
harus dihindari pada saat menulis hasil penelitian adalah
a. menjelaskan
partisipan
b. menulis masalah yang
sudah pernah dibahas
c. memecah satu
penelitian menjadi beberapa artikel
d. melaporkan korelasi
yang dibahas dalam penelitian
8. Pemilihan penggunaan
kata dan kalimat yang tidak provokatif dalam laporan atau artikel merupakan
salah satu contoh upaya untuk menjaga kualitasdari aspek
a. panjang tulisan
b. nada tulisan
c. gaya tulisan
d. bahasa tulisan
9. Rekomendasi untuk
judul adalah
a. 8-10 kata
b. 10-12 kata
c. 12-15 kata
d. 15-30 kata
10. Dalam suatu laporan
atau artikel hasil penelitian, kontribusi penelitian dapat dilihat di bagian
a. pendahuluan
b. metode
c. hasil
d. diskusi
1. Jelaskan
beberapa inovasi dalam bidang pendidikan yang bapak/ibu ketahui, apa kelemahan
dan keunggulannya.
2. Jelaskan
dampak perkembangan Ipteks pada inovasi bidang pendidikan dan inovasi di bidang
pembelajaran.
3. Buat
RPP ringkas untuk mata pelajaran tertentu menggunakan satu atau lebih model
pembelajaran inovatif yang bapak/ibu anggap sesuai dengan mapel tersebut.
4. Dalam
praktik pembelajaran, paling banyak dipergunakan teknik penilaian tertulis.
Setujukah anda atas pernyataan tersebut ? Mengapa demikian ?
5. Adakah
teknik penilaian yang dapatdipergunakan untuk menilai berbagai kompetensi ?
Berikan alasannya !
6. Berikan
alasan! Mengapa Teknik Penilaian Tertulis, khususnya alat penilaian tes pilihan
ganda kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian pembelajaran yang otentik
dan berkesinambungan ?
7. Apa
alasannya PTK selalu dirancang dalam bentuk tahapan siklus yang berulang-ulang
?
8. Apa
hakekat utama dari penelitian tindakan kelas tersebut ?
9. Jelaskan
makna dan fungsi dilakukannya PTK oleh seorang guru ?
10. Kenapa
PTK tidak tepat dilakukan oleh orang lain ?
11. Apa
tujuan dan manfaatnya jika dalam penelitian tindakan kelas dilakukan secara
kolaboratif dengan pihak lain (dosen LPTK) ?
12. Prinsip-prinsip
apa aja yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan sebuah PTK ?
13. Faedah
apa yang dapat dipetik dengan model penelitian yang bersifat siklus dan
reflketif ?
14. Jelaskan
ciri-ciri yang dimiliki oleh PTK ?
15. Sebutkan
langkah-langkah pokok dalam menentukan sebuah tema PTK !
16. Apakah
semua masalah dalam pembelajaran dapat diteliti dengan dengan PTK, berikan
alasan anda !
17. Kenapa
PTK senantiasa diharuskan bersumber dari guru kelas ?
18. Sebutkan
garis besar struktur dari sebuah proposal PTK !
19. Pertimbangan-pertimbangan
apa saja yang harus diperhitungkan dalam PTK?
20. Setelah
membaca uraian di atas, coba bapak dan ibu simpulkan bagaimana caranya mengenal
karakteristik karya tulis ilmiah. Jelaskan mengapa bapak dan ibu menyimpulkan
seperti itu?
21. Sebutkan
aspek-aspek yang dapat menggambarkan karakteristik suatu karya tulis ilmiahdan
berikan penjelasan singkat untuk setiap aspek. Berdasarkan uraian itu, coba
simpulkan karakteristik karya tulis ilmiah!
22. Secara
umum, struktur sajian suatu karya tulis ilmiah terdiri dari bagian awal, inti,
dan bagian penutup. Coba jelaskan deskripsi masing-masing bagian dan apa
bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah?
23. Jelaskan
mengapa abstrak merupakan bagian terpenting dalam laporan dan artikel
penelitian
24. Sebut dan
jelaskan perbedaan karya tulis ilmiah hasil pemikian dan hasil penelitian!
25. Carilah
salah satu artikel hasil penelitian, telaah unsur-unsur yang terdapat pada
artikel itu!
Sumber : Buku Materi
PLPG, UNNES 2008
Kompetensi Inti Guru /
Kompetensi Guru Mapel Kimia
2. Menguasai teori
belajar dan prinsip--‐prinsip pembelajaran yang mendidik
2.1 Memahami berbagai
teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik terkait dengan
mata pelajaran yang diampu.
2.2 Menerapkan berbagai
pendekatan, strategi, metode, dan Teknik pembelajaran yang mendidik secara
kreatif dalam mata pelajaran yang diampu
3. Mengembangkan
Kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
Indikator Esensial
2.1 1.
Memahami berbagai Teori belajar dan prinsip‐prinsip pembelajaran
kimia di SMA/MA
2.1.2. Menjelaskan
sintak model pembelajaran Jigsaw
2.2.1. Menerapkan
pendekatan, strategi, metode, dan teknik, pembelajaran kimia di
SMA/MA
3.1 Memahami
prinsip--‐prinsip pengembangan kurikulum.
Materi Pendukung
Teori Belajar
Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi
individu dengan lingkungan. Individu dapat dikatakan telah mengalami proses
belajar, meskipun pada dirinya hanya ada perubahan dalam kecendrungan perilaku
(De Cecco & Crawford, 1977 dalam Ali, 2000: 14). Perubahan perilaku
tersebut mencakup pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, dan sebagainya
yang dapat maupun tidak dapat diamati . Perilaku yang dapat diamati disebut
penampilan (behavioral performance) sedangkan yang tidak dapat
diamati disebut kecendrungan perilaku (behavioral tendency).
Gagne (1977) seperti yang dikutip Miarso (2004), berpendapat bahwa belajar
merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap pribadi (hasil)
yang merupakan hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa
eksternal di lingkungan pribadi yang bersangkutan (kondisi). Agar kondisi
eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan peristiwa
pembelajaran (metode atau perlakuan).
Belajar merupakan kegiatan aktif pebelajar dalam membangun makna atau
pemahaman, sehingga diperlukan dorongan kepada pebelajar dalam membangun
gagasan (Depdiknas, 2002). Oleh karena itu diperlukan penciptaan lingkungan
yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab pebelajar untuk belajar sepanjang
hayat.
Proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks, dimana melibatkan
setiap kata, pikiran, tindakan, dan juga asosiasi. Lozanov (1978), mengatakan
bahwa sampai sejauh mana seorang guru mampu mengubah lingkungan, presentasi,
dan rancangan pengajarannya, maka sejauh itu pula proses belajar mengajar
berlangsung (DePorter, B., 2002: 3).
Ada perbedaan yang prinsip antara teori belajar dengan teori pembelajaran.
Teori belajar adalah deskriptif, karena tujuan utamanya memeriksa proses belajar.
Sedangkan teori pembelajaran adalah preskriptif, karena tujuan utamanya
menetapkan metode pembelajaran yang optimal (Bruner dalam Degeng, 1989 dalam
Budiningsih, 2005: 11).
Teori pembelajaran adalah goal oriented, artinya, teori
pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai tujuan (Reigeluth, 1983; Degeng, 1990
dalam Budiningsih, 2005: 12). Oleh karena itu, variabel yang diamati dalam
teori pembelajaran adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan.
Teori belajar dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu teori sebelum
abad ke-20 dan teori belajar abad ke-20. Yang termasuk teori belajar sebelum
abad ke-20, yaitu teori disiplin mental, teori pengembangan alamiah,
dan teori apersepsi. Teori belajar sebelum abad ke-20 dikembangkan
berdasarkan pemikiran filosofis atau spekulatif, tanpa dilandasi eksperimen.
Sedangkan teori belajar abad ke-20, dibagi menjadi dua macam, yaitu teori
belajar perilaku (behavioristik) dan teori belajarGestalt-field.
Teori belajar perilaku (behavioristik), berlandaskan kepada stimulus-respons
sedangkan teori belajar Gestalt-field, berlandaskan kepada segi kognitif (Ali,
2000: 20).
Teori belajar Gestalt-field (teori belajar kognitif), meliputiteori
belajar bermakna oleh Ausubel, teori belajar pemahaman konsep oleh Jerome
Bruner, teori Webteaching oleh Norman, teori Hirarki belajar oleh Gagne, dan
teori perkembangan oleh Piaget.
Teori Piaget biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori
perkembangan kognitif. Teori belajar Piaget berkenaan dengan kesiapan
anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari
lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud
dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Hal
ini menyebabkan teori Piaget sangat berkaitan dengan teori belajar
konstruktivistik (Ruseffendi, 1988 dalam Hamzah, 2001).
Prinsip-Prinsip Belajar
Dan Pembelajaran
Menurut
Rothwal (1961) terdapat 10 (sepuluh) prinsip-prinsip dalam belajar dan
pembelajaran, yaitu:
1. Prinsip Kesiapan
(Readiness)
Kesiapan atau readiness ialah kondisi individu yang memungkinkan
ia dapat belajar. Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu
tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang
termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar
belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan
faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
2. Prinsip Motivasi
(Motivation)
Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan,
mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak
selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa
ingin tahu ini seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan
yang sama untuk semua anak.
3. Prinsip Persepsi
Persepsi adalah interpretasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu
melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini
mempengaruhi perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami
murid-muridnya lebih baik bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang
melihat suatu situasi tertentu.
4. Prinsip Tujuan
Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang.
5. Prinsip
Perbedaan Individual
Proses pengajaran seyogianya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam
kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar yang
setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkatan sasaran
akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Karena itu seorang guru perlu
memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan
menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek
tersebut.
6. Prinsip Transfer
dan Retensi
Apa pun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan
dalam situasi yang lain. Proses tersebut dikenal dengan proses transfer,
kemampuan seseorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi.
Bahan-bahan yang dipelajari dan diserap dapat digunakan oleh para pelajar dalam
situasi baru.
7. Prinsip Belajar
Kognitif
Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep,
penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya
membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan
aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif. Proses belajar
itu dapat terjadi pada berbagai tingkat kesukaran dan menuntut berbagai
aktivitas mental.
8. Prinsip Belajar
Afektif
Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Dalam
banyak hal pelajar mungkin tidak menyadari belajar afektif. Sesungguhnya proses
belajar afektif meliputi dasar yang asli untuk dan merupakan bentuk dari
sikap, emosi dorongan, minat dan sikap individu.
9. Proses Belajar
Psikomotor
Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia mampu
mengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental
dan fisik.
10. Prinsip
Evaluasi
Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji
kemajuan dalam pencapaian tujuan. Penilaian individu terhadap proses belajarnya
dipengaruhi oleh kebebasan untuk menilai. Evaluasi mencakup kesadaran individu
mengenai penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang
berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya
dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai
pengalamannya.
Referensi :
Rothwell, A.B., Learning Principles, dalam Clark L.H. Strategies and Tactics in secondary School Teaching: A Book of Readings, Toronto: the Mac Millan, Co., 1968.
Rothwell, A.B., Learning Principles, dalam Clark L.H. Strategies and Tactics in secondary School Teaching: A Book of Readings, Toronto: the Mac Millan, Co., 1968.
Pembelajaran kooperatif
Tipe Jigsaw
Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya
struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Dalam proses
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja
sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif
adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai
keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh
Aronson dkk. Langkah-langkah dalam penerapan jigsaw adalah sebagai berikut.
a. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa
kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 - 6 siswa dengan kemampuan yang
berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah serta jika
mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam
kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan
dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam
tipe jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi
pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar
bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam
kelompok ahli siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama,
serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika
kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok
jigsaw (gigi gergaji).
b. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok
ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing
kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan
hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi
pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
c. Guru memberikan kuis untuk siswa secara
individual.
d. Guru memberikan penghargaan pada kelompok
melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar
individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
e. Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi
menjadi beberapa bagian materi pembelajaran
f. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan
jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi
materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
(Sumber: widyantin.
2006. Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Kooperatif.
Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan Dan Penataran
Guru Matematika
Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan
Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan
nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,
satuan pendidikan dan peserta didik.
KTSP dikembangkan sesuai
dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor
Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk
pendidikan menengah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan
disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL
serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP.
KTSP dikembangkan berdasarkan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa
peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan
kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung
pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan
dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta
tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran
berpusat pada peserta didik.
2. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman
karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan,
serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku,
budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi
substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri
secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna
dan tepat antar substansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh
karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta
didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni.
4.
Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan
melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi
pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan
kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu,
pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan sosial, keterampilan
akademik, dan keterampilan vokasional.
5.
Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi
kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang
direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang
pendidikan.
6.
Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan,
pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal,
nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan
lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7.
Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan
kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan daerah harus saling mengisi
dan memberdayakan sejalan dengan Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
E. Acuan Operasional Penyusunan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan
KTSP disusun dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
Keimanan dan ketakwaan
serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara
utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat
menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
2. Peningkatan potensi,
kecerdasan, dan minat sesuai dengantingkat perkembangan dan kemampuan peserta
didik
Pendidikan merupakan proses sistematik untuk
meningkatkan martabat manusia secara holistik yang memungkinkan potensi diri
(afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara optimal. Sejalan dengan
itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat
perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan
kinestetik peserta didik.
3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan
lingkungan
Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan
keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan
sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh
karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan
lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah.
4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
Dalam era otonomi dan desentralisasi untuk mewujudkan
pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperhatikan keragaman dan
mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional.
Untuk itu, keduanya harus ditampung secara berimbang dan saling mengisi.
5. Tuntutan dunia kerja
Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh
kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai
kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu
memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal
ini sangat penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta
didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang
membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEKS sangat berperan sebagai
penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi
dan penyesuaian perkembangan IPTEKS sehingga tetap relevan dan kontekstual
dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala
dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni.
7. Agama
Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung
peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia dengan tetap memelihara toleransi
dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata
pelajaran harus ikut mendukung peningkatan iman, taqwa dan akhlak mulia.
8. Dinamika perkembangan global
Pendidikan harus menciptakan kemandirian, baik pada
individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan oleh pasar
bebas. Pergaulan antar bangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang
mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan
dengan suku dan bangsa lain.
9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Pendidikan diarahkan untuk membangun karakter dan
wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu,
kurikulum harus mendorong berkembangnya wawasan dan sikap kebangsaan serta
persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI.
10. Kondisi sosial budaya
masyarakat setempat
Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih
dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain.
11. Kesetaraan Jender
Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya
pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan jender.
12. Karakteristik satuan
pendidikan
Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi,
tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.
(Sumber: BSNP. 2006. Panduan Penyusunan
KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah)
Kompetensi Inti Guru dan
Kompetensi Guru Mata Pelajaran Kimia
4. Menyelenggarakan
pembelajaran yang mendidik
4.1 Memahami prinsip-prinsip
perancangan pembelajaran yang mendidik.
4.2 Mengembangkan
komponen-komponen rancangan pembelajaran.
4.3 Menyusun rancangan
pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, laboratorium,
maupun lapangan.
4.4 Melaksanakan
pembelajaran yang mendidik di kelas, di laboratorium, dan di lapangan dengan
memperhatikan standar keamanan yang dipersyaratkan.
4.5 Menggunakan media
pembelajaran dan sumber belajar yang relevan dengan karakteristik peserta didik
dan mata pelajaran yang diampu untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh.
4.6 Mengambil keputusan
transaksional dalam pembelajaran yang diampu sesuai dengan situasi yang
berkembang.
Indikator Esensial
4.1.1.Memahami
prinsip-prinsip pengembangan RPP
4.1.2. Menjelaskan
prinsip-prinsip Pengembangan RPP
4.2.1. Memahami
komponen-komponen dalam RPP.
4.2.2. Menjelaskan
Komponen-komponen RPP yang sesuai dengan EEK dan berkarakter
4.3.1. Menyusun RPP
untuk kegiatan di dalam kelas dan di laboratorium.
4.4.1 Melaksanakan
pembelajaran sesuai RPP yang telah Dikembangkan
4.5.1. Menggunakan media
pembelajaran dan sumber belajar yang relevan dengan pelajaran kimia yang
diajarkan.
4.5.2. Mennyusun media
pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran
4.6.1. Mengambil
keputusan transaksional dalam pembelajaran kimia sesuai situasi yang
berkembang.
Prinsip Pengembangan RPP
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi
ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan
prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi
dasar. RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta
didik dalam upaya mencapai KD.
Rencana pelaksanaan pembelajaran memuat identitas mata pelajaran, standar
kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan
pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.
Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, merupakan kegiatan
awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan membangkitkan motivasi
dan memfokuskan perhatian peserta didik agar siap mengikuti proses
pembelajaran.
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisifatif aktif serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kegiatan inti dilakukan melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
Ketiga proses tersebut dirancang secara terpadu dalam uraian langkah kegiatan
inti, jadi tidak secara khusus terpilah-pilah dengan rincian kegiatannya.
Kegiatan penutup merefleksikan kegiatan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan,
penilaian, refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut berupa PT dan atau KMTT.
(Permendiknas No. 41 Tahun 2007).
Aktivitas guru dalam kegiatan eksplorasi, meliputi:
a. melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang
topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang
jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
b. menggunakan beragam model pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber
belajar;
c. memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik dan antara
peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
d. melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan
pembelajaran; dan
e. memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio,
atau lapangan.
Aktivitas guru dalam kegiatan elaborasi, meliputi:
a. membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui
tugastugas tertentu yang bermakna;
b. memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan
lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
c. memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah,
dan bertindak tanpa rasa takut;
d. memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan
kolaboratif;
e. memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan
prestasi belajar;
f. menfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan
baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
g. memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan variasi; kerja individual
maupun kelompok;
h. memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta
produk yang dihasilkan;
i. memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan
kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
Aktivitas guru dalam kegiatan konfirmasi, meliputi:
a. memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,
tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik;
b. memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta
didik melalui berbagai sumber;
c. memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh
pengalaman belajar yang telah dilakukan;
d. memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna
dalam mencapai kompetensi dasar, sehingga guru diharapkan:
1) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan
peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku
dan benar;
2) membantu menyelesaikan masalah;
3) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil
eksplorasi;
4) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
5) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum
berpartisipasi aktif.
Komponen RPP meliputi:
a. Identitas Mata
Pelajaran,
b. Alokasi Waktu,
c. Standar Kompetensi,
d. Kompetensi Dasar
e. Indikator Pencapaian,
f. Tujuan Pembelajaran,
g. Materi Ajar,
h. Metode Pembelajaran,
i. Kegiatan
Pembelajaran,
j. Penilaian Hasil
Belajar, dan
k. Sumber Belajar;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar