Saya
dilahirkan bukan berasal dari lingkungan keluarga pendidik, pada awalnya tidak
ada rencana ataupun keinginan saya menjadi seorang guru, sejak kecil saya ingin
sekali bekerja di perusahaan, itulah sebabnya saya memilih melanjutkan
di SMK, setelah lulus saya bekerja di
sebuah perusahaan milik Jepang di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sebagai
karyawati pada
Production Planning and Inventory Control (PPIC). Setelah satu tahun saya
bekerja disana, saya merasa bukan
menjadi karyawati perusahaan yang sesuai dengan hati nurani saya, akhirnya saya
mengundurkan diri dari perusahaan dan melanjutkan
kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sebuah Universitas Negeri yang notabene
merupakan universitas
pencetak para calon pendidik.
Selama menjalani pendidikan di UPI saya mulai mencitai dunia pendidikan. Menurut saya dunia pendidikan
begitu menarik, saling berbagi
ilmu, saling berbagi pengalaman, dan
terjadi interaksi antara dua sisi yaitu seorang pendidik dan seorang pelajar.
Dalam
satu kesempatan, setelah saya lulus kuliah, saya diterima menjadi pendidik
anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia.
Saat ini saya sudah hidup bersama anak-anak ladang di Sabah sekitar 3,5
tahun lamanya untuk
mengajar anak-anak Indonesia, saya
pun semakin menyayangi murid
saya. Saya merasa betapa pentingnya mengamalkan ilmu yang diperoleh dari bangku
kuliah, khususnya dengan mengajarkan ilmu tersebut kepada anak-anak Indonesia yang ada di Malaysia, sehingga
siswa tersebut bangga terhadap bangsa
Indonesia yang merupakan tanah air mereka. Dan pada akhirnya saya berharap
anak-anak ladang ini tidak tertinggal
pendidikannya, mereka dapat mensejajarkan diri dengan siswa lain yang ada di tanah
air, karena keberadaan saya disini adalah untuk mengabdi,
mendidik putra-putri Indonesia, memberantas keterpurukan pada bidang
pendidikan.
Terkadang
perasaan letih dan capek mulai mendera saya,
namun hari-hari yang terukir dalam keringat aktivitas mengajar itu terkadang saya lupakan ketika melihat
senyuman mereka, dan semangatnya yang tidak pernah mati. Hal inilah yang memacu saya untuk memberikan yang terbaik
kepada mereka, menjadi motivasi saya untuk terus
mendidik, agar mereka menjadi siswa
yang bebas dari kebutaaksaraan.
Mudah-mudahan dalam masa pengabdian
ini, saya dapat mewujudkan mimpi untuk memberikan yang terbaik bagi anak didik saya di Sabah ini, agar mereka menjadi anak yang tidak buta
huruf, tidak menjadi beban negara saat mereka kembali ke tanah air, dan mereka bisa mengamalkan ilmunya
bagi diri sendiri maupun untuk kepentingan khalayak nanti. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar