1.
Hubungan
antara siklus produksi dengan siklus akuntansi biaya

2.
Elemen-elemen
biaya produksi
Biaya produksi dalam siklus produksi
terdiri dari elemen-elemen diantara nya adalah:
·
Biaya
Bahan Baku Langsung
Yaitu bahan yang ikut menjadi
produk dan secara mudah dapat diukur. Jika barang tersebut sukar diukur, maka
dimasukkan sebagai biaya tidak langsung. Misalnya, pada perubahan meubel
(perabotan), kayu yang dipergunakan dimasukkan kedalam bahan langsung tetapi
paku dan lem yang dipergunakan termasuk juga bahan langsung, tetapi untuk
memudahkan perhitungan sering diperlakukan sebagai bahan tidak langsung (Biaya
Overhead Pabrik).
·
Biaya
Tenaga Kerja Langsung
Biaya ini sering juga disebut
Upah langsung, yaitu balas jasa yang dibayar kepada pekerja yang dihitung atas
pekerjaan yang dihasilkan (harian, jam-jam an) atau menurut banyaknya yang
dihasilkan. Apabila pekerja digaji mingguan atau bulanan dengan jumlah yang
tetap tanpa memperhatikan jam/hari pekerja tersebut masuk dan berapa hasil
pekerjaan yang dibuat, maka balas jasa ini dimasukkan gaji tenaga kerja tidak
langsung (biaya overhead pabrik). Misalnya, tukang perabot diatas dibayar
menurut jam/hari ia bekerja menurut banyaknya meja/kursi yang selesai ia buat,
maka upahya termasuk upah langsung. Apabila tukang itu dibayar tetap, tanpa
memperhatikan banyaknya jam/hari kerja dan hasil pekerjaannya, maka upahnya
termasuk biaya tenaga kerja tidak langsung (Biaya Overhead Pabrik)
·
Biaya
Overhead Pabrik
Yaitu biaya produksi yang tidak
termasuk biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Misalnya:
penyusutan mesin pabrik, penyusutan gedung pabrik, biaya listrik, gaji direktur
produksi, sewa ruangan, minyak pelumas mesin, biaya-biaya lain seluruhnya
dibagian produksi, dan sebagainya.
Selain biaya-biaya diatas, ada
juga elemen biaya produksi lainnya yakni:
a.
Barang
Dalam Proses
Yaitu barang-barang masih dalam proses dan memerlukan
tambahan bahan, upah dan overhead pabrik untuk menjadi barang selesai.
Biaya produksi yang benar-benar
siap/jadi selama periode itu dihitung dengan cara:
Persediaan
awal barang dalam proses Rp
xxx
Biaya
produksi yang dikeluarkan untuk periode itu Rp
xxx +
Rp
xxx
Persediaan
akhir barang dalam proses Rp
xxx -
Biaya produksi yang benar-benar
siap Rp
xxx
b.
Barang
Jadi (selesai)
Yaitu keseluruhan biaya produksi
dari seluruh barang-barang yang telah siap tetapi belum lagi dijual.
Cara menghitungnya adalah:
Persediaan
awal barang jadi Rp
xxx
Biaya
produksi yang benar-benar siap periode itu Rp
xxx +
Persediaan
barang jadi Rp
xxx
Persediaan
akhir barang jadi Rp
xxx -
Harga pokok penjualan Rp
xxx
Pencatatan didalam neraca untuk setiap macam persediaan
bahan baku, Barang dalam proses dan barang jadi (selesai) adalah nilai akhir
dari setiap macam persediaan tersebut dan dicatat sebagai harta lancar.
3. Sisa bahan, produk rusak, dan produk cacat
·
Sisa Bahan
Merupakan bahan
yang tidak terpakai (tidak menjadi bagian dari produk) dalam proses produksi
dan tidak dapat dipakai dalam proses produksi berikutnya (telah rusak) tetapi
masih mempunyai harga jual.
Pencatatan terhadap
harga jual sisa bahan dilakukan sebagai berikut:
§
Apabila harga jual tersebut rendah, maka
pencatatan harga dilakukan pada saat penjualan
§
Apabila harga jual besar jumlahnya, maka
pencatatan dilakukan pada saat sisa bahan tersebut diserahkan ke gudang.
·
Produk Rusak (Spoiled Goods)
Merupakan produk yang tidak
memenuhi kualitas yang seharusnya dan tidak dapat diperbaiki. Perlakuan
terhadap produk rusak adalah sebagai berikut:
§
Apabila produk rusak disebabkan spesifikasi
sesuatu pesanan, maka harga pokok produk rusak dibebankan ke pesanan tempat
terjadinya produk rusak tersebut.
§
Apabila terjadinya produk rusak dianggap
merupakan hal yang normal, maka kerugian akibat produk rusak dibebankan kepada
semua produk dengan memperhitungkan ke dalam tarip BOP dimana terdapat kerugian
akibat produk rusak tersebut.
·
Produk cacat (defective goods)
Produk cacat ialah
Produk yang tidak memenuhi kualitas
yang seharusnya, tetapi masih dapat
diperbaiki dengan pengerjaan kembali (rework).
Biaya yang timbul akibat pengejaan kembali (rework cost) pencatatannya
sama halnya seperti dalam produk rusak yaitu:
§
Apabila timbulnya produk cacat akibat
spesifikasi pesanan, maka biaya pengerjaan kembali dibebankan ke pesanan yang
bersangkutan.
§
Apabila produk cacat merupakan hal biasa
terjadi, maka biaya pengerjaan kembali, dibebankan ke tarip BOP dengan demikian
dipikul oleh semua produk (pesanan)
Latihan
Soal Essay:
1.
Bagaimana hubungan antara siklus produksi dengan
siklus akuntansi biaya?
2. Apa
saja biaya yang termasuk elemen biaya produksi?
3. Bagaimana
cara perhitungan dari masing-masing elemen biaya produksi?
4. Jelaskan,
apa yang dimaksud dengan sisa bahan, produk rusak dan produk cacat?
Apa yang menyebabkan
terjadinya sisa bahan, produk rusak dan produk cacat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar